GameStop Jual PS5 Pro Bekas Rp22 Juta, Kelangkaan Cip Memicu Harga Tak Wajar
Baca dalam 60 detik
- GameStop membanderol PS5 Pro bekas seharga $1.399,99, sekitar $500 di atas harga resmi, imbas kelangkaan pasokan global.
- Krisis DRAM dan lonjakan permintaan pusat data AI membuat produksi konsol terhambat, dengan kenaikan harga DRAM diprediksi mencapai 400 persen.
- Penjualan perangkat keras gim menyentuh titik terendah dalam 13 tahun, menandakan tekanan struktural pada industri konsol.

Harga PlayStation 5 Pro di pasar sekunder melonjak tak terkendali. GameStop, jaringan ritel gim terbesar di Amerika Serikat, memasang label $1.399,99 untuk unit bekas konsol tersebut—setengah ribu dolar lebih tinggi dari harga eceran yang disarankan (MSRP) dan hampir dua kali lipat harga perkenalan 2024. Angka itu muncul di tengah kelangkaan pasokan global yang dipicu oleh perebutan komponen memori oleh industri kecerdasan buatan.
Fenomena ini bukan sekadar gejolak sesaat. Sejak diluncurkan pada 2024, Sony telah menaikkan harga resmi PS5 Pro sebesar $200 menjadi $899,99. Namun, di lapangan, para pengecer dan calo bergerak lebih agresif. Best Buy menjual konsol yang sama di atas $1.500, sementara Walmart melepas unit open box seharga $1.200. Di eBay, harga lelang rutin menembus $1.100. Praktis, pembeli yang berharap mendapatkan konsol sebelum akhir tahun harus merogoh kocek jauh lebih dalam dari yang tertera di situs resmi Sony.
Akar masalahnya terletak pada pergeseran besar dalam rantai pasok semikonduktor. Pusat data yang melayani beban kerja AI menyerap high-bandwidth memory dalam jumlah masif, sehingga produksi DRAM untuk perangkat konsumen seperti PS5 Pro tersendat. Laporan JP Morgan pada Agustus 2026 memperkirakan harga DRAM akan meroket 400 persen secara global sejak peluncuran PS5 Pro. Tekanan ini tidak akan surut dalam waktu dekat. Publikasi gim Jerman, Playfront, mengutip memo internal Sony dan mitra distribusinya yang menyebut kelangkaan PS5 Pro akan berlanjut "setidaknya hingga awal 2027." Sebagian analis bahkan memproyeksikan krisis RAM baru mereda menjelang 2030.
Sony berupaya meredam gejolak harga di beberapa pasar. Di Jepang, perusahaan menerapkan sistem lotere yang dikaitkan dengan minimum waktu bermain—langkah yang diduga untuk menekan pasar calo yang kian sulit dikendalikan. Namun, tanpa solusi pasokan yang jelas, kebijakan itu hanya bersifat tambal sulam. GameStop sendiri bukan satu-satunya pihak yang meraup untung dari situasi ini. Perusahaan itu menguasai sekitar 10 persen pasar daring dan sempat melayangkan tawaran akuisisi tak diminta senilai $56 miliar terhadap sebuah perusahaan lain awal tahun ini, sinyal bahwa mereka tengah memperkuat posisi di tengah kekacauan pasar.
"Kelangkaan PS5 Pro akan bertahan setidaknya hingga awal 2027," demikian bunyi memo internal Sony dan mitra distribusinya, seperti dilaporkan Playfront.
Dampaknya meluas ke seluruh ekosistem teknologi konsumen. The Economist melaporkan indeks harga konsumen untuk kategori perangkat lunak dan aksesori komputer melonjak 31 persen. PlayStation 5 standar pun naik sekitar $150 atau 30 persen. Kenaikan ini bukan semata inflasi permintaan, melainkan cerminan ketatnya pasokan komponen. Bulan ini, penjualan perangkat keras gim global mencatat level terendah dalam 13 tahun—sebuah pukulan telak bagi industri yang selama pandemi menikmati lonjakan.
Bagi konsumen, pertanyaannya kini bukan lagi soal ketersediaan, melainkan kelayakan. PS5 Pro memang menawarkan peningkatan signifikan: grafis 4K 60 fps, memori 2 TB, GPU yang lebih kuat, dan ray tracing. Fitur andalannya, PlayStation Spectral Super Resolution (PSSR), menggunakan AI untuk meningkatkan kualitas piksel dan kini menjadi pengaturan default. Namun, PSSR hanya berfungsi pada gim berlabel PS5 Pro Enhanced—dan jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Sony bahkan tengah menyiapkan Quick Spectral Super Resolution (QSSR) untuk PS5 standar, yang berpotensi mempersempit jurang performa antara kedua konsol.
Dengan harga yang nyaris dua kali lipat dari saat peluncuran, PS5 Pro di GameStop jelas bukan tawaran menarik. Para reviewer sudah mempertanyakan nilai tambahnya bahkan di harga resmi. Di tengah krisis komponen yang diproyeksikan berlanjut hingga akhir dekade, konsumen Indonesia yang ingin mengimpor konsol ini juga akan menghadapi ongkos kirim dan bea masuk yang membengkak. Pertanyaannya, apakah gelombang AI akan terus menggerus ketersediaan perangkat hiburan rumahan, atau akankah Sony dan para pembuat cip menemukan keseimbangan baru sebelum pasar gim kehilangan lebih banyak pemain?



