Sorkin Bongkar Peran Baru Zuckerberg di The Social Reckoning: Bukan Penjahat, Tapi Antagonis
Baca dalam 60 detik
- Aaron Sorkin menegaskan Mark Zuckerberg bukanlah sosok jahat dalam The Social Reckoning, melainkan antihero yang metode kerjanya telah menyimpang.
- Jeremy Strong, pemeran Zuckerberg, mengirim surat pribadi kepada pendiri Meta itu untuk menyatakan komitmennya memerankan tokoh secara hormat.
- Film ini menandai pergeseran fokus dari pendiri Facebook ke aktivis Frances Haugen, menawarkan perspektif baru tentang etika platform digital.

Aaron Sorkin memastikan bahwa Mark Zuckerberg tidak digambarkan sebagai penjahat dalam The Social Reckoning, sekuel dari The Social Network (2010). Dalam film terbaru yang ia tulis dan sutradarai, Sorkin menempatkan Zuckerberg sebagai antihero—sosok dengan niat baik, tetapi terjebak dalam cara yang menyimpang. Pernyataan ini menepis spekulasi bahwa film akan menampilkan pendiri Meta tersebut sebagai antagonis utama.
Berbeda dari The Social Network yang menjadikan Zuckerberg sebagai protagonis, The Social Reckoning mengalihkan sorotan ke Frances Haugen, whistleblower yang membocorkan dokumen internal Facebook. Menurut Sorkin, perubahan fokus ini mencerminkan pergeseran narasi: dari kisah pendirian platform menjadi pertanyaan etis tentang dampak media sosial. "Karakter Mark Zuckerberg memiliki fungsi berbeda di film ini," ujarnya kepada Variety. "Dia antihero, bukan penjahat. Tujuannya baik—menghubungkan orang—tetapi metodenya telah terdistorsi."
Sorkin menambahkan bahwa dalam menulis karakter antihero, ia tidak boleh menghakimi. "Anda harus menulis seolah-olah mereka sedang membela diri di hadapan Tuhan," katanya. Pendekatan ini juga diadopsi oleh Jeremy Strong, yang memerankan Zuckerberg. Strong disebut sebagai pembela terbesar Zuckerberg, bahkan sebelum syuting dimulai. Sorkin mengungkapkan bahwa Strong menulis surat kepada Zuckerberg untuk menyatakan niatnya memerankan tokoh itu dengan hormat.
"Saya tidak membaca suratnya, tapi saya tahu Jeremy menulis kepada Mark, memberi tahu bahwa ia akan memerankan peran itu dengan hormat dan membela Mark." — Aaron Sorkin
Strong sendiri mengaku siap mengambil risiko dalam kariernya. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, ia menyebut profesinya sebagai aktor itu absurd. "Saya bukan Mark Zuckerberg, tapi tugas saya adalah meyakini bahwa saya adalah dia dengan penuh wibawa. Itu butuh konsentrasi dan kepercayaan besar antara saya dan Aaron," ujarnya. Strong merasa tertantang untuk "berlari menuju bahaya"—sebuah frasa yang ia pinjam dari judul buku Sarah Polley—demi memberikan penampilan terbaik.
Bagi industri film, The Social Reckoning berpotensi menjadi cermin bagi raksasa teknologi yang kerap luput dari kritik. Sorkin, yang dikenal lewat naskah tajam seperti The West Wing dan The Newsroom, tampaknya ingin menggali dilema moral di balik inovasi digital. Film ini juga bisa memicu diskusi publik tentang regulasi platform dan tanggung jawab sosial perusahaan teknologi—isu yang semakin relevan di Indonesia, di mana penetrasi media sosial tinggi namun literasi digital masih timpang.
Dengan pendekatan yang tidak menghakimi, Sorkin dan Strong tampaknya ingin menantang penonton untuk melihat sisi manusiawi dari tokoh yang sering dianggap kontroversial. Apakah film ini akan mengubah persepsi publik terhadap Zuckerberg, atau justru memperkuat kritik terhadap Meta? Jawabannya baru akan terlihat setelah film dirilis.



