4 Pemain Timnas Indonesia Nol Menit di FIFA ASEAN Cup 2026, Rotasi Minim Herdman Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- John Herdman nyaris tak merotasi skuad selama empat laga FIFA ASEAN Cup 2026, meninggalkan empat pemain tanpa menit bermain.
- Nadeo Argawinata, Jordi Amat, Dion Markx, dan Rizky Eka Pratama harus puas menjadi penonton setia dari bangku cadangan.
- Minimnya rotasi memicu diskusi soal manajemen beban pemain dan peluang debut pemain muda di level senior.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memilih setia pada sebelas pertama yang sama sepanjang FIFA ASEAN Cup 2026. Konsekuensinya, empat pemain tidak sekalipun merasakan rumput stadion selama turnamen bergengsi Asia Tenggara itu. Nadeo Argawinata, Jordi Amat, Dion Markx, dan Rizky Eka Pratama resmi menutup kompetisi dengan catatan nol menit bermain, meski skuad Garuda akhirnya mengangkat trofi usai mengalahkan Thailand di partai puncak.
Keputusan Herdman untuk tidak melakukan rotasi besar-besaran bukan tanpa alasan. Ia membangun starting XI yang solid dan konsisten, terutama di lini belakang. Tiga bek tengah Kevin Diks, Elkan Baggott, dan Justin Hubner selalu menjadi pilihan utama di empat pertandingan, menciptakan tembok pertahanan yang sulit ditembus lawan. Di posisi kiper, Maarten Paes dipercaya pada dua laga awal dan mencatatkan dua cleansheet kontra Singapura (2-0) serta Malaysia (0-0), sebelum Emil Audero mengambil alih di dua laga berikutnya.
Di sektor penjaga gawang, persaingan memang sangat ketat. Nadeo Argawinata, kiper utama Persija Jakarta, harus rela melihat rekan-rekannya berjuang dari pinggir lapangan. Kehadiran Maarten Paes dan Emil Audero membuat posisi Nadeo terpinggirkan, meski ia memiliki kualitas yang mumpuni. Situasi serupa menimpa Jordi Amat, bek senior yang juga memperkuat Persija. Meski berpengalaman, ia kalah bersaing dengan trio Diks-Baggott-Hubner yang tampil impresif sepanjang turnamen.
Dion Markx, bek muda pinjaman Persita Tangerang dari Persib Bandung, harus menunda debutnya bersama Timnas senior. Usianya yang masih 21 tahun dan statusnya sebagai bek termuda di skuad membuat Herdman lebih memilih pemain yang lebih matang. Sementara itu, Rizky Eka Pratama, winger PSM Makassar, gagal menembus lini depan yang dihuni Ragnar Oratmangoen, Ole Romeny, dan Luke Vickery. Bahkan ketika Herdman melakukan pergantian, nama Egy Maulana Vikri dan Rayhan Hannan lebih sering dipanggil, meski menit bermain mereka juga terbatas.
"Persaingan di setiap posisi sangat ketat. Saya harus mengambil keputusan terbaik untuk tim, dan itu berarti tidak semua pemain bisa bermain," ujar Herdman dalam konferensi pers usai laga final, seperti dikutip dari keterangan resmi PSSI.
Kebijakan rotasi minim ini memunculkan diskusi di kalangan pengamat sepak bola Indonesia. Di satu sisi, konsistensi starting XI membantu tim meraih hasil maksimal dan gelar juara. Namun di sisi lain, minimnya rotasi berpotensi menghambat perkembangan pemain muda dan mengurangi kesempatan mereka mengasah kemampuan di level internasional. Apalagi, turnamen seperti FIFA ASEAN Cup seharusnya bisa menjadi ajang uji coba untuk pemain pelapis.
Konteks Indonesia: PSSI tengah mendorong regenerasi tim nasional dengan memanggil banyak pemain muda dan naturalisasi. Namun, keputusan Herdman yang enggan merotasi skuad bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia berhasil membawa pulang trofi; di sisi lain, pemain seperti Dion Markx dan Rizky Eka Pratama kehilangan momen berharga untuk menambah jam terbang. Ke depan, manajemen beban pemain dan pemberian kesempatan kepada pemain muda akan menjadi sorotan publik, terutama menjelang kualifikasi Piala Dunia 2030.
Dengan gelar juara sudah di tangan, pertanyaannya kini: apakah Herdman akan mengubah pendekatannya di turnamen berikutnya, atau tetap mengandalkan inti yang sama? Jawabannya akan menentukan arah perkembangan Timnas Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.



