7-Eleven Tutup 31 Gerai di India, Sinyal Reset Bisnis atau Kegagalan Ritel Modern?
Baca dalam 60 detik
- Reliance Retail menghentikan operasional seluruh gerai 7-Eleven di India per akhir September, memicu spekulasi masa depan jaringan asal Jepang itu.
- Meski rugi besar, 7-Eleven menegaskan belum angkat kaki dan tengah menjajaki opsi kemitraan baru di pasar berpenduduk terbesar dunia itu.
- Langkah ini menjadi cermin tantangan ritel format kecil di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang kian terhimpit layanan pesan-antar cepat.

Jaringan minimarket global 7-Eleven memutuskan menutup seluruh 31 gerainya di India pada akhir September 2026, setelah model waralaba yang dijalankan bersama Reliance Retail dinilai tidak lagi berkelanjutan. Penutupan ini menandai kegagalan kedua 7-Eleven menancapkan kaki di pasar ritel India, setelah sebelumnya bermitra dengan Future Retail yang berakhir sebelum sempat berkembang.
Reliance Retail, unit usaha milik konglomerat Mukesh Ambani, bertindak sebagai pemegang lisensi utama 7-Eleven di India sejak 2021. Namun, anak perusahaan yang menangani operasional gerai, 7-India Convenience Retail, membukukan kerugian bersih hampir 900 juta rupee (sekitar Rp 170 miliar) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, dengan pendapatan hanya sekitar 920 juta rupee. Angka ini membengkak tajam dari kerugian 52 juta rupee pada 2022, menurut data Tracxn.
Pihak 7-Eleven & i Holdings menyatakan tidak serta-merta meninggalkan India. Juru bicara perusahaan mengatakan mereka masih berambisi melayani konsumen di sana dan sedang menjajaki berbagai opsi untuk memperkuat kehadiran jangka panjang. Namun, mereka enggan mengomentari keputusan bisnis Reliance maupun status perjanjian antara kedua pihak.
Analis menilai penutupan ini bukanlah tanda menyerah, melainkan koreksi strategi. Sohrab Bararia, partner di Grant Thornton Bharat, mengatakan bahwa langkah tersebut lebih mencerminkan peninjauan ulang skema waralaba yang ada, terutama karena beban rugi yang terus meningkat. "Ini bukan berarti 7-Eleven menyerah pada India," ujarnya, seraya menambahkan bahwa perusahaan mungkin beralih ke model kepemilikan langsung seperti yang disiapkan pesaingnya, Lawson.
Lawson, jaringan minimarket Jepang lainnya, dikabarkan berencana membuka lima gerai perdana di Mumbai pada 2027 dan menargetkan 100 gerai pada 2030 melalui anak perusahaan lokal yang akan dibentuk sebelum Februari 2027. Langkah Lawson ini menunjukkan bahwa pasar India tetap menarik, asalkan model bisnisnya disesuaikan.
Tantangan utama ritel format kecil di India, menurut para ahli, adalah menciptakan alasan kuat bagi konsumen untuk datang. Toko besar menawarkan harga lebih murah dan pengalaman belanja yang beragam, sementara minimarket dengan inventaris terbatas sulit bersaing. Di sisi lain, aplikasi pesan-antar bahan makanan dalam 10 menit kian populer karena pilihan lebih luas dan kepraktisan yang disukai warga kota besar.
"Toko format kecil menanggung sewa tinggi dan biaya staf penuh, tetapi penjualan per gerai relatif rendah," kata Bharat Birla, direktur eksekutif Anand Rathi Investment Banking.
Meski pasar minimarket India padat oleh aplikasi pengiriman cepat dan toko kelontong tradisional, analis melihat masih ada celah bagi pemain Jepang untuk menawarkan model yang berbeda dari sekadar grosir. 7-Eleven disebut dapat menempuh jalur serupa Lawson dengan membuka gerai yang dikelola sendiri, sehingga memungkinkan lokalisasi produk dan strategi ekspansi yang lebih terukur.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin. Jaringan minimarket lokal dan regional juga menghadapi tekanan serupa: biaya sewa di kota-kota besar terus naik, sementara layanan pesan-antar daring menggerus kunjungan fisik. Kehadiran 7-Eleven di Indonesia melalui lisensi kepada PT Modern Internasional sempat menjadi fenomena, namun sejak 2017 hak waralaba beralih dan ekspansi melambat. Pelajaran dari India menunjukkan bahwa model waralaba murni tanpa kendali operasional yang kuat rentan terhadap kerugian struktural.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah 7-Eleven akan kembali ke India, melainkan dengan skema apa. Jika Lawson berhasil membuktikan model kepemilikan langsung pada 2027, bukan tidak mungkin 7-Eleven mengikuti jejak serupa. Sebaliknya, jika kegagalan berulang, perusahaan mungkin akan mengalihkan fokus ke pasar yang lebih matang. Yang jelas, penutupan 31 gerai ini menjadi sinyal bahwa kehadiran global tidak lagi cukupโmodel bisnis harus selaras dengan perilaku konsumen setempat.



