Billionaire Afrika Selatan Kuasai Somerset: Ketegangan di Balik Ekspansi Estat Mewah
Baca dalam 60 detik
- Koos Bekker, taipan teknologi Afrika Selatan, mengakuisisi lebih dari 2.700 acre di Somerset melalui perusahaannya, Emily Estate (UK) Limited, yang beroperasi sebagai hotel mewah The Newt.
- Warga lokal memprotes ekspansi properti, penggunaan pestisida, dan praktik bisnis yang dianggap mengubah karakter komunitas, termasuk penamaan stasiun kereta Castle Cary menjadi 'Castle Cary for the Newt'.
- Pihak The Newt membantah tuduhan dan menegaskan komitmen terhadap praktik terbaik serta lapangan kerja bagi 650 warga setempat.

Di sudut pedesaan Somerset yang tenang, sebuah transformasi besar tengah berlangsung. Koos Bekker, miliarder Afrika Selatan dengan kekayaan bersih sekitar £3 miliar dan ketua Naspers, telah mengubah lanskap wilayah Bruton dan Castle Cary melalui pembelian lahan yang luas dan berbagai bisnis lokal. Apa yang awalnya disambut sebagai investasi positif kini memicu perdebatan sengit tentang identitas komunitas, lingkungan, dan batas antara pembangunan dan pelestarian.
Sejak mengakuisisi Hadspen House pada 2013, Bekker melalui Emily Estate (UK) Limited—yang berdagang sebagai The Newt in Somerset—telah mengumpulkan lebih dari 2.700 acre tanah, menurut analisis Guardian. Ekspansinya tidak hanya terbatas pada pertanian dan hotel mewah; ia juga membeli berbagai usaha di jalan utama, dari toko deli hingga salon kecantikan, serta pub-pub tradisional. Langkah ini mengubah wajah ekonomi lokal, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang dominasi satu entitas atas kehidupan desa.
Ketegangan memuncak ketika stasiun kereta Castle Cary secara resmi berganti nama menjadi "Castle Cary for the Newt", langkah yang dianggap beberapa warga sebagai komersialisasi ruang publik. Hugh Thomas, penulis makanan dari Frome, menilai tindakan itu "arogan dan kurang ajar", seraya menambahkan bahwa stasiun tersebut terasa "dikolonisasi" oleh The Newt. Namun, sebagian warga menyambut baik investasi tersebut karena telah mempercantik stasiun yang sebelumnya terbengkalai dan menciptakan lapangan kerja.
Isu lingkungan juga menjadi sorotan. Warga melaporkan peningkatan banjir sejak pembangunan The Newt, dengan insiden terburuk pada Mei 2023 yang menyebabkan banjir bandang di lembah Pitt dan Cam. Dewan lokal menyebutnya "di luar batas yang pernah terlihat dalam ingatan hidup". Pihak hotel mengakui masalah ini dan telah menggali kolam penampung air limpasan. Selain itu, petisi menentang penyemprotan pestisida di lahan pertanian The Newt telah diluncurkan, dengan aktris Gabriella Wilde menyatakan kekecewaannya karena penggunaan bahan kimia berbahaya tidak sesuai dengan citra ramah lingkungan yang diproyeksikan.
"Saya tidak ingin tinggal di tempat yang hanya menjadi estat satu orang," ujar John Sykes, warga setempat, menyoroti kekhawatiran tentang hilangnya lahan pertanian organik dan berkurangnya keanekaragaman hayati.
Pakar rewilding Derek Gow mengkritik penangkaran lima tupai merah di The Newt sebagai tindakan "performatif" yang tidak berkontribusi pada konservasi. Menurutnya, jika tupai tersebut dilepas, mereka akan mati karena squirrelpox. Kritik ini menambah daftar panjang kekhawatiran tentang pendekatan lingkungan yang dianggap lebih bersifat kosmetik daripada substantif.
Meskipun demikian, juru bicara The Newt menegaskan bahwa filosofi perusahaan berlandaskan cinta pada taman, penghormatan pada tanah, dan keinginan berbagi dengan publik. Mereka mempekerjakan berbagai ahli, termasuk agronom, arborist, dan spesialis satwa liar, serta berkomitmen pada komunitas lokal dengan mempekerjakan lebih dari 650 orang dari wilayah sekitar.
Kasus ini mencerminkan dinamika global di mana kekayaan ekstrem bertemu dengan komunitas pedesaan, memunculkan pertanyaan tentang siapa yang berhak menentukan arah pembangunan. Di Indonesia, fenomena serupa dapat ditemukan di kawasan wisata seperti Bali atau Yogyakarta, di mana investasi besar sering kali mengubah tata ruang dan kehidupan sosial. Apakah pembangunan yang digerakkan oleh modal besar selalu membawa manfaat bagi semua pihak, ataukah ia menciptakan ketimpangan baru yang sulit diatasi? Pertanyaan ini akan terus relevan seiring meningkatnya arus investasi asing di sektor properti dan pariwisata.



