Appi Tinggalkan Golkar, Gabung Demokrat: Sinyal Realignment Politik Makassar?
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin resmi meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Partai Demokrat.
- Kepindahan ini terjadi saat ia masih menjabat, memicu spekulasi tentang pergeseran dukungan politik di Sulawesi Selatan.
- Langkah Appi dapat mempengaruhi peta koalisi menjelang Pilkada 2029 dan memperkuat basis Demokrat di kota metropolitan.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, secara resmi meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Partai Demokrat. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (8/10) dan menandai peralihan afiliasi politik seorang kepala daerah di tengah masa jabatannya.
Appi menyatakan rasa syukurnya atas penerimaan Partai Demokrat di Sulawesi Selatan. "Saya tentu harus berkenalan dengan teman-teman yang ada di Partai Demokrat," ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar kader untuk membesarkan partai. "Tidak bisa melakukan banyak hal jika tidak membangun kerja sama sesama kader Partai Demokrat," tambahnya.
Kepindahan ini menjadi sorotan karena Appi masih menjabat sebagai Wali Kota Makassar. Sebelumnya, ia dikenal sebagai kader Golkar dan memenangkan Pilkada Makassar 2024 bersama Aliyah Mustika Ilham. Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap dinamika politik lokal dan nasional.
Dalam konteks politik Indonesia, perpindahan kader antarpartai menjelang tahun elektoral sering menjadi indikasi realignment dukungan. Meskipun Pilkada berikutnya baru akan digelar pada 2029, manuver seperti ini dapat mempengaruhi koalisi dan strategi partai. Partai Demokrat, yang selama ini berkoalisi dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM), mungkin melihat Appi sebagai aset untuk memperkuat basis di Sulawesi Selatan.
"Saya berterima kasih kepada Partai Demokrat sudah mau menerima saya bergabung," kata Appi.
Pengamat politik menilai bahwa kepindahan Appi bisa memperkuat posisi Demokrat di Makassar, namun juga berisiko menimbulkan gesekan dengan Golkar. Sebagai wali kota, Appi memiliki pengaruh signifikan dalam mobilisasi massa dan sumber daya, sehingga keanggotaannya di Demokrat dapat menguntungkan partai tersebut dalam jangka panjang.
Ke depan, publik akan mencermati apakah langkah Appi akan diikuti oleh kader Golkar lainnya di Sulawesi Selatan, serta bagaimana Partai Demokrat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pengaruhnya. Dengan posisi strategis Makassar sebagai pusat ekonomi di Indonesia timur, dinamika politik di kota ini akan menjadi indikator penting bagi konstelasi politik nasional menjelang 2029.



