Anthropic Dituding IPO Paling Absurd 2026: Valuasi Rp31.000 T, Laba Tak Jelas
Baca dalam 60 detik
- New Constructs menilai rencana IPO Anthropic di Nasdaq dengan valuasi $2 triliun sebagai tawaran paling tidak masuk akal tahun ini.
- Perusahaan riset independen itu membandingkan kasus Anthropic dengan WeWork 2019, yang batal melantai di bursa enam pekan setelah peringatan serupa.
- Jika tetap berjalan, IPO ini berpotensi menguji sejauh mana investor global masih mau membayar premi tinggi untuk perusahaan AI yang belum untung.

Lembaga riset keuangan independen New Constructs menilai rencana penawaran umum perdana (IPO) Anthropic di Nasdaq sebagai langkah paling tidak wajar sepanjang 2026. Dalam laporan yang dirilis Selasa, firma itu menyebut target valuasi $2 triliun—setara sekitar Rp31.000 triliun—sebagai ujian belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rasionalitas investor pasar modal Amerika Serikat.
New Constructs justru menaksir nilai wajar Anthropic hanya $150 miliar, atau kurang dari delapan persen dari angka yang dibidik perusahaan. Untuk menyamai valuasi tersebut, menurut perhitungan mereka, Anthropic harus mencetak laba dua kali lipat dari pendapatan bersih Nvidia selama empat kuartal terakhir—perusahaan teknologi paling bernilai di dunia yang meraup lebih dari $190 miliar pada periode itu.
Sebaliknya, data yang beredar menunjukkan Anthropic membukukan pendapatan $4,6 miliar sepanjang 2025, tetapi menanggung rugi bersih $42 miliar. Angka itu mengacu pada salinan prospektus yang bocor dan dilaporkan Reuters. Kombinasi kerugian operasional yang membengkak dan gelombang model open-source membuat New Constructs menyimpulkan bahwa Anthropic belum memiliki model bisnis yang layak.
New Constructs bukan nama baru dalam urusan menggugat IPO. Pada 2019, firma ini menyematkan label serupa kepada WeWork. Enam pekan setelah laporan itu terbit, WeWork membatalkan rencana pencatatan sahamnya karena permintaan lemah dan kritik tajam atas laporan keuangannya. Perusahaan itu akhirnya mengajukan pailit pada 2023. Namun, rekam jejak New Constructs tidak selalu tepat: pada 2020 mereka menyebut DoorDash sebagai IPO paling absurd, tetapi saham perusahaan pengiriman makanan itu justru melesat dan kini bernilai pasar sekitar $83 miliar.
"Kami menilai Anthropic tidak memiliki bisnis yang layak. Sejak kehadiran model open-source, sudah jelas bahwa model tertutup akan sulit mencetak laba," tulis New Constructs dalam laporannya.
Pendiri sekaligus CEO New Constructs, David Trainer, dikenal sebagai bear yang vokal terhadap gelombang IPO teknologi. Ia pernah mengakui bahwa "hal-hal gila memang terjadi" dan firma risetnya tidak selalu benar. Namun, ia menegaskan tidak akan mengubah pendiriannya. Dalam laporan terbaru, New Constructs juga menyoroti klaim Anthropic bahwa AI berpotensi menimbulkan risiko eksistensial bagi umat manusia—sebuah argumen yang, menurut mereka, justru memperkuat alasan investor menghindari IPO.
Anthropic belum mempublikasikan prospektus resminya, sehingga New Constructs mengandalkan laporan media dan dokumen bocor. New York Times pada September melaporkan perusahaan itu berpotensi membukukan pendapatan tahunan $100 miliar pada akhir 2026. Sementara itu, pada akhir Juli, Anthropic mengklaim annualized revenue run rate-nya melonjak tujuh kali lipat menjadi $65 miliar.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini bukan sekadar tontonan. Banyak dana pensiun, perusahaan asuransi, dan manajer investasi domestik menempatkan portofolio di saham teknologi AS, baik secara langsung maupun melalui reksa dana dan ETF. Jika IPO Anthropic benar-benar berjalan dengan valuasi ekstrem lalu koreksi tajam terjadi, efek rambatnya bisa menekan nilai aset bersih produk-produk investasi yang beredar di dalam negeri. Sebaliknya, jika sukses, preseden ini akan mendorong lebih banyak startup AI Asia—termasuk dari Indonesia—untuk mengejar valuasi serupa tanpa fundamental yang setara.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah Anthropic akan melantai di bursa, melainkan seberapa jauh Wall Street masih bersedia membayar premi untuk narasi pertumbuhan AI. Jika New Constructs benar, IPO ini bisa menjadi titik balik yang memaksa investor menuntut laba nyata, bukan sekadar janji masa depan.



