Robinhood Chain Kehilangan Momentum: Transaksi Anjlok 42%, Ujian Terbesar Menanti di Desember
Baca dalam 60 detik
- Volume transaksi harian Robinhood Chain merosot tajam dari 10,8 juta menjadi 6,2 juta dalam kurun sebulan, menandai pergeseran dari sekadar koreksi biaya menjadi penurunan aktivitas riil.
- Meski aktivitas melambat, dana yang tersimpan di aplikasi jaringan justru naik menjadi USD1,04 miliar, mengindikasikan pengguna menahan posisi alih-alih menarik modal.
- Perpanjangan subsidi biaya hingga 31 Desember menjadi momentum krusial: jika pengguna enggan membayar sendiri, keberlanjutan ekonomi jaringan Robinhood dipertaruhkan.

Jaringan blockchain milik Robinhood mengalami perlambatan aktivitas yang signifikan sepanjang awal Oktober, dengan rata-rata transaksi harian merosot 42% menjadi 6,2 juta dari periode 10–16 September yang masih mencapai 10,8 juta. Penurunan ini menandai pergeseran penting: jika sebelumnya hanya pendapatan biaya yang tergerus, kini volume perdagangan dan jumlah transaksi ikut terpukul.
Robinhood meluncurkan rantai bloknya pada Juli lalu dengan ambisi besar: menghadirkan perdagangan token, pinjam-meminjam, hingga rencana perdagangan 24 jam untuk aset terikat saham dan dana. Setiap transaksi dikenai biaya jaringan, dan aplikasi di atasnya memungut biaya tambahan. Menurut catatan Bernstein bulan lalu, Robinhood mengantongi sekitar 90% dari biaya jaringan tersebut. Artinya, penurunan transaksi berdampak langsung pada pendapatan yang bisa dikantongi perusahaan.
Yang membedakan situasi kali ini dari September adalah arah pergerakan indikator. Ketika CoinDesk melaporkan pada 19 September bahwa biaya jaringan ambruk 97%, jumlah transaksi masih mendekati puncak dan volume perdagangan mingguan masih tumbuh. Kini, keduanya berbalik arah. Jumlah alamat aktif harian pun turun 31% dari pertengahan September menjadi sekitar 322.000. Meski demikian, angka ini tidak serta-merta mencerminkan jumlah pengguna riil, karena satu orang bisa mengendalikan banyak alamat dan program perdagangan otomatis dapat menghasilkan ribuan transaksi.
Penurunan volume perdagangan spot—yang mencapai USD7,45 miliar, turun 21% dari USD9,46 miliar—tidak diikuti oleh penarikan dana. Deposit di aplikasi pinjam-meminjam dan perdagangan justru naik sekitar 2% menjadi USD1,04 miliar, sementara pasokan stablecoin meningkat menjadi sekitar USD1,10 miliar. Ini menunjukkan bahwa dana tetap parkir di jaringan, hanya saja frekuensi transaksinya menurun. Para trader tampaknya memilih menunggu daripada keluar dari ekosistem.
Di tengah tren penurunan, satu segmen masih mencatat pertumbuhan: perdagangan futures perpetual. Data rolling tujuh hari DefiLlama pada Jumat menunjukkan volume kontrak berjangka ini mencapai USD7,35 miliar, naik 26%. Instrumen ini memungkinkan investor bertaruh pada pergerakan harga tanpa memiliki aset dasarnya, dan menjadi penopang aktivitas di tengah lesunya perdagangan spot.
"Robinhood dan mitranya berupaya menjaga trader tetap aktif. Platform Arcus mulai memberikan poin reward tambahan pada 1 Oktober untuk swap token saham melalui Robinhood Wallet, dan Robinhood memperpanjang promosi bebas biaya yang semula berakhir 29 September."
Langkah tersebut memberi Robinhood waktu kurang dari tiga bulan untuk mengembalikan denyut perdagangan dari USD1 miliar deposit yang ada. Hingga 31 Desember, Robinhood akan menanggung biaya jaringan untuk setiap swap di atas 50 sen yang dilakukan melalui dompetnya. Setelah itu, pengguna harus membayar sendiri. Inilah ujian sesungguhnya: apakah volume perdagangan akan bertahan ketika insentif biaya dicabut, atau justru anjlok lebih dalam.
Bagi pasar kripto global, perlambatan Robinhood Chain menjadi cermin tantangan yang lebih luas: membangun likuiditas berkelanjutan di jaringan baru tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur dan subsidi. Di Indonesia, di mana adopsi aset kripto terus tumbuh namun masih terkonsentrasi pada bursa terpusat, dinamika ini relevan sebagai pelajaran. Regulator dan pelaku industri dalam negeri perlu mencermati bahwa ketergantungan pada insentif jangka pendek dapat menciptakan lonjakan aktivitas semu yang rapuh ketika biaya riil muncul.
Ke depan, pertanyaan krusialnya bukan lagi seberapa besar dana yang berhasil dihimpun, melainkan seberapa sehat ekosistem setelah subsidi berakhir. Jika pengguna terbukti enggan menanggung biaya transaksi sendiri, Robinhood harus merancang ulang model ekonominya—atau menghadapi kenyataan bahwa pertumbuhan yang terlihat selama ini hanyalah fatamorgana insentif.



