Sofia Coppola Bongkar Rahasia 'Lost in Translation' hingga Warisan 'Marie Antoinette'
Baca dalam 60 detik
- Sofia Coppola mengungkap bahwa sebagian adegan Lost in Translation diambil tanpa izin resmi, termasuk di kereta bawah tanah dan Shibuya Crossing.
- Sang sutradara menegaskan bahwa ibunya berperan besar dalam membentuk kepekaannya terhadap detail, yang kemudian menjadi ciri khas film-filmnya.
- Peringatan 20 tahun Marie Antoinette dirayakan dengan pesta di Versailles, di mana lagu New Order dari soundtrack diputar dan menjadi memori berharga bagi Coppola.

Sofia Coppola, sutradara yang dikenal lewat karya-karya intim seperti Lost in Translation dan Marie Antoinette, baru-baru ini membuka cerita di balik layar dalam sesi tanya jawab dengan pembaca. Dalam wawancara tersebut, ia mengungkapkan bahwa sebagian adegan ikonik dalam Lost in Translation direkam secara gerilya karena keterbatasan izin syuting. Coppola menyebut adegan Scarlett Johansson di kereta bawah tanah Tokyo dan pengambilan gambar dari atas di Shibuya Crossing sebagai contoh di mana ia harus mengambil risiko demi mendapatkan visual yang autentik.
“Kami memiliki izin untuk sebagian besar lokasi, tetapi untuk adegan di kereta bawah tanah dan Shibuya Crossing, kami harus merekam dengan orang-orang asli di sekitar. Kami bahkan masuk ke Starbucks karena pemandangannya luar biasa, meski tidak mungkin mendapat izin resmi,” ujar Coppola. Ia menambahkan bahwa meskipun melanggar aturan, ia bersyukur tidak sampai diusir dari Jepang. Pendekatan gerilya ini, menurutnya, adalah bagian dari semangat pembuatan film independen yang ia pelajari dari pengalaman masa mudanya.
Coppola juga berbicara tentang pengaruh ibunya, Eleanor Coppola, yang selalu mengajarkan untuk setia pada diri sendiri dan melihat keindahan dalam detail kecil. “Ibu saya selalu memperhatikan hal-hal aneh dalam hidup, dan banyak film saya terbentuk dari hal-hal semacam itu,” katanya. Ia mengenang masa kecilnya yang sering menghabiskan waktu di lokasi syuting ayahnya, Francis Ford Coppola, dan bagaimana pengalaman itu membentuk kecintaannya pada dunia film. Bahkan saat syuting Marie Antoinette, ibunya merekam hampir 80 jam footage di balik layar, yang kemudian menjadi kenangan berharga.
Dalam sesi tersebut, Coppola juga mengungkapkan bahwa ide menggunakan musik post-punk dan new romantic dalam Marie Antoinette berasal dari masa remajanya. Ia terinspirasi oleh buku Antonia Fraser tentang Marie Antoinette yang masih sangat muda, dan ingin menampilkan bahwa tokoh tersebut dan Louis XVI adalah remaja. “Saya ingin menunjukkan melalui filter musik yang saya dengarkan saat remaja, seperti Bow Wow Wow dan Adam Ant. Saat film itu keluar, beberapa orang tersinggung karena musik kontemporer dalam film periode bukanlah hal yang biasa,” jelasnya. Pendekatan berani ini justru membuat film tersebut dikenang sebagai karya yang visioner.
Coppola juga menyinggung pengalamannya bekerja dengan Tim Burton dalam film pendek Frankenweenie (1984). Saat itu ia berusia sekitar 12 tahun, dan Burton baru lulus sekolah. “Itu pengalaman yang menyenangkan. Dia bahkan menggambar untuk saya. Saya sudah terbiasa di lokasi syuting ayah saya, jadi berada di lokasi syuting orang lain itu menarik,” kenangnya. Hingga kini, Coppola mengaku tidak pernah bosan mengunjungi lokasi syuting dan selalu terkesan oleh keajaiban pembuatan film.
Ketika ditanya tentang video musik White Stripes tahun 2003 untuk lagu I Just Don’t Know What to Do With Myself, yang dinobatkan Rolling Stone sebagai salah satu video terseksi, Coppola mengaku tidak menyangka. “Itu ide saya, dan saya senang semua orang setuju. Saya hanya meminta Kate Moss untuk melakukannya, dia setuju, dan band-nya mendukung,” ujarnya singkat. Ia juga menyadari bahwa karyanya masih relevan dengan generasi muda, terutama para girlblogger yang mengidolakannya. “Saya akan bertanya kepada putri remaja saya,” candanya.
Menutup wawancara, Coppola tetap bungkam soal bisikan Bob kepada Charlotte di akhir Lost in Translation. Ia mengutip Bill Murray: “Itu rahasia di antara mereka.” Jawaban ini semakin mengukuhkan misteri yang membuat film tersebut terus diperbincangkan hingga dua dekade setelah rilis.
Dengan berbagai proyek yang masih berjalan, termasuk keterlibatannya dalam dunia musik dan film, Sofia Coppola tetap menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam sinema modern. Apakah generasi baru akan terus menemukan keintiman dalam karyanya, atau akankah ia mengejutkan dengan pendekatan yang lebih radikal? Waktu yang akan menjawab, tetapi warisannya sudah tak terbantahkan.



