Setahun Setelah Kehancuran $19 Miliar, Pasar Kripto Masih Rentan
Baca dalam 60 detik
- Pada 10 Oktober 2025, Bitcoin ambruk dari $122.000 ke $105.000 dalam hitungan menit, memicu likuidasi sekitar $19 miliar di seluruh pasar kripto.
- Meski setahun berlalu, posisi terbuka (open interest) dan produk derivatif berleverage tetap tinggi, sehingga risiko serupa masih membayangi.
- Para analis menilai pelajaran utama dari peristiwa itu adalah pentingnya memahami struktur pasar dan menghindari taruhan berlebihan, terutama di pasar yang didominasi kontrak berjangka perpetual.

JAKARTA โ Tepat setahun lalu, pasar kripto diguncang salah satu aksi jual paling brutal dalam sejarahnya. Pada 10 Oktober 2025, hanya beberapa hari setelah mencetak rekor di atas $126.000, harga Bitcoin tiba-tiba terjun dari sekitar $122.000 ke $105.000, dengan sebagian besar penurunan terjadi hanya dalam hitungan menit. Peristiwa itu memicu gelombang likuidasi senilai kurang lebih $19 miliar di seluruh bursa kripto, meninggalkan banyak trader yang sebelumnya yakin pada tren bullish.
Meski guncangan tersebut sempat merusak kepercayaan, kondisi yang menjadi pemicunya tidak serta-merta hilang. Pasar derivatif, terutama kontrak berjangka perpetual, masih mendominasi aktivitas perdagangan. Bursa pun memiliki insentif finansial yang kuat untuk terus menawarkan produk berleverage. Menurut Mark Connors dari Risk Dimensions, yang pernah memimpin produk posisi hedge fund di Credit Suisse, risiko itu tetap ada. "Posisi sangat penting saat itu, dan juga penting hari ini," ujarnya dalam wawancara.
Menjelang keruntuhan tahun lalu, open interest berada di level tertinggi sepanjang sejarah. Banyak trader menumpuk posisi beli, berharap Bitcoin mengikuti siklus empat tahunan menuju rekor baru. "Orang-orang, termasuk saya, sangat yakin karena ini waktu yang tepat. Kami akan menuju level $250.000 hingga $400.000 berdasarkan siklus sebelumnya," kata Connors. Namun pasar berbalik arah. "Pergerakan itu jelas bukan dari data on-chain. Itu semua derivatif. Jadi Bitcoin kertas kembali hidup dan mengendalikan jangka pendek," tambahnya.
Setahun kemudian, kondisi tersebut belum banyak berubah. Kontrak berjangka perpetual tetap menjadi bagian utama perdagangan kripto. Meski demikian, Connors menilai trader kini lebih siap menghadapi risiko karena data pasar semakin transparan. "Data semakin baik dalam mendefinisikan struktur pasar. Lebih banyak informasi berarti kepastian lebih besar, volatilitas lebih rendah," ujarnya.
Chris Sullivan, salah satu pendiri Hyperion Decimus, menyarankan trader untuk menghindari leverage dan memantau open interest, funding rate, serta sentimen pasar. Menurutnya, indikator-indikator ini membantu mengukur apakah pasar terlalu condong ke satu arah. Sullivan juga menekankan pentingnya kesabaran ketika indikator mencapai ekstrem. Bagi pemegang Bitcoin jangka panjang, ia merekomendasikan untuk membeli aset, memindahkannya dari bursa, dan menyimpannya sendiri daripada menitipkannya di platform perdagangan.
"Masih ada kemungkinan Anda mengalami 10 Oktober lagi. Produk berleverage belum hilang," peringatkan Connors.
Peristiwa tahun lalu juga mengguncang asumsi populer bahwa siklus empat tahunan Bitcoin, yang terkait dengan halving imbalan penambangan, dapat menjadi panduan harga yang andal. "Kita semua, termasuk saya, terjebak. Siklus empat tahun tidak mati; ia telah berubah, dan kita tidak bisa lagi mengandalkannya sebagai sinyal sekuat dulu," kata Connors. Ia kini meyakini faktor ekonomi dan politik mungkin lebih berperan dalam siklus Bitcoin daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan produk investasi institusional belum mampu menggeser pengaruh pasar derivatif terhadap harga jangka pendek.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat penting. Meskipun pasar kripto dalam negeri terus berkembang, dominasi derivatif dan leverage di bursa global dapat memengaruhi volatilitas harga aset digital yang diperdagangkan di dalam negeri. Otoritas seperti Bappebti dan Bank Indonesia perlu terus memperkuat literasi risiko, terutama terkait produk berleverage yang semakin mudah diakses.
Setahun setelah kejadian, Connors melihat satu perbedaan penting: "Saya pikir setahun kemudian, kita belajar lebih memperhatikan struktur pasar." Meski demikian, pasar Bitcoin tetap bertahan. "Pasar memang bengkok, tapi tidak patah." Pertanyaannya kini, apakah pelajaran itu akan cukup untuk mencegah guncangan berikutnya, atau akankah euforia dan leverage kembali mendorong pasar ke tepi jurang?



