Prabowo Resmikan Hilirisasi Rp180 T di Weda Bay, Ekspor Perdana Baterai EV Dimulai
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Halmahera Tengah, Maluku Utara, untuk meresmikan rangkaian proyek hilirisasi bernilai US$10,2 miliar atau setara Rp180 triliun di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
- Agenda tersebut menandai ekspor perdana baterai kendaraan listrik nasional, sekaligus pengoperasian komersial empat pabrik dan peletakan batu pertama tujuh proyek industri baru.
- Langkah ini mempertegas arah kebijakan ekonomi Prabowo yang menempatkan pengolahan sumber daya mineral di dalam negeri sebagai tulang punggung pertumbuhan, meski tantangan lingkungan dan nilai tambah riil masih menjadi sorotan.

Presiden Prabowo Subianto meninggalkan Jakarta menuju Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Kamis (8/10) pagi untuk memimpin langsung peresmian mega-proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Nilai investasi yang dilepas dalam agenda ini mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun โ angka yang menempatkan Maluku Utara sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri pengolahan mineral terbesar di Indonesia saat ini.
Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, rangkaian acara tersebut bukan sekadar seremoni. Ada tiga peristiwa ekonomi yang berlangsung bersamaan: ekspor perdana baterai kendaraan listrik, pengoperasian komersial empat proyek industri, dan pembangunan tujuh fasilitas industri baru di dalam kawasan IWIP. Kombinasi ini menandai pergeseran dari sekadar penambangan nikel menjadi produksi komponen bernilai tambah yang lebih tinggi.
Ekspor perdana baterai kendaraan listrik menjadi penanda paling strategis. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai pemasok nikel mentah dan produk setengah jadi. Kini, rantai pasok mulai bergerak ke sel baterai yang menjadi inti kendaraan listrik global. Jika berjalan konsisten, posisi Indonesia dalam peta industri EV dunia bisa bergeser dari pemasok bahan baku menjadi produsen komponen kunci โ sebuah lompatan yang jarang terjadi di negara berkembang.
"Pagi-pagi sekali, Presiden Prabowo Subianto bertolak menuju Halmahera Tengah, Maluku Utara, untuk meluncurkan program hilirisasi senilai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun," ujar Teddy dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Kehadiran sejumlah menteri kunci dalam penerbangan tersebut โ mulai dari Bahlil Lahadalia yang membidangi hilirisasi dan transisi energi, Sugiono dari koordinasi pembangunan manusia, Prasetyo Hadi dari Sekretariat Negara, hingga Maruarar Sirait dari sektor perumahan โ memperlihatkan bahwa proyek ini diposisikan sebagai agenda lintas kementerian, bukan sekadar program satu sektor. Pemerintah tampaknya ingin memastikan bahwa pembangunan kawasan industri di Maluku Utara turut menyentuh aspek sosial dan permukiman, bukan hanya produksi.
Namun, ekspansi industri nikel dan baterai di Weda Bay juga menghadapi tekanan publik yang tak ringan. Isu deforestasi, limbah tailing, dan dominasi tenaga kerja asing di beberapa fasilitas smelter menjadi catatan yang kerap muncul dari organisasi lingkungan dan serikat pekerja. Pemerintah perlu menjawab apakah nilai tambah ekonomi yang diklaim sebanding dengan biaya lingkungan dan sosial yang ditanggung masyarakat sekitar. Tanpa tata kelola yang ketat, hilirisasi berisiko menjadi pertumbuhan yang mahal secara ekologis.
Dari sisi fiskal, program senilai Rp180 triliun ini menjadi ujian bagi strategi Prabowo dalam menarik investasi asing di tengah ketidakpastian global. Bila ekspor baterai EV berjalan lancar, penerimaan negara dari royalti, pajak, dan devisa bisa menjadi penopang APBN. Sebaliknya, jika proyek tersendat karena masalah perizinan, listrik, atau konflik lahan, target hilirisasi bisa mundur dan kepercayaan investor ikut terganggu.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal seremoni, melainkan eksekusi: seberapa cepat tujuh proyek baru itu beroperasi, dan apakah rantai pasok baterai Indonesia mampu bersaing dengan produsen China dan Korea yang sudah mapan? Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Weda Bay akan menjadi barometer apakah hilirisasi benar-benar mengubah struktur ekonomi nasional atau hanya memperbesar volume ekspor bahan setengah jadi dengan label baru.



