Raven-Symoné Ungkap Tekanan Citra Tubuh Sejak Usia 9: Berhenti Makan Bagel demi Kostum
Baca dalam 60 detik
- Raven-Symoné mengaku sudah menghindari bagel sejak usia sembilan tahun karena komentar desainer kostum tentang bentuk perutnya.
- Ia menyesali operasi reduksi payudara yang dijalaninya pada usia 15 tahun dan menyebut keputusan itu terburu-buru.
- Pengalaman pahitnya menyoroti bagaimana industri hiburan memperlakukan tubuh artis muda, sebuah pola yang menurutnya mulai berubah.

Raven-Symoné, aktris yang dikenal lewat serial Disney Channel That's So Raven, mengungkap bahwa ia berhenti mengonsumsi bagel dan krim keju sejak usia sembilan tahun. Keputusan itu bukan didasari alasan kesehatan, melainkan tekanan dari sesi fitting kostum yang membuatnya sadar bentuk perutnya akan menjadi sorotan.
Dalam wawancara di podcast Allure Perspectives, perempuan 40 tahun itu menuturkan bahwa desainer kostum kerap melontarkan komentar blak-blakan tentang tubuhnya saat menentukan pakaian untuk syuting. “Saat itu saya tahu, pagi-pagi saya tidak boleh makan bagel,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kostum akan memperlihatkan perutnya yang buncit.
Raven mulai berakting pada usia tiga tahun dan baru menginjak remaja ketika membintangi serialnya sendiri. Pengalaman itu membuatnya tumbuh dengan kulit tebal, tetapi juga meninggalkan luka batin. Ia bersyukur bahasa yang digunakan dalam sesi fitting kini lebih terjaga, meski ia menilai perubahan itu belum cukup.
Bukan hanya soal pola makan. Raven juga mengaku menyesali operasi reduksi payudara yang dijalaninya saat berusia 15 tahun. Menurutnya, keputusan itu diambil terlalu dini. “Saya seharusnya menunggu setelah pubertas. Operasinya terburu-buru,” katanya. Ia berharap dulu lebih kuat untuk menolak.
Tekanan untuk mengubah bentuk tubuh datang dari berbagai arah. Raven mengungkapkan bahwa ayahnya sendiri “sangat menyarankan” operasi tersebut. Seseorang bahkan mengatakan bahwa ia perlu melakukannya agar mendapatkan kesempatan tampil di sebuah acara. Ia pun menjalani operasi yang membawa dampak jangka panjang: bekas luka yang masih ada hingga kini, kenaikan berat badan, dan kejang saat bangun dari anestesi.
“Saya ingin semua orang berada dalam kondisi mental yang sehat. Masyarakat perlu lebih sadar bahwa ucapan seperti ‘kostum ini harus dilebarkan’ bisa memicu body dysmorphia,” tutur Raven.
Di saat yang sama, ia juga menjalani sedot lemak karena mendengar komentar tentang berat badannya. “Saya pikir, kalau saya sedot lemak, apakah orang akan berhenti menyebut saya gemuk? Jadi saya lakukan dua operasi sekaligus,” kenangnya.
Kisah Raven bukan kasus tunggal. Industri hiburan, terutama di Amerika Serikat, telah lama dikritik karena menuntut standar penampilan yang tidak realistis, khususnya bagi artis muda. Banyak mantan bintang cilik yang kemudian berbicara tentang dampak psikologis dari tekanan tersebut. Perkembangan media sosial memperparah situasi, karena komentar tentang tubuh kini datang dari jutaan orang, bukan hanya dari desainer kostum atau produser.
Namun, perubahan mulai terlihat. Beberapa studio dan agensi kini menyediakan pendampingan psikologis untuk artis muda, dan ada pula yang menerapkan protokol ketat tentang komentar tubuh di lokasi syuting. Meski demikian, praktik lama masih sulit dihapus sepenuhnya.
Bagi Raven, perjalanan ini adalah bagian dari proses penyembuhan. Ia kini aktif berbicara tentang kesehatan mental dan citra tubuh, berharap pengalamannya bisa menjadi pelajaran. “Saya tidak ingin ada anak lain yang merasa harus mengubah dirinya hanya agar diterima,” pungkasnya.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat industri hiburan benar-benar berubah. Apakah protokol baru akan diikuti secara konsisten, ataukah tekanan terhadap tubuh artis muda akan terus berlanjut di balik layar?



