Mengapa Kota-Kota Spa Eropa Kembali Jadi Tujuan Wisata Kesehatan di Musim Gugur
Baca dalam 60 detik
- Unesco menetapkan 11 kota spa bersejarah Eropa sebagai situs warisan dunia lintas negara, menandai pengakuan atas tradisi wisata kesehatan yang berlangsung sejak abad ke-18.
- Dari Karlovy Vary hingga Chaves, kota-kota ini menawarkan terapi air mineral, lumpur penyembuhan, dan arsitektur belle époque yang kini dibangkitkan kembali lewat hotel serta spa modern.
- Tren ini berpotensi menginspirasi pengembangan wisata kesehatan di Indonesia, terutama memanfaatkan sumber air panas alami seperti di Ciwidey, Batu, dan Flores.

Unesco pada 2021 menetapkan 11 kota spa bersejarah di Eropa sebagai satu situs warisan dunia lintas negara, sebuah pengakuan atas fenomena wisata kesehatan yang mencapai puncaknya antara 1700 dan 1930. Penetapan ini bukan sekadar penghargaan arsitektural, melainkan penanda bahwa praktik "menyehatkan diri lewat air" yang dulu identik dengan bangsawan Eropa kini menemukan relevansi baru di tengah meningkatnya kesadaran global akan kesehatan preventif dan wisata pemulihan.
Dari Bath di Inggris hingga Spa di Belgia, serta trio kota spa di Bohemia Barat—Karlovy Vary, Františkovy Lázně, dan Mariánské Lázně—kota-kota ini menyimpan tradisi penyembuhan yang telah berusia berabad-abad. Yang membedakan mereka dari resor wellness modern adalah warisan medisnya: air mineral, gas karbon dioksida, dan lumpur terapeutik yang tidak hanya dinikmati, tetapi juga diresepkan oleh dokter setempat. Di Republik Ceko, misalnya, warga negara masih mendapat resep tinggal berhari-hari di spa untuk pemulihan pascaoperasi atau penyakit kronis.
Mariánské Lázně, yang dianggap paling menawan di antara trio Bohemia, menawarkan tiga tradisi penyembuhan sekaligus: mata air mineral, mata air karbon dioksida yang dikenal sebagai Maria's Gas, dan peloid terapeutik dari lumpur dan tanah liat. Hotel Nové Lázně yang dibangun pada 1896 menjadi ikon kota ini, dengan kamar mandi berkolom marmer dan kabin perawatan yang salah satunya pernah dibuat khusus untuk Raja Edward VII, yang berkunjung sembilan kali. Pengunjung dapat meminum air langsung dari kran khusus sambil berjalan di sepanjang kolonade, ditemani kue wafer spa khas dengan isian cokelat atau hazelnut.
Jerman, dengan sekitar 350 kota spa terdaftar, menjadi episentrum tradisi ini. Bad Kissingen di Bavaria menonjol berkat arsitektur pusat kotanya yang dibangun ulang oleh Max Littmann pada awal abad ke-20, termasuk aula air mancur beratap kaca patri tempat para Brunnenfrauen—petugas perempuan—menuangkan berbagai jenis air mineral dari pipa perunggu. Yang menarik, musik telah lama menjadi bagian dari pengalaman spa: orkestra philharmonic kota ini tampil beberapa kali sehari di Wandelhalle bergaya basilika, dan gedung konser Regentenbau termasuk yang terbaik di Eropa.
Di Black Forest utara, kota spa menawarkan cara menikmati alam lebih dari sekadar berendam. Kereta gantung membawa pengunjung ke puncak Sommerberg, titik awal rute hiking dan bersepeda. Treetop Walk setinggi 40 meter dan jembatan gantung Wildline sepanjang 380 meter melintasi lembah Enz memberikan sensasi berbeda. Sementara itu, dua pemandian termal kota—Vital Therme yang modern dan Palais Thermal yang bersejarah dengan kolam berkolom marmer serta ubin Moor—melengkapi pengalaman penyembuhan.
Di Normandia, legenda lokal tentang kuda perang bernama Rapide yang menemukan mata air belerang hangat di hutan Andaines menjadi asal-usul Bagnoles. Kota ini kemudian berkembang menjadi resor spa bagi borjuasi Paris, dengan vila-vila belle époque di tepi danau di tengah hutan. Kini, Château du Gué aux Biches yang dikelola pemilik asal Denmark menawarkan pengalaman menginap dengan akses ke spa B'O Resort, plus rute hiking dan foraging jamur di antara lebih dari 1.700 varietas yang tumbuh di lantai hutan.
Bad Gastein di Pegunungan Hohe Tauern, Austria, dibangun di atas air—air terjun deras mengalir tepat melalui pusat kota. Reputasi penyembuhan dari air kaya radon menarik para bangsawan, penulis, dan pemikir seperti Sigmund Freud pada abad ke-19. Setelah sempat meredup, kota ini mengalami kebangkitan dengan hadirnya hotel-hotel baru seperti Cōmodo, yang dibangun ulang dari sanatorium tahun 1960-an. Pemandian umum Felsentherme yang brutalist menawarkan tiket harian seharga €40.
Piešťany di Slowakia memiliki patung pria yang mematahkan tongkatnya di depan Jembatan Kolonade—simbol kekuatan penyembuhan air termal dan lumpur belerang di Pulau Spa. Thermia Palace, yang dibuka pada 1912, masih menjadi pilihan paling mewah dengan program perawatan lengkap, dari diagnostik hingga paket lumpur yang dioleskan pada suhu 45°C. Di luar, taman spa dengan kolam lili dan merak yang berkeliaran bebas menambah kesan restoratif.
Rogaška di Slovenia terkenal akan Donat Mg, salah satu air mineral terkaya magnesium di dunia yang dipercaya membantu pencernaan. Pengunjung dapat mencicipinya gratis di Pivnica Drinking Hall, meski rasanya yang asin, berbuih, dan metalik butuh penyesuaian. Grand Hotel Rogaška yang berwarna kuning mentega menghadirkan spa lengkap dengan mandi karbon dioksida, inhalasi air mineral, hingga refleksologi dan magnetoterapi. Kota ini juga dikenal akan kristalnya, dan tur ke pabrik kaca Rogaška seharga €12 menjadi daya tarik tersendiri.
Di Emilia-Romagna, Salsomaggiore Terme menawarkan keseimbangan setelah menikmati kuliner lembah makanan Italia. Terme Berzieri yang bergaya art deco dibuka kembali tahun lalu oleh QC Spa of Wonders, dengan interior berlapis emas, fresko, mosaik, dan kolam rooftop infinity. Perawatan dalam tong kayu mengingatkan pada tradisi pembuatan anggur setempat, yang bisa dicicipi di Cantina Il Poggio atau dipadukan dengan tur produksi parmigiano reggiano.
Portugal memiliki rangkaian kota spa di utara dekat perbatasan Spanyol. Chaves menyimpan kompleks pemandian Romawi yang terkubur gempa abad ke-4 dan baru ditemukan pada 2006; kini museumnya gratis dikunjungi, sementara Aquae Salutem Thermal Complex yang dibuka 2025 menawarkan sirkuit kolam luar, sauna, dan uap seharga €30. Di Pedras Salgadas, 18 eco-house dan rumah pohon di atas panggung dibangun di antara pepohonan pinus, dengan spa yang dirancang ulang oleh arsitek kenamaan Álvaro Siza.
Bagi Indonesia, fenomena kebangkitan kota spa Eropa ini menyimpan pelajaran penting. Tanah air memiliki sumber air panas alami melimpah—dari Ciwidey dan Batu hingga Flores dan Sulawesi—yang selama ini lebih banyak dikembangkan sebagai wisata rekreasi ketimbang kesehatan terapeutik. Jika Unesco dapat mengakui nilai luar biasa dari tradisi spa Eropa, bukan tidak mungkin destinasi seperti Cipanas, Tretes, atau sumber air panas di Nusa Tenggara suatu hari masuk radar serupa, asalkan ada riset klinis, pelestarian arsitektur, dan pengelolaan yang serius.
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan serius menggarap potensi wisata kesehatan yang sudah lama terbengkalai ini, atau tetap membiarkannya sebagai pelengkap liburan akhir pekan tanpa nilai medis yang diakui?



