JPMorgan Sebut Obligasi Berkualitas Jadi Peluang Langka, Imbal Hasil 6,5% Menanti
Baca dalam 60 detik
- J.P. Morgan Asset Management menilai pasar pendapatan tetap berkualitas tinggi sebagai peluang investasi yang jarang muncul, dengan yield mencapai 6,5%.
- Strategi ini dinilai cocok bagi investor yang khawatir portofolionya terlalu terpapar saham teknologi dan AI.
- Manajer portofolio Priya Misra mengungkapkan pihaknya mulai menambah durasi dan eksposur obligasi korporasi peringkat rendah secara selektif.

J.P. Morgan Asset Management memberikan sinyal positif terhadap pasar pendapatan tetap berkualitas tinggi yang selama ini kurang dilirik investor. Priya Misra, manajer portofolio di perusahaan tersebut, menyebut kondisi saat ini sebagai kesempatan yang hanya muncul sekali dalam satu generasi. Menurutnya, investor dapat mengambil risiko kredit pada perusahaan-perusahaan dengan peringkat tertinggi dan tetap memperoleh imbal hasil sekitar 6,5%.
"Anda bisa mengambil risiko kredit di perusahaan berkualitas tertinggi dan tetap mendapatkan 6,5%. Jadi, Anda tidak perlu turun ke kualitas kredit yang lebih rendah," ujar Misra dalam wawancara dengan CNBC.
Pandangan ini muncul di tengah kekhawatiran sebagian investor terhadap konsentrasi portofolio yang terlalu besar pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Misra menilai paparan terhadap AI saat ini sangat besar, sehingga instrumen pendapatan tetap menawarkan diversifikasi yang lebih seimbang. "Pendapatan tetap memberi Anda serangkaian pengembalian yang terdiversifikasi. Ini bukan hanya perdagangan AI atau teknologi. Ada obligasi pemerintah, ada kredit di luar AI," jelasnya.
Misra mengungkapkan strategi yang dijalankan pihaknya tidak hanya berfokus pada obligasi peringkat investasi. Dalam beberapa waktu terakhir, J.P. Morgan Asset Management mulai menambah eksposur pada obligasi peringkat double-B dan single-B seiring melebarnya spread imbal hasil obligasi berimbal hasil tinggi. "Kami menyukai beberapa obligasi peringkat investasi. Dan sekarang, dalam beberapa hari terakhir, kami mulai menambah durasi, karena kami menduga kita mungkin mendekati akhir dari pergerakan suku bunga," tuturnya.
Meski demikian, Misra mengingatkan pentingnya pendekatan bottom-up dalam memilih obligasi. Ia menekankan investor perlu memeriksa satu per satu obligasi dan sektor untuk memastikan perusahaan tidak memiliki utang berlebihan. Kekhawatirannya terhadap dampak suku bunga tinggi terhadap pasar perumahan menjadi salah satu pertimbangan.
"Anda ingin melihat obligasi demi obligasi dan sektor demi sektor untuk melihat di mana makro berada, dan Anda juga harus melakukan pendekatan bottom-up untuk memastikan perusahaan tidak terlalu banyak berutang." โ Priya Misra, Manajer Portofolio J.P. Morgan Asset Management
Pandangan serupa datang dari Joanna Gallegos, salah satu pendiri BondBloxx. Ia menyarankan investor memanfaatkan imbal hasil yang secara historis menarik di seluruh pasar utang. "Anda benar-benar perlu mempertimbangkan untuk memasukkan beberapa utang korporasi ke dalam portofolio Anda. Sangat menguntungkan bagi investor untuk mulai melihat pendapatan yang kembali ke pendapatan tetap. Ini dapat mengimbangi volatilitas dalam portofolio Anda," kata Gallegos dalam wawancara yang sama.
Gallegos menambahkan fundamental korporasi saat ini sangat kuat dan ekonomi terus tumbuh. Menurutnya, hal tersebut terlewatkan dalam narasi seputar imbal hasil obligasi pemerintah. BondBloxx dikenal melalui dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) pendapatan tetap di sektor-sektor seperti obligasi pemerintah, korporasi, kredit swasta, dan pasar negara berkembang. Hingga penutupan Jumat, salah satu produknya tercatat turun 0,6% sepanjang tahun ini.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini memberikan perspektif alternatif dalam mengelola portofolio. Selama ini, instrumen pendapatan tetap domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi korporasi juga menawarkan imbal hasil menarik, terutama di tengah ketidakpastian global. Diversifikasi ke aset pendapatan tetap, baik domestik maupun global, dapat menjadi strategi untuk mengurangi risiko konsentrasi pada saham teknologi yang sedang naik daun. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko nilai tukar dan likuiditas jika memasuki pasar obligasi global.
Ke depan, pertanyaan utamanya adalah apakah sinyal dari J.P. Morgan ini akan diikuti oleh investor institusi lain. Jika arus dana mulai beralih ke obligasi berkualitas, pasar pendapatan tetap global berpotensi mengalami pergeseran signifikan. Namun, dengan masih tingginya ketidakpastian suku bunga, apakah peluang ini benar-benar akan terwujud dalam waktu dekat?



