Meta Rilis Aplikasi Muse untuk iPad, Perluas Ekosistem AI Konsumen
Baca dalam 60 detik
- Meta resmi meluncurkan aplikasi Muse untuk iPad, hanya sebulan setelah versi iPhone hadir.
- Aplikasi ini telah diunduh lebih dari 6,6 juta kali sejak debut di iOS dan Android pada 8 September.
- Meta menambahkan sejumlah konektor baru untuk UKM dan ritel, serta menyiapkan standar terbuka agar agen AI dikenali oleh situs web.

Meta mempercepat ekspansi asisten AI-nya dengan meluncurkan aplikasi khusus Muse untuk iPad, hanya berselang sebulan setelah kehadirannya di iPhone. Langkah ini menegaskan ambisi perusahaan dalam menguasai pasar agen AI konsumen yang kian kompetitif.
Peluncuran tersebut terbilang kilat jika dibandingkan dengan Instagram, yang butuh sekitar 15 tahun untuk akhirnya memiliki aplikasi iPad native. Meski demikian, perbedaan kompleksitas antarmuka menjadi alasan utama: Muse mengandalkan teks sebagai elemen utama, sehingga penyesuaian ke layar besar relatif lebih sederhana dibandingkan aplikasi berbasis gambar dan video.
Sejak diluncurkan di iOS dan Android pada 8 September, Muse telah mencatat lebih dari 6,6 juta unduhan, menurut estimasi firma riset Sensor Tower. Angka ini menempatkan Muse sebagai salah satu agen AI konsumen dengan adopsi tercepat, bersaing dengan puluhan aplikasi sejenis yang mulai membanjiri pasar.
Muse berfungsi sebagai asisten pribadi yang dapat terhubung ke berbagai akun pengguna untuk mengelola email, jadwal rapat, tagihan, hingga menyelesaikan tugas seperti memesan restoran, berbelanja kebutuhan pokok, menetapkan target, dan melakukan pembelian. Untuk mendukung fungsi tersebut, Meta menggandeng sejumlah mitra yang terintegrasi sebagai "konektor" di dalam aplikasi.
Pengguna dapat memilih dan masuk ke konektor secara selektif, sesuai dengan seberapa besar mereka ingin mempercayakan aktivitas online kepada AI. Pada pembaruan untuk iPad, Meta menambahkan beberapa konektor baru yang menyasar usaha kecil dan menengah, seperti Asana, Canva, Dropbox, Figma, QuickBooks, GitHub, Klaviyo, dan Zoom, serta konektor untuk akun iklan Meta. Notion dan Granola juga masuk dalam daftar.
Selain itu, Meta baru-baru ini mengumumkan kemitraan ritel dengan Best Buy, Gap, Sephora, Walmart, dan Wayfair. Konektor ini memungkinkan agen berbelanja di situs peritel dan menyelesaikan transaksi atas nama pengguna. Namun, karena teknologi ini masih baru, masih ada kendala ketika situs web menganggap agen sebagai bot dan memblokir aksesnya.
Untuk mengatasi masalah bot, Meta pada Selasa mengumumkan bahwa mereka bekerja sama dengan mitra industri untuk menciptakan standar terbuka yang memungkinkan agen AI pribadi memperkenalkan diri kepada bisnis. Langkah ini diharapkan membantu perusahaan membedakan bot baik dan jahat, serta mengurangi hambatan teknis dalam transaksi otomatis.
"Kami ingin memastikan bahwa agen AI dapat beroperasi secara aman dan transparan, baik bagi pengguna maupun bisnis," ujar seorang juru bicara Meta dalam pernyataan resminya.
Langkah Meta ini menjadi sinyal bahwa persaingan di ranah agen AI konsumen semakin panas. Google dengan Gemini, Microsoft dengan Copilot, dan sejumlah startup seperti Anthropic dan OpenAI juga gencar mengembangkan asisten yang mampu menjalankan tugas sehari-hari. Meta berupaya menonjolkan diri melalui integrasi ekosistem yang luas, mulai dari media sosial hingga layanan periklanan.
Bagi Indonesia, kehadiran agen AI seperti Muse berpotensi mengubah lanskap digital, terutama bagi pelaku UMKM yang ingin mengotomatisasi operasional. Namun, tantangan kesiapan infrastruktur dan literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah. Regulasi perlindungan data pribadi juga perlu diperkuat agar adopsi AI tidak menimbulkan risiko privasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Meta dapat meyakinkan pengguna dan pelaku bisnis bahwa agen AI benar-benar aman dan dapat diandalkan. Jika standar terbuka yang diusungnya berhasil, bukan tidak mungkin Muse menjadi pintu masuk utama bagi interaksi manusia dengan AI dalam kehidupan sehari-hari.



