Russell T Davies Bongkar Kegagalan Doctor Who di Disney+ dalam Memoar Baru
Baca dalam 60 detik
- Memoar The Queerest of Folk mengungkap bahwa kemitraan Doctor Who dengan Disney+ tidak berjalan sejak awal karena pihak Disney dinilai tidak memahami waralaba tersebut.
- Penulis asal Wales itu juga menolak tawaran menulis ulang skenario James Bond: Skyfall dan undangan George Lucas untuk menggarap serial Star Wars versi dewasa.
- Buku ini turut mendokumentasikan tekanan yang dialami Billie Piper selama syuting serta kekhawatiran Davies terhadap keselamatan pribadinya.

Penulis skenario asal Wales, Russell T Davies, mengungkap bahwa kemitraan Doctor Who dengan layanan streaming Disney+ gagal sejak awal karena pihak Disney dinilai tidak memiliki pemahaman mendalam tentang waralaba fiksi ilmiah legendaris tersebut. Pengungkapan ini tertuang dalam memoar terbarunya, The Queerest of Folk, yang dirilis Kamis (13/3/2025) dan melacak perjalanan kariernya dari Granada Television hingga membangkitkan Doctor Who pada 2005.
Davies, 63 tahun, menyebut kerja sama dengan Disney+ tidak berjalan mulus sejak hari pertama. Menurutnya, Doctor Who adalah acara lama yang tidak terlalu dikenal di Amerika Serikat dan tidak pernah menyentuh popularitas Star Wars atau Star Trek. Ia menilai format supersizing yang diterapkan Disney tidak cocok untuk karakter dan narasi Doctor Who yang telah mapan.
Kemitraan tersebut semula membawa distribusi internasional dan dukungan finansial tambahan, dimulai dari perayaan ulang tahun ke-60 pada 2023 hingga era Ncuti Gatwa sebagai Doctor. Namun, Davies mengaku sempat khawatir perusahaan streaming Amerika akan merusak serial itu. Netflix, Amazon, dan Disney sempat dipertimbangkan sebagai mitra potensial sebelum Disney akhirnya terpilih.
Davies juga mengungkap bahwa eksekutif Disney tidak mengenal beberapa episode paling terkenal Doctor Who, termasuk Blink yang ditulis Steven Moffat dan menampilkan Weeping Angels. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa timnya menyadari Disney hanya mengetahui Doctor Who dari apa yang ia ceritakan sendiri. Hal ini memperkuat kesan bahwa kemitraan tersebut tidak dilandasi pemahaman yang memadai tentang basis penggemar dan sejarah panjang serial itu.
"It just didn't work on Disney+. Simple as that. To be honest, it didn't work from day one. It's an old show. It's not particularly well known in America. It's never been on the level of Star Wars or Star Trek, and maybe it didn't suit supersizing." โ Russell T Davies
Buntut dari bubarnya kemitraan itu, rencana produksi musim ketiga yang dibintangi Ncuti Gatwa terpaksa dibatalkan meskipun sejumlah naskah telah selesai ditulis. Davies menyebut jadwal rilis yang rumit, termasuk spesial ulang tahun, episode Natal, dan jeda panjang sebelum seri baru, sebagai bagian dari persoalan yang tak terhindarkan. Ia menambahkan tidak ada pihak yang mampu merumuskan rencana yang lebih aman secara finansial.
Memoar ini juga menyoroti masa-masa sulit Billie Piper saat kebangkitan Doctor Who pertama. Piper, 44 tahun, yang memerankan Rose Tyler, tengah menghadapi perpisahan dengan suaminya saat itu, Chris Evans. Davies mengenang menemukan Piper menangis di sebuah lemari saat persiapan episode kedua, The End of the World, karena sorotan media yang intens. Meski demikian, Piper tetap melanjutkan syuting dengan disiplin tinggi. Ia kemudian kembali ke waralaba tersebut untuk beberapa penampilan, termasuk kejutan di regenerasi Ncuti pada final 2025.
Selain soal Doctor Who, Davies mengungkap bahwa ia pernah didekati untuk menulis ulang skenario film James Bond, Skyfall, yang disutradarai Sam Mendes. Ia menolak karena tidak tertarik pada karakter tersebut, namun kemudian menyesal setelah menonton filmnya. Davies juga menolak tawaran George Lucas untuk menggarap serial televisi dewasa di jagat Star Wars. Alasannya, ia tidak ingin selamanya dicap sebagai "orang fiksi ilmiah".
Dalam bagian lain, Davies menceritakan pertemuan tidak nyaman dengan Harvey Weinstein saat mencari dana untuk adaptasi televisi A Midsummer Night's Dream pada 2016. Weinstein menyarankan Cara Delevingne sebagai Hermia, tetapi Davies terusik oleh sikap produser itu terhadap koleganya, Faith Penhale. Ia kemudian menjauh dari Weinstein yang belakangan menjadi subjek investigasi internasional atas kasus pelecehan seksual. Davies juga mengaku menyimpan pisau dapur di dekat pintu depan karena khawatir alamat rumahnya diketahui pihak-pihak yang membenci karyanya.
Memoar The Queerest of Folk juga membahas warisan It's a Sin, drama tentang pria gay muda di era krisis HIV/AIDS, serta upaya Davies selama puluhan tahun membawa cerita LGBTQ+ ke televisi arus utama. Buku ini menjadi cermin perjalanan seorang penulis yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berani mengangkat isu sosial yang sensitif di tengah industri yang konservatif.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa besar pengaruh pengungkapan ini terhadap arah Doctor Who pasca-Disney+ dan bagaimana industri hiburan menimbang kembali model kemitraan antara waralaba lama dengan platform streaming global. Apakah kegagalan ini akan menjadi pelajaran bagi kerja sama serupa, atau justru menandai berakhirnya era supersizing acara ikonik?



