Matthew Lillard Jual Rumah dan Mobil saat Karier Hollywood Anjlok: 'Saya Pikir Saya Bintang Besar'
Baca dalam 60 detik
- Aktor Scream, Matthew Lillard, mengungkapkan bahwa ia harus menjual rumah dan mobil serta hidup lebih sederhana setelah kariernya meredup pasca-franchise Scooby-Doo.
- Istri Lillard, Heather, kembali bekerja dan menjadi pencari nafkah utama, sebuah titik balik yang ia syukuri karena membuatnya sadar akan posisinya sebagai aktor karakter.
- Meski kini kembali ke Scream dan Five Nights at Freddy's, Lillard masih merasa tidak dihargai Hollywood karena tak sesuai dengan citra bintang film konvensional.

Aktor Matthew Lillard, yang dikenal luas lewat perannya di Scream dan Scooby-Doo, mengungkapkan bahwa ia harus merelakan rumah dan mobilnya setelah karier aktingnya mengalami kemunduran drastis pada pertengahan 2000-an. Dalam wawancara terbaru, ia mengisahkan bagaimana kehidupan keluarganya berubah total ketika tawaran peran mengering.
Lillard, 56 tahun, mengaku sempat yakin bahwa kesuksesan Scooby-Doo 2: Monsters Unleashed (2004) akan mengangkat namanya ke jajaran bintang papan atas Hollywood. Namun, ekspektasi itu tak terwujud. Sebaliknya, ia justru menghadapi masa-masa sulit mencari pekerjaan. "Saya merasa Scooby-Doo adalah film besar, dan saya akan menjadi bintang film besar. Tapi setelah film kedua, karier saya benar-benar menukik untuk waktu yang lama," ujarnya dalam serial video Know Their Lines milik Variety.
Dampaknya pada keuangan keluarga sangat serius. Lillard dan istrinya, Heather, terpaksa menjual aset-aset penting. "Kami menjual mobil, kami menjual rumah. Kami benar-benar menyederhanakan hidup agar bisa bertahan dengan biaya yang sangat terjangkau," kenangnya. Heather pun kembali bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Momen itu, kata Lillard, menjadi titik balik yang menyadarkannya akan realitas industri hiburan.
Meski sempat menyimpan rasa kesal terhadap Scooby-Doo, Lillard menegaskan tidak pernah menyesali keputusan membintangi film tersebut. "Saya tidak akan bertahan tanpa uang dari film kedua. Itu menyelamatkan kami," akunya. Ia juga mengakui bahwa kesuksesan yang ia bayangkan sebelumnya hanyalah ilusi. "Saya selalu aktor karakter, tapi saya pikir saya lebih dari itu. Ada proses kerendahan hati yang terjadi setelah film itu, dan sekarang saya sangat bersyukur," tambahnya.
"Saya selalu aktor karakter, dan saya pikir saya lebih dari itu. Ada kerendahan hati yang nyata setelah film ini, yang sekarang saya syukuri." โ Matthew Lillard
Perjalanan karier Lillard memang penuh liku. Setelah vakum dari sorotan, ia kembali ke franchise Scream dan mendapatkan basis penggemar baru lewat perannya sebagai William Afton dalam Five Nights at Freddy's (2023). Namun, ia mengaku masih harus berjuang keras untuk mendapatkan peran. "Saya masih berjuang untuk pekerjaan sekarang," tegasnya.
Dalam podcast I've Never Said This Before, Lillard menyatakan merasa tidak dihargai oleh Hollywood karena penampilannya tidak sesuai dengan standar bintang film konvensional. "Mereka mencari bintang film. Mereka mencari yang tampan. Mereka ingin memasukkan Anda ke dalam gelembung atau kotak tertentu. Saya tidak pernah cocok dengan gelembung sempurna itu," ujarnya. Ia menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang unik, sedikit canggung, penuh energi, dan bisa berakting drama, namun industri sering bingung menempatkannya.
Kisah Lillard mencerminkan realitas pahit industri hiburan: kesuksesan komersial tidak selalu menjamin stabilitas karier jangka panjang. Banyak aktor karakter menghadapi ketidakpastian pendapatan dan tekanan untuk terus membuktikan diri. Di Indonesia, fenomena serupa juga dialami sejumlah aktor yang pernah populer pada era 1990-an atau 2000-an, yang harus beralih profesi atau mengencangkan ikat pinggang ketika tawaran menurun.
Ke depan, Lillard berharap bisa terus bekerja dan mendapatkan peran yang menantang. Namun, ia sadar bahwa perjuangannya belum berakhir. "Saya tidak tahu apakah saya akan pernah merasa dihargai sepenuhnya, tapi saya tidak akan berhenti," pungkasnya. Pertanyaannya, akankah Hollywood mulai melihat nilai lebih dari sekadar citra bintang film?



