Monica Keena: Membunuh Freddy Krueger Obat Trauma Masa Kecil
Baca dalam 60 detik
- Aktris Monica Keena mengaku perannya di Freddy vs. Jason (2003) menjadi terapi psikologis setelah film A Nightmare on Elm Street (1984) menghantui masa kecilnya.
- Trauma yang dialaminya hingga harus menjalani perawatan medis mendorongnya menekuni dunia akting, khususnya genre horor.
- Robert Englund, pemeran ikonik Freddy Krueger, menegaskan tak akan lagi memerankan karakter tersebut karena faktor usia, meski reboot tengah disiapkan.

Monica Keena, aktris yang memerankan Lori Campbell dalam film Freddy vs. Jason (2003), mengungkapkan bahwa adegan pembunuhan terhadap Freddy Krueger menjadi semacam katarsis atas trauma masa kecilnya. Dalam wawancara dengan Nerd Reactor, ia menuturkan bahwa film A Nightmare on Elm Street (1984) telah meninggalkan luka psikologis yang mendalam saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Keena menceritakan bahwa setelah menonton film tersebut, ia mengalami ketakutan hebat hingga kehilangan nafsu makan dan berat badan. Ibunya membawanya ke dokter anak karena khawatir, sementara guru-guru di sekolah sempat mencurigai adanya kekerasan di rumah. "Saya bilang, ada pria bernama Freddy Krueger," kenangnya. Dokter kemudian menjelaskan bahwa Freddy hanyalah karakter fiksi, dan ibunya bahkan menunjukkan kliping koran tentang Robert Englund untuk meyakinkannya.
Pengalaman pahit itu justru membentuk jalan kariernya. Keena bertekad menjadi aktris agar bisa membalas "dendam" kepada Freddy. Ia pun merasa puas ketika akhirnya karakternya berhasil menghabisi sang tokoh antagonis. "Itu benar-benar katarsis karena saya bisa membunuhnya. Akhirnya saya bisa membunuhnya," ujarnya.
"Saya selalu bilang, ketika besar nanti saya akan menjadi aktris dan tidak akan membuat film yang menakuti anak-anak. Tapi di sini saya sekarang. Intinya, saat itu sangat katarsis karena saya bisa membunuhnya."
โ Monica Keena
Sementara itu, Robert Englund yang telah identik dengan Freddy Krueger menegaskan bahwa ia sudah terlalu tua untuk kembali memerankan karakter tersebut dalam film live-action. Dalam wawancara dengan Bloody Disgusting, ia menyatakan bahwa usia menghalanginya melakukan adegan-adegan fisik yang menuntut. "Tidak ada lagi Freddy dalam diri saya," tegasnya. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan untuk mengisi suara dalam versi animasi berkualitas tinggi.
Kisah Monica Keena menyoroti bagaimana karya fiksi horor dapat berdampak jangka panjang pada psikologi anak. Di Indonesia, diskusi mengenai klasifikasi usia dan pendampingan orang tua saat menonton film horor masih sering terabaikan. Pengalaman Keena bisa menjadi cermin betapa pentingnya literasi media bagi keluarga, terutama di era platform streaming yang mudah diakses anak-anak.
Dengan reboot A Nightmare on Elm Street yang tengah disiapkan, pertanyaannya: akankah Hollywood lebih peka terhadap dampak psikologis penonton muda, atau justru mengulang trauma yang sama dengan wajah baru?



