Chaosium Ganti Nama Shub-Niggurath Jadi Shub-Gorath, Sandy Petersen Kecewa
Baca dalam 60 detik
- Chaosium resmi mengubah nama dewa fiksi Shub-Niggurath menjadi Shub-Gorath dalam proyek game terbaru mereka, Call of Cthulhu: Old Ones.
- Keputusan ini diambil karena nama lama berpotensi memicu filter konten otomatis dan dinilai menyakitkan bagi sebagian audiens, terutama mengingat pandangan rasial H.P. Lovecraft.
- Pencipta Call of Cthulhu, Sandy Petersen, menentang perubahan tersebut, sementara kampanye game telah mengumpulkan hampir $500.000 dan berakhir 15 Oktober.

Penerbit game meja Call of Cthulhu, Chaosium Inc., secara resmi mengganti nama salah satu dewa dalam mitologi Cthulhu, Shub-Niggurath, menjadi Shub-Gorath. Perubahan ini diumumkan dalam pembaruan proyek Call of Cthulhu: Old Ones di platform Gamefound, sebuah permainan papan untuk 2–4 pemain yang memerankan para Great Old Ones. Keputusan tersebut memicu perdebatan di kalangan penggemar, terutama karena nama lama dianggap mengandung konotasi rasial yang sensitif.
Dalam pernyataannya, Chaosium menjelaskan bahwa nama Shub-Niggurath berpotensi dikaitkan dengan hinaan rasial terhadap kulit hitam, meskipun para ahli Lovecraft sepakat bahwa nama itu tidak berasal dari kata tersebut. Perusahaan menekankan bahwa masalah utamanya adalah risiko pemicu filter konten otomatis di platform digital—fenomena yang dikenal sebagai "Scunthorpe problem", merujuk pada insiden tahun 1996 ketika warga sebuah kota di Inggris tidak bisa membuat akun AOL karena nama kota mereka mengandung kata yang disaring. Lebih dari itu, Chaosium menilai nama asli dewa tersebut "bisa menyakitkan bagi sebagian audiens, terutama jika dikaitkan dengan pandangan pribadi Lovecraft" yang dikenal rasis dan xenofobik.
Perubahan nama ini juga dibenarkan dari sudut pandang naratif. Call of Cthulhu: Old Ones berlatar masa sebelum umat manusia, ketika para dewa belum diberi nama oleh peradaban yang muncul kemudian. Nama "Shub-Gorath" diadaptasi dari Shuma-Gorath, entitas serupa yang disebutkan Robert E. Howard—pencipta Conan the Barbarian—dalam cerpen The Curse of the Golden Skull. Shuma-Gorath kemudian dikembangkan Marvel Comics sebagai musuh Doctor Strange. Chaosium berargumen bahwa praktik meminjam dan mengadaptasi nama semacam ini sejalan dengan tradisi kolaboratif yang dirintis Lovecraft dan para penulis sezamannya.
Reaksi komunitas pun terbelah. Sebagian besar penggemar tampak tidak terusik, dengan alasan bahwa para Great Old Ones adalah entitas tak terpahami yang tidak seharusnya didefinisikan oleh nama—dan pemain bisa tetap menggunakan nama lama di meja permainan mereka. Namun, suara penolakan datang dari figur berpengaruh. Sandy Petersen, kreator asli Call of Cthulhu, menulis di X: "Saya sering membela Chaosium di dunia maya, tapi kali ini saya tidak bisa membelanya." Chaosium sendiri telah mengantisipasi reaksi semacam itu. Mereka mengakui bahwa bagi sebagian pemain, mempertahankan nama asli adalah bagian penting dari pelestarian warisan karakter. "Kami tidak punya jawaban sederhana yang bisa memuaskan semua pihak," tulis perusahaan.
"Kami juga memahami bahwa bagi sebagian pemain, tetap menggunakan nama asli semaksimal mungkin adalah bagian penting dari melestarikan warisan karakter-karakter ini. Kami tidak punya jawaban sederhana yang akan memuaskan semua orang." — Chaosium Inc.
Keputusan Chaosium mencerminkan dilema yang semakin sering dihadapi industri kreatif: bagaimana menyeimbangkan penghormatan terhadap karya klasik dengan tanggung jawab sosial di era digital. Lovecraft memang telah lama menjadi sosok kontroversial karena pandangan rasialnya, namun karya-karyanya—yang kini berada di domain publik—tetap menjadi fondasi bagi genre horor kosmik. Langkah Chaosium bisa dilihat sebagai upaya proaktif untuk menjauhkan warisan tersebut dari elemen yang berpotensi melukai, sekaligus menegaskan bahwa mitologi Cthulhu adalah milik bersama yang terus berevolusi.
Ke depan, apakah perubahan nama ini akan diikuti oleh penerbit atau pengembang lain yang menggarap properti Lovecraftian? Atau justru sebaliknya, komunitas akan semakin terpolarisasi antara mereka yang mengutamakan kesetiaan pada teks asli dan mereka yang mendukung inklusivitas? Yang jelas, Call of Cthulhu: Old Ones telah mencapai target pendanaannya dalam waktu kurang dari dua puluh menit, menandakan bahwa minat terhadap dunia yang diciptakan Lovecraft—dengan segala kontroversinya—masih sangat besar.



