Dolly Parton Estate Accuses Nephew of Evading Summons with Barbed Wire
Baca dalam 60 detik
- Bryan Seaver, keponakan Dolly Parton, dituduh menghindari panggilan pengadilan dengan memasang kawat berduri di kediamannya.
- Pihak estate Parton mengklaim Seaver telah tiga kali gagal menerima surat panggilan, dan meminta pengadilan bersikap skeptis terhadap alasannya.
- Seaver membantah tuduhan dan menyebut kasus ini sebagai 'sandiwara publisitas', sementara sidang ditunda hingga 20 Oktober.

Pertarungan hukum antara estate Dolly Parton dan keponakannya, Bryan Seaver, memanas. Perusahaan She's Alive, yang dibentuk Parton untuk melindungi kepentingan bisnisnya setelah wafat, menuduh Seaver sengaja menghindari panggilan pengadilan dengan cara ekstrem: memasang kawat berduri di kediamannya.
Menurut dokumen yang diperoleh PEOPLE, She's Alive telah tiga kali mencoba menyerahkan surat panggilan kepada Seaver. Pada upaya kedua, empat mobil terparkir di halaman rumahnya, tetapi tidak ada yang membuka pintu. Belakangan, rumah Seaver dipasangi tanda dilarang masuk dan kawat berduri melintang di pegangan tangga menuju pintu depan. Estate Parton menilai tindakan itu sebagai upaya sistematis untuk menghindari proses hukum.
Seaver, yang dipecat bulan lalu dari posisi kepala keamanan Parton, membantah semua tuduhan. Ia menyebut kasus ini sebagai 'sandiwara publisitas' dan menegaskan bahwa teks yang dituduhkan telah diambil di luar konteks. 'Dolly memanggil saya pembunuhnya. Itu lelucon yang kami gunakan di lingkarannya,' ujarnya kepada ABC News. Ia juga mengklaim bahwa estate telah menyepakati kontrak layanan perpetuitas sebelum akhirnya memecatnya dengan alasan yang dibuat-buat.
Perseteruan ini bermula dari tuduhan bahwa Seaver melontarkan ancaman yang merujuk pada latar belakang militernya. Manajer Parton, Danny Nozell, mengajukan permohonan perintah perlindungan atas nama She's Alive, menuduh Seaver mengancam dan mencoba memerasnya. Dalam dokumen pengadilan, estate mengklaim Seaver melancarkan 'kampanye ancaman, intimidasi, dan paksaan' beberapa minggu sebelum Parton wafat. Ia disebut berjanji akan 'menghancurkan seluruh merek' dan mengatakan kepada pengacara hiburan Parton, 'Saya bukan orang hiburan. Saya pembunuh.'
Seaver membantah keras tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa julukan 'pembunuh' adalah panggilan sayang dari Parton sendiri. 'Saya adalah ninja anak laki-lakinya,' katanya. Ia menuduh Nozell sengaja menafsirkan pesan itu secara keliru untuk menjatuhkannya. Hingga kini, belum ada bukti independen yang memverifikasi klaim kedua belah pihak.
Kasus ini menyoroti kerumitan pengelolaan warisan selebritas besar, terutama ketika konflik melibatkan anggota keluarga. Estate Parton tampaknya berupaya keras melindungi warisan sang ikon country, sementara Seaver bersikeras bahwa ia diperlakukan tidak adil. Publik pun menanti apakah pengadilan akan memihak estate atau justru mengungkap fakta baru yang meringankan Seaver.
Dengan sidang yang dijadwalkan ulang pada 20 Oktober, pertanyaan besarnya: akankah Seaver akhirnya menghadapi proses hukum secara langsung, atau akankah ia kembali mencari celah untuk menghindar? Yang jelas, drama hukum ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.



