Lance Bass Ungkap Pendapatan Minim *NSYNC: Hanya 35 Dolar Sehari di Awal Karier
Baca dalam 60 detik
- Lance Bass mengungkap bahwa *NSYNC hanya menerima uang saku 35 dolar AS per hari pada masa awal karier mereka.
- Cek pertama grup baru cair setelah bertahun-tahun album nomor satu dan tur sold out, dengan nilai hanya 10.000 dolar AS.
- Bass menyebut pendapatan dari katalog lagu tidak signifikan, sementara label dan mendiang manajer Lou Pearlman diduga meraup untung besar.

Lance Bass, personel *NSYNC, mengungkapkan bahwa kelompoknya tidak menghasilkan banyak uang selama berkarier, dengan uang saku harian hanya 35 dolar AS pada tahun-tahun awal. Pengakuan ini mengejutkan publik yang selama ini menganggap boy band era 1990-an meraup kekayaan besar dari penjualan album dan tur.
Dalam wawancara di The Zach Sang Show, Bass menjelaskan bahwa meskipun *NSYNC mencetak beberapa album nomor satu dan menggelar tur yang selalu habis, pembayaran pertama mereka baru diterima setelah beberapa tahun berjalan, dengan nilai 10.000 dolar AS. โKami mendapat uang saku 35 dolar sehari. Cek pertama kami adalah 10.000 dolar setelah bertahun-tahun album nomor satu dan tur sold out. Saya tidak tahu berapa juta yang mereka dapat dari merchandise karena merchandise sangat besar,โ ujarnya.
Bass menambahkan bahwa pendapatan dari residual dan katalog lagu grup juga tidak sebesar yang dibayangkan orang. โKami memang mendapat residual, tapi tidak banyak. Aneh sekali bagaimana orang mengira saya sangat kaya dari *NSYNC. Tidak sama sekali. Saya sukses setelah *NSYNC dan saya bangga dengan itu, tapi saya hampir tidak menghasilkan uang dengan *NSYNC,โ tegasnya.
Bass juga menyoroti peran mendiang Lou Pearlman, mantan manajer mereka, yang diduga meraup keuntungan besar dari grup. Pearlman dijatuhi hukuman 25 tahun penjara pada 2008 atas tuduhan konspirasi, pencucian uang, dan memberikan pernyataan palsu dalam proses kebangkrutan. โSalah satu penipu terbesar sepanjang masa, dia menghasilkan banyak,โ kata Bass.
Ia mengaku pernah menyimpan kemarahan terhadap eksekutif dan label rekaman karena merasa tidak ada yang melindungi mereka. โSaya marah pada orang dewasa di ruangan itu. Mereka bilang, โKamu masih muda, tidak apa-apa. Menari, berlutut. Kamu muda, tidak perlu tidur.โ Padahal, siapa peduli kamu muda? Kamu tetap perlu mencari nafkah dan mempersiapkan masa depan karena kebanyakan kasus seperti ini hanya sementara, dan tidak ada yang mempersiapkan kami untuk hidup setelahnya. Kami harus melakukannya sendiri setelah semuanya berakhir,โ tuturnya.
Setelah *NSYNC bubar, para personelnya harus memulai dari awal di tengah stigma sebagai anggota boy band, yang saat itu dipandang rendah di industri musik. โKamu dianggap rendah, diolok-olok. Coba bangun karier setelah berada di band seperti itu di mana tidak ada yang menganggapmu serius,โ pungkas Bass.
Kasus *NSYNC menyoroti masalah klasik dalam industri hiburan: eksploitasi artis muda oleh manajemen dan label. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi pada grup idola yang terikat kontrak tidak seimbang, dengan pendapatan minim sementara manajemen mengambil porsi besar. Kesadaran akan hak artis dan perlindungan hukum semakin mendesak seiring pertumbuhan industri musik tanah air.
Ke depan, transparansi kontrak dan pembagian royalti yang adil menjadi tuntutan yang semakin kuat, tidak hanya di dunia musik global tetapi juga di Indonesia. Akankah industri hiburan belajar dari kisah *NSYNC dan memberikan perlindungan lebih baik bagi talenta mudanya?



