Jejak Karbon Pangan: Apakah Membeli Lokal Masih Relevan di Tengah Krisis Iklim?
Baca dalam 60 detik
- Sistem pangan menyumbang hampir sepertiga emisi gas rumah kaca global, dengan transportasi berkontribusi sekitar 19 persen.
- Mengurangi konsumsi daging merah dan beralih ke protein nabati dinilai lebih efektif menekan emisi dibandingkan sekadar membeli produk lokal.
- Mendukung petani lokal dan pasar tradisional tetap penting untuk ketahanan pangan, ekonomi daerah, dan keberlanjutan jangka panjang.

Isu "food miles" atau jarak tempuh pangan kembali mencuat seiring meningkatnya kesadaran akan krisis iklim. Pertanyaannya, apakah membeli produk lokal masih menjadi langkah efektif untuk mengurangi jejak karbon, atau justru ada faktor lain yang lebih menentukan?
Food miles, yang mengukur jarak antara petani, pabrik, dan meja makan, pertama kali populer pada awal 2000-an. Konsep ini menawarkan solusi sederhana: beli produk lokal, kurangi emisi transportasi. Namun, para ahli kini menilai bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.
Dr Kimberley Reis dari Griffith University mengungkapkan bahwa rantai pasok pangan di Australia sangat dipengaruhi oleh sektor ritel besar. Makanan bisa menempuh jarak ribuan kilometer sebelum sampai ke supermarket, dan biaya transportasi ini dibebankan kepada konsumen. Ketergantungan pada impor juga menjadi sorotan ketika harga bahan bakar melonjak, seperti yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah tahun ini.
Assoc Prof Mengyu Li dari University of Sydney menegaskan bahwa sistem pangan bertanggung jawab atas hampir sepertiga emisi gas rumah kaca global. Emisi ini berasal dari berbagai tahap, mulai dari pembukaan lahan, peternakan, budidaya, pengolahan, pengemasan, transportasi, hingga limbah. "Kita tidak bisa mencapai target iklim tanpa membenahi sistem pangan," ujarnya.
Studi yang dipublikasikan di Nature Food menemukan bahwa transportasi menyumbang sekitar 19 persen dari total emisi sistem pangan. Namun, kontribusi ini bervariasi tergantung jenis pangan, jarak, moda transportasi, dan kebutuhan pendinginan. Untuk daging sapi dan domba, emisi dari metana dan pembukaan lahan justru jauh lebih besar dibandingkan emisi transportasi. "Mengganti konsumsi daging merah dengan protein nabati menawarkan peluang pengurangan emisi yang lebih besar daripada sekadar membeli lokal," jelas Li.
Meski demikian, untuk buah dan sayuran segar, transportasi dapat menjadi penyumbang emisi yang signifikan, terutama jika dikirim melalui udara atau truk berpendingin jarak jauh. Li menyarankan konsumsi sayuran lokal dan musiman sebagai langkah yang bermanfaat, sekaligus mendukung kesehatan dan ketahanan pangan komunitas.
Data dari FoodSwitch, yang dikelola George Institute for Global Health, menunjukkan pola serupa. Fraser Taylor, direktur pelaksana FoodSwitch, menyatakan bahwa mengurangi konsumsi daging secara keseluruhan dan menggantinya dengan unggas atau menu vegetarian adalah "hal terbesar" yang bisa dilakukan individu untuk menekan dampak lingkungan. Namun, ia menambahkan bahwa food miles tetap penting untuk produk tertentu seperti cokelat dan kopi, yang sering ditanam di lokasi terpencil dan berkontribusi pada deforestasi.
"Sangat penting untuk mendukung petani baru dan yang sudah ada agar tetap bertahan. Ketika Anda membeli lokal, Anda tahu dari mana makanan Anda berasal, Anda terhubung langsung dengan petani, dan Anda yakin mereka menjaga lahan serta pekerjanya," ujar Chris Ennis, eksekutif Ceres Fair Food.
Ceres Fair Food, sebuah layanan pengiriman bahan makanan online, berupaya memperpendek rantai pasok dengan mengambil hasil dari kebun pasar dan petani kecil di sekitar Melbourne. Setiap van mereka mengirim ke 40-50 rumah tangga, mengurangi emisi perjalanan konsumen ke toko. Mereka juga menawarkan kemasan yang dapat digunakan ulang dan mendaur ulang plastik lunak.
Bagi konsumen yang ingin mengurangi emisi pangan, panduan aksi iklim PBB merekomendasikan pola makan nabati, membeli lokal dan organik, mengurangi limbah makanan, serta kompos. Reis menambahkan bahwa mendukung produsen lokal dan regional membantu menjaga lapangan kerja dan kesejahteraan ekonomi daerah. "Anda bisa mencari sistem kotak online, mengunjungi pasar lokal, atau bergabung dengan komunitas berkebun," sarannya.
Di Indonesia, isu food miles juga relevan. Sebagai negara kepulauan, distribusi pangan sering kali melibatkan perjalanan laut dan udara yang panjang, terutama untuk produk dari luar Jawa. Ketergantungan pada impor untuk komoditas tertentu, seperti gandum dan kedelai, turut menyumbang emisi. Namun, kearifan lokal seperti pasar tradisional dan pertanian urban semakin mendapat perhatian. Program seperti "Kampung Iklim" dan gerakan urban farming di kota-kota besar menunjukkan kesadaran akan pentingnya pangan lokal. Tantangannya adalah memastikan akses pasar dan harga yang adil bagi petani kecil, sekaligus mengedukasi konsumen tentang dampak pilihan pangan mereka.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar lokal versus global, melainkan bagaimana mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap keputusan pangan. Apakah konsumen akan lebih memilih produk nabati dan lokal, atau akankah kebiasaan lama tetap bertahan? Waktu yang akan menjawab, tetapi pilihan hari ini menentukan masa depan iklim.



