BSA dan Gerakan Indonesia ASRI: Jakarta sebagai Laboratorium Kota Hijau
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI menjadikan Benyamin S Award sebagai instrumen pendukung Gerakan Indonesia ASRI yang dicanangkan Presiden Prabowo.
- Sepuluh kelurahan bersaing di babak final dengan penilaian presentasi, puncak acara dijadwalkan 30 Oktober.
- Inisiatif ini menempatkan Jakarta sebagai proyek percontohan kota hijau, meski efektivitasnya masih menunggu pembuktian di lapangan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengaitkan ajang Benyamin S Award (BSA) dengan Gerakan Indonesia ASRI yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diumumkan saat kunjungan Staf Khusus Gubernur DKI bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Joga, ke Festival Jalan Jaksa, Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (11/10).
Nirwono, yang juga bertindak sebagai juri BSA, menuturkan bahwa program ini menjadi pintu masuk bagi agenda yang lebih luas. "Melalui Benyamin S Award, kita akan punya program yang lebih besar lagi, yaitu membuat Jakarta menjadi Jakarta Asri, sejalan dengan rencana pemerintah pusat mewujudkan Indonesia yang asri," ujarnya. Ia menambahkan bahwa upaya tersebut akan dijalankan bertahap dan diharapkan menginspirasi daerah lain.
Gerakan Indonesia ASRI sendiri diperkenalkan Prabowo saat meresmikan LRT Kelapa Gading–Manggarai pada 16 September lalu. Presiden menyatakan akan menggelar rapat bersama gubernur, bupati, dan DPRD seluruh Indonesia dalam satu hingga dua minggu setelah peresmian untuk meluncurkan gerakan tersebut. ASRI merupakan akronim dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Prabowo secara khusus berharap Jakarta menjadi titik awal, dengan visi menjadikannya sebagai kota hijau, kota taman, atau The Garden City.
Benyamin S Award dirancang sebagai bentuk apresiasi bagi kelurahan yang mampu menghadirkan perubahan nyata dan berkelanjutan. Setiap peserta didorong menciptakan lingkungan yang lebih bersih, nyaman, indah, dan sejahtera, sekaligus menghidupkan semangat tokoh budaya Betawi, Benyamin Sueb, dalam perjalanan Jakarta menuju kota global. Sepuluh kelurahan yang lolos ke babak final akan mempresentasikan program mereka sebelum puncak acara.
"Indonesia ASRI artinya Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Ini harus kita wujudkan. Kalau bisa mulai dari Jakarta. Jakarta harus jadi kota hijau, kota taman, The Garden City, The Green City," kata Prabowo dalam kesempatan terpisah.
Langkah Pemprov DKI ini memperlihatkan pola yang kian lazim dalam tata kelola perkotaan: menyandingkan program penghargaan tingkat lokal dengan agenda nasional. Namun, efektivitas BSA sebagai katalis perubahan masih bergantung pada sejauh mana kelurahan peserta mampu mempertahankan perbaikan setelah penilaian berakhir. Tanpa mekanisme pemantauan berkelanjutan, ajang semacam ini berisiko menjadi seremonial belaka.
Dari sisi kebijakan, Gerakan Indonesia ASRI menyiratkan pergeseran paradigma pembangunan yang menekankan aspek lingkungan dan kualitas hidup. Jika Jakarta benar-benar dijadikan laboratorium, maka indikator keberhasilan tidak cukup diukur dari taman baru atau trotoar yang dipercantik, melainkan juga dari menurunnya polusi, meningkatnya ruang terbuka hijau, dan partisipasi warga. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan bahwa gerakan ini tidak berhenti pada slogan, tetapi terintegrasi dalam anggaran dan regulasi.
Ke depan, publik akan menantikan apakah rapat koordinasi nasional yang dijanjikan Presiden benar-benar menghasilkan kerangka kerja konkret, termasuk target dan tenggat waktu. Jika tidak, Gerakan Indonesia ASRI berisiko menjadi daftar keinginan tanpa dampak. Pertanyaannya, mampukah Jakarta membuktikan bahwa kota hijau bukan sekadar visi, melainkan kenyataan yang terukur?



