Oliver Stark Cedera di Set 9-1-1, Protokol Keselamatan Stunt Disorot
Baca dalam 60 detik
- Oliver Stark mengalami cedera pergelangan kaki saat syuting adegan aksi 9-1-1 dan harus menjalani operasi.
- Tiga insiden lain menimpa pemeran pengganti, memicu pertanyaan tentang pengawasan keselamatan di produksi Disney tersebut.
- Kasus ini menyoroti standar keselamatan stunt di industri hiburan yang sering luput dari perhatian publik.

Aktor Oliver Stark, yang memerankan Evan "Buck" Buckley dalam serial drama ABC 9-1-1, dilaporkan mengalami cedera pergelangan kaki saat melakukan adegan aksi pada akhir Agustus lalu. Insiden tersebut memaksanya menjalani operasi, meski kini ia telah kembali ke lokasi syuting. Namun, cedera yang dialaminya bukan satu-satunya; tiga orang lainnya—diduga pemeran pengganti dan kru—juga mengalami luka dalam serangkaian kecelakaan terpisah selama produksi berlangsung.
Menurut sumber yang dikutip Deadline, adegan yang menyebabkan cedera Stark melibatkan aksi seorang petugas pemadam kebakaran yang berayun dari mobil ke truk tangga. Dalam latihan, seorang stunt double mengalami keseleo pergelangan kaki, tetapi tidak ada laporan cedera resmi karena yang bersangkutan menolak perawatan medis. Prosedur di set 9-1-1 biasanya dimulai dengan latihan menggunakan karung berat untuk mengukur distribusi beban, dilanjutkan dengan uji coba oleh pemeran pengganti sebelum aktor utama terlibat. Setelah insiden tersebut, mekanisme adegan disesuaikan, namun Stark tetap terjatuh dan memutar pergelangan kakinya di atas pemain lain.
Dalam beberapa pekan berikutnya, dua kecelakaan lain terjadi. Seorang stunt performer dilarikan ke rumah sakit dan memerlukan jahitan setelah lengannya terluka oleh logam tajam pada bagian set. Sementara itu, dalam dua minggu terakhir, seorang pemeran pengganti lagi harus dirawat karena pendaratan canggung di platform yang dirancang untuk mensimulasikan tanah runtuh; ia mengalami patah tulang rusuk dan paru-paru tertekan ringan. Belum jelas apakah yang bersangkutan sudah kembali bekerja.
Insiden ini menyoroti standar keselamatan di balik layar industri hiburan, terutama untuk adegan aksi berisiko tinggi. Semua penandatangan kontrak SAG-AFTRA—termasuk Disney, perusahaan induk 20th Television yang memproduksi 9-1-1—diwajibkan mengikuti protokol keselamatan tertentu. Pemeran pengganti dan koordinator stunt pun harus menyelesaikan program keselamatan dan pencegahan cedera sebelum bekerja di produksi serikat. Komite keselamatan industri dari Contract Services menetapkan standar yang menekankan pentingnya waktu yang cukup untuk latihan, pelatihan, persiapan peralatan, dan inspeksi.
"Kami memiliki salah satu set teraman yang pernah saya kerjakan," klaim seorang sumber produksi dua tahun lalu, merujuk pada insiden kematian kru akibat serangan jantung setelah bekerja 14 jam karena komplikasi adegan stunt.
Namun, rangkaian cedera terbaru mempertanyakan seberapa efektif protokol tersebut di lapangan. Koordinator stunt biasanya memimpin seluruh persiapan, mulai dari tinjauan naskah, perencanaan, pemilihan lokasi, pengujian, hingga rekomendasi personel dan peralatan. Asisten sutradara pertama bertanggung jawab atas rapat keselamatan sebelum setiap adegan aksi, dan perubahan substansial pada stunt memerlukan rapat ulang. Meski demikian, cedera tetap terjadi, menandakan adanya celah dalam implementasi atau tekanan produksi yang mengorbankan keselamatan.
Juru bicara 20th Television menolak berkomentar saat dihubungi. Sementara itu, industri hiburan global—termasuk di Indonesia—semakin bergantung pada adegan aksi untuk menarik penonton, terutama dengan maraknya platform streaming. Keselamatan kru dan pemain menjadi taruhan yang tidak bisa diabaikan. Apakah insiden di 9-1-1 akan memicu peninjauan ulang prosedur stunt di Hollywood, atau justru menjadi peringatan bagi produksi lokal yang mulai mengadopsi standar serupa? Waktu yang akan menjawab, tetapi tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas semakin menguat.



