Dennis Haskins, 'Mr. Belding' dalam Saved by the Bell, Meninggal Akibat Parkinson
Baca dalam 60 detik
- Dennis Haskins, aktor yang memerankan Principal Belding, meninggal pada 27 September di usia 75 tahun.
- Sertifikat kematian mengungkap Parkinson sebagai penyebab utama, disertai sejumlah kondisi kronis lain.
- Haskins menyembunyikan diagnosisnya selama bertahun-tahun dan menghabiskan masa akhir hidup di fasilitas perawatan.

Aktor Dennis Haskins, yang dikenal luas sebagai Principal Richard Belding dalam sitkom remaja NBC Saved by the Bell, menghembuskan napas terakhir pada 27 September di Providence Saint Joseph Medical Center, Burbank, California. Ia berusia 75 tahun. Kabar duka ini pertama kali dikonfirmasi oleh agennya, Jay Schacher, sehari setelah kepergiannya, dan kemudian diperkuat oleh dokumen resmi yang diperoleh TMZ.
Dokumen tersebut mengungkap bahwa penyakit Parkinson menjadi penyebab langsung kematian Haskins. Namun, sertifikat itu juga mencantumkan sejumlah kondisi signifikan lain yang menyertainya: sindrom iritasi usus, depresi, hipertensi, dan pembesaran prostat jinak. Kombinasi ini menunjukkan bahwa di tahun-tahun terakhirnya, Haskins berjuang melawan berbagai masalah kesehatan yang kompleks dan saling terkait.
Menurut laporan TMZ, Haskins menjalani masa senjanya di sebuah assisted-living facility. Ia dilaporkan memutus kontak dengan mantan istrinya, Sarah Quinones, serta sejumlah sahabat dekat. Alasan di balik keputusan itu bukanlah konflik pribadi, melainkan keinginan kuat untuk merahasiakan penyakit yang dideritanya. "Dia tidak ingin ada yang tahu bahwa dia sedang menderita," demikian bunyi laporan tersebut, mengutip sumber terdekat.
Sikap tertutup itu juga ditegaskan oleh Dimples Karaoke Bar di Burbank, tempat Haskins menghabiskan banyak waktu. Lewat unggahan di Instagram, bar tersebut mengenang bahwa Haskins telah didiagnosis Parkinson sekitar delapan tahun lalu, tetapi memilih bungkam karena "tidak ingin menarik perhatian". "Dia tidak tahu harus berkata apa. Jadi saya menghormati keinginannya dan tetap diam, serta membantunya melewati perjalanan ke babak hidup berikutnya," tulis pihak Dimples. Mereka menambahkan bahwa Haskins begitu lekat dengan tempat itu sehingga banyak orang mengira dia pemiliknya. "Dia mencintai tempat itu dan orang-orangnya. Dia senang bernyanyi, bertemu penggemar, dan berfoto selfie bersama mereka."
"Semua orang mencintai Mr. Belding, dan bagi kami yang mengenal Dennis, kami mencintainya lebih dari itu. Dia orang yang hebat, dan dia sangat mencintai penggemarnya. Dia selalu punya waktu untuk mereka, apa pun yang terjadi." — Jay Schacher, agen Haskins, kepada People.
Schacher, yang mendampingi Haskins selama lebih dari dua dekade, menyebut kepergian aktor itu sebagai kehilangan yang tragis. "Dia klien dan sahabat saya selama lebih dari 20 tahun, dan saya akan sangat merindukannya. Saya patah hati," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa di balik sosoknya yang dikenal ramah, Haskins menyimpan pergulatan pribadi yang tidak banyak diketahui publik.
Karier Haskins di dunia hiburan dimulai jauh sebelum ia menjadi ikon televisi remaja. Debut layar lebarnya terjadi pada 1976 lewat serial aksi-komedi CBS, The Dukes of Hazzard. Namun, namanya melejit setelah memerankan Principal Belding di keempat musim Saved by the Bell. Peran itu melekat begitu kuat sehingga ia nyaris tidak pernah lepas dari bayang-bayang karakter tersebut. Penampilan terakhirnya sebagai Belding terjadi pada 2015, saat ia bergabung dengan para bintang serial itu—Tiffani Thiessen, Mario Lopez, Mark-Paul Gosselaar, dan Elizabeth Berkley—dalam sebuah sketsa di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon.
Kepergian Haskins menambah daftar panjang selebritas yang berjuang melawan Parkinson di usia senja. Penyakit neurodegeneratif ini memang kerap disertai komplikasi lain seperti depresi dan gangguan metabolik, yang bisa memperburuk kualitas hidup penderitanya. Bagi industri hiburan, khususnya di Amerika Serikat, sosok Haskins mengingatkan bahwa di balik gemerlap layar, banyak aktor menghadapi masa tua yang sunyi dan penuh tantangan kesehatan.
Di Indonesia, fenomena serupa juga menghantui para figur publik senior. Kesadaran akan pentingnya dukungan kesehatan mental dan fisik bagi para lansia—terutama mereka yang pernah menjadi sorotan—masih menjadi pekerjaan rumah. Kasus Haskins bisa menjadi cermin betapa isolasi dan keengganan mencari bantuan dapat memperburuk kondisi penderita penyakit kronis. Ke depan, apakah industri hiburan akan lebih peduli pada kesejahteraan para veteran panggung? Ataukah kisah seperti ini akan terus berulang tanpa perubahan berarti?



