Menteri Yandri Susanto: Festival Anyer-Panarukan 3R Jadi Katalis Desa Naik Kelas
Baca dalam 60 detik
- Menteri Desa Yandri Susanto menyatakan dukungan penuh terhadap program Anyer-Panarukan 3R yang digagas Pemkab Situbondo dan Serang.
- Program ini dinilai mampu mengangkat perekonomian ribuan desa di 22 kabupaten/kota dengan mengoptimalkan potensi lokal masing-masing.
- Kemendes akan memanfaatkan momentum festival untuk mendorong percepatan pembangunan desa di sepanjang jalur Anyer-Panarukan.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDT) Yandri Susanto menyatakan dukungannya terhadap program Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo dan Serang. Dukungan tersebut disampaikan Yandri dalam sambutannya usai peluncuran program pada Minggu (11/10), yang dihadiri Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah.
Menurut Yandri, kehadiran program ini berpotensi memberikan dampak signifikan bagi ribuan desa yang tersebar di sepanjang jalur Anyer-Panarukan. Ia menekankan bahwa Kementerian Desa akan menjadikan Festival Anyer-Panarukan sebagai momentum strategis untuk meningkatkan status desa-desa di kawasan tersebut, dengan tetap memperhatikan karakteristik dan potensi unik masing-masing desa.
"Kemendes akan menjadikan momentum Festival Anyer-Panarukan ini untuk menaikkan kelas desa-desa yang ada di jalur Anyer-Panarukan dengan tetap mengedepankan potensi desa masing-masing," ujar Yandri dalam keterangan resminya.
Yandri menggarisbawahi bahwa setiap desa di 22 kabupaten/kota tersebut memiliki ciri khas dan keunggulan yang dapat dioptimalkan. Mulai dari desa wisata yang menawarkan keindahan alam, desa budaya yang kaya tradisi, desa pertanian dengan produk unggulan, hingga desa pesisir dengan potensi kelautan. Menurutnya, pendekatan berbasis potensi lokal ini menjadi kunci agar pembangunan tidak seragam dan mampu mendorong kemandirian ekonomi desa.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menumbuhkan perekonomian ribuan desa di jalur Anyer-Panarukan. "Bisa kita tonjolkan dengan membangun desa-desa sesuai dengan potensinya. Kalau semua jalur desa Anyer-Panarukan itu maju, tentu semua desa di Jawa akan maju," tuturnya.
Program Anyer-Panarukan 3R sendiri merupakan inisiatif yang menggabungkan pembangunan jalan (Road), pengembangan rute wisata (Route), dan penguatan akar budaya serta ekonomi lokal (Roots). Dengan panjang jalur mencapai ribuan kilometer, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan konektivitas tetapi juga membuka peluang investasi dan pasar bagi produk desa.
Dalam konteks pembangunan nasional, langkah ini sejalan dengan prioritas pemerintah untuk mengurangi ketimpangan antara desa dan kota. Desa-desa di jalur Anyer-Panarukan memiliki posisi strategis karena terletak di koridor ekonomi utama Pulau Jawa. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan inklusif yang melibatkan masyarakat pedesaan secara langsung.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan implementasi program tidak sekadar seremonial. Diperlukan pendampingan teknis, akses permodalan, dan penguatan kelembagaan desa agar potensi yang ada dapat dikonversi menjadi kesejahteraan nyata. Pemerintah daerah dan pusat perlu bersinergi dalam menyusun peta jalan yang terukur, termasuk target peningkatan status desa dari tertinggal menjadi berkembang atau mandiri.
Dengan dukungan penuh dari Kementerian Desa, program Anyer-Panarukan 3R berpeluang menjadi model percontohan pembangunan desa terpadu. Pertanyaannya, mampukah kolaborasi ini menjaga momentum dan menghasilkan perubahan struktural yang berkelanjutan bagi desa-desa di sepanjang jalur Anyer-Panarukan?



