Romola Garai Bintangi Drama Perselingkuhan 'Adultery', Singgung Standar Ganda dan Era 'Midlife Sexpot'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Romola Garai kembali ke layar kaca lewat drama enam episode 'Adultery' yang tayang Oktober di ITV1 dan ITVX.
- Serial ini mengangkat perselingkuhan dua orang tua yang bertemu saat anak remaja mereka berpacaran, menyoroti kompleksitas ketidakpuasan pernikahan.
- Garai mengkritik standar ganda gender dalam perselingkuhan dan memuji peran intimacy coordinator dalam adegan seks modern.

Aktris Romola Garai membintangi drama terbaru berjudul Adultery, yang mulai tayang Oktober ini di ITV1 dan ITVX. Serial enam episode ini mengisahkan perselingkuhan antara Beth, seorang pelatih pribadi, dan Tom, seorang dokter umum, yang keduanya sudah menikah. Mereka dipertemukan ketika anak remaja masing-masing menjalin hubungan asmara.
Dibuat oleh penulis peraih BAFTA, Danny Brocklehurst, Adultery digambarkan sebagai romansa penuh gairah yang mengancam keutuhan dua keluarga. Alur ceritanya menyimpan pertanyaan klasik: akankah rahasia mereka terbongkar, atau justru berujung pada perpisahan dengan pasangan masing-masing? Nuansa serupa bisa ditemukan dalam serial seperti Doctor Foster, Cold Feet, dan The Affair.
Garai, 44 tahun, mengaku sempat ragu saat pertama kali menerima naskah tentang istri yang berselingkuh dari penulis pria. Ia menyoroti bagaimana perempuan tidak setia kerap digambarkan sebagai proyeksi ketidakamanan pria. Namun, setelah membaca naskah Brocklehurst, ia terkesan karena ceritanya menyentuh area kompleks kekecewaan dalam pernikahan. Menurut Garai, ketidakpuasan Beth tidak didasari hal besar; suaminya orang baik, tetapi Beth harus menekan jati dirinya. Ketika ia menyadari telah mengorbankan terlalu banyak, semuanya sudah terlambat.
Karakter Beth sangat dekat dengan realitas banyak perempuan. Garai menggambarkan sosok yang lelah karena melakukan segala hal dengan benar: mengantar anak, mencuci seragam tim, dan mencari nafkah dari dua pekerjaan. Beth termasuk generasi sandwich yang kewalahan. Ia juga harus meninggalkan bisnisnya sendiri. Garai mengaku banyak mengenal perempuan yang kariernya terhenti demi keluarga, dan kehilangan itu bisa merusak. Rasa kesal pun mengendap seperti gremlin kecil di dalam diri.
Dalam Adultery, adegan intim terjadi di berbagai lokasi, termasuk mobil, dapur, toilet, dan gudang peternakan kota. Garai bercerita tentang pengalaman syuting adegan seks di dalam mobil saat badai melanda Peak District. Ia dan Dominic Cooper harus bertahan di dalam hatchback sementara kru diterjang angin kencang. Mereka menghabiskan waktu dengan obrolan gosip industri, sesuatu yang menurut Garai biasa dilakukan aktor dalam situasi seperti itu.
Garai menyoroti perubahan besar dalam penggarapan adegan seks sejak ia memulai karier. Dulu, adegan intim tidak diarahkan dengan baik dan sering kali merugikan banyak aktor. Kini, kehadiran intimacy coordinator membuat prosesnya lebih terstruktur dan menghormati batas. Adegan seks digarap seperti adegan laga, dengan komunikasi jelas antara aktor dan koordinator. Garai menyesalkan bahwa perubahan ini baru terjadi setelah banyak masalah muncul.
"Adegan seks masih terasa aneh dan sedikit memalukan. Intimasi fisik melepaskan berbagai bahan kimia. Tubuh bereaksi, dan otak kadang tidak tahu cara memprosesnya. Jadi, punya pasangan adegan yang bisa diajak tertawa sangat membantu."
Garai juga menyoroti standar ganda dalam penilaian masyarakat terhadap perselingkuhan. Perempuan yang berselingkuh mendapat label kasar, sementara tidak ada sebutan serupa untuk pria. Istilah home-wrecker pun jarang ditujukan kepada pria. Menurut Garai, ketidakadilan ini sudah ia diskusikan bahkan sebelum serialnya tayang, dan topik perselingkuhan selalu memicu reaksi emosional karena hampir semua orang pernah terluka atau terlibat di dalamnya.
Serial ini tidak menghindar dari konsekuensi perselingkuhan. Garai menekankan pentingnya menunjukkan dampak pada pasangan dan anak-anak. Ia berharap Adultery memicu diskusi antara pasangan di rumah tentang jebakan pernikahan paruh baya. Baginya, Beth dan Tom adalah orang baik yang melakukan hal buruk, dan keduanya adalah pengasuh utama dalam keluarga masing-masing.
Selain akting, Garai menghadapi tantangan lain: menguasai aksen Manchester dan memimpin kelas zumba. Ia mengaku gugup, tetapi semangat Beth yang menikmati tubuhnya sendiri membantunya melewati rasa canggung. Adegan bernyanyi di dalam mobil juga terasa sangat memalukan, namun ia memahami bahwa itu menunjukkan kerinduan Beth akan masa muda, kebebasan, dan kesenangan yang hilang.
Teknologi memainkan peran besar dalam alur Adultery. Selfie seksi, aplikasi pelacak ponsel, dan pengintaian akun Instagram menjadi bagian dari intrik. Garai menyoroti kemunafikan orang dewasa yang sering menegur remaja karena kecanduan gawai, padahal mereka sendiri menggunakan email untuk pekerjaan, aplikasi kencan, dan bel pintu pintar. Menurutnya, teknologi sudah tertanam dalam kehidupan modern, termasuk dalam hubungan asmara.
Garai juga pernah menjadi salah satu dari lebih dari 80 perempuan yang menuduh Harvey Weinstein melakukan pelecehan seksual pada 2017, yang memicu gerakan #MeToo. Ia menilai kemajuan telah dicapai, terutama karena media sosial memberi perempuan kekuatan untuk melawan pelecehan sistemik secara anonim dan massal. Meski begitu, ia tetap merasa ambivalen terhadap teknologi dan media sosial.
Dengan Adultery, Garai berharap bisa mendapatkan lebih banyak peran sebagai istri yang tidak setia. Ia bercanda bahwa dirinya sedang memasuki era midlife sexpot setelah sebelumnya sering berperan sebagai karakter tertutup. Ia mengaku bosan dengan kehidupan pribadinya yang membosankan dan senang bisa memicu obrolan skandal. Menjelang penayangan, pertanyaannya kini: apakah penonton Indonesia juga akan terpicu mendiskusikan ketidaksetaraan gender dalam perselingkuhan, atau justru terjebak pada sensasi semata?



