Umuh Muchtar Debut Jadi Komentator: Pilih Diam dan Berdoa Saat Persib Tertinggal
Baca dalam 60 detik
- Umuh Muchtar menjalani debut sebagai komentator dalam laga Persib vs Port FC yang disiarkan di kanal YouTube RANS Entertainment.
- Momen paling mencolok terjadi saat Persib tertinggal 0-1; ia memilih bungkam dan memanjatkan doa, bukan mengomentari jalannya pertandingan.
- Pengalaman ini menandai babak baru peran publik Umuh setelah pulih dari masalah kesehatan, sekaligus memperlihatkan kedekatannya dengan Raffi Ahmad.

Manajer Persib Bandung yang juga Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar, mencoba peran baru sebagai komentator dalam laga Persib versus Port FC di kanal YouTube RANS Entertainment, Kamis (8/10/2026) malam. Penampilan perdananya itu menyita perhatian penonton, bukan hanya karena komentarnya, tetapi karena sikapnya yang tak biasa ketika tim kesayangannya berada dalam tekanan.
Bagi pria yang akrab disapa Haji Umuh ini, menjadi komentator bukan pekerjaan yang biasa ia lakoni. Selama bertahun-tahun, ia lebih sering muncul sebagai narasumber di radio atau bintang tamu di televisi. Undangan dari Raffi Ahmad menjadi pintu masuknya ke format siaran langsung yang lebih informal dan interaktif. Menurut Umuh, kedekatan personal dengan Raffi membuatnya tidak ragu menerima tawaran tersebut, terutama setelah ia merasakan perhatian langsung dari presenter sekaligus pengusaha hiburan itu saat dirinya sakit.
"Ini pertama saya jadi komentator, saya diajak Raffi Ahmad. Dia memang sangat baik. Waktu saya sakit, dia juga menjenguk bersama Melly Goeslaw," ujar Umuh, Jumat (9/10/2026).
Pengalaman itu rupanya bukan sekadar soal tampil di depan kamera. Umuh mengungkapkan bahwa Raffi Ahmad berjasa memperkenalkannya kepada Profesor Terawan dari RSPAD saat ia menjalani pemulihan kesehatan. Kini kondisinya berangsur membaik, dan ia mengaku merasa jauh lebih sehat setelah keluar dari rumah sakit. Pemulihan itu pula yang membuatnya kembali bersemangat menjalani berbagai aktivitas, termasuk menerima tawaran menjadi komentator meski harus pulang hingga menjelang subuh.
Yang membuat penampilannya berbeda adalah reaksinya terhadap dinamika pertandingan. Ketika Persib tertinggal 1-0, Umuh memilih menahan diri. Ia tidak melontarkan analisis teknis atau kritik, melainkan lebih banyak diam sambil memanjatkan doa dalam hati. Sikap itu berubah drastis setelah skor berbalik menjadi 1-1, lalu 2-1, dan akhirnya 3-1. Antusiasmenya meledak seiring kebangkitan tim, seolah ia sedang menonton sebagai suporter biasa, bukan komentator netral.
"Waktu 1-0, saya tidak banyak komentar. Banyak diam, cuma berdoa di dalam hati. Ya, alhamdulillah, setelah 1-1, 2-1, hingga 3-1. Itulah jiwa saya," ungkapnya sambil tersenyum.
Reaksi semacam ini memperlihatkan bahwa peran komentator bagi figur seperti Umuh tidak bisa dilepaskan dari identitasnya sebagai orang dalam Persib. Ia bukan pengamat independen yang menjaga jarak emosional. Sebaliknya, ia membawa serta seluruh beban dan harapan seorang manajer yang telah lama hidup dalam denyut nadi klub. Bagi sebagian penonton, keaslian sikap itu justru menjadi daya tarik tersendiri di tengah siaran olahraga yang sering kali terjebak pada format kaku.
Umuh juga menyebut dirinya puas dengan penampilan perdana tersebut. Sambutan positif dari Raffi Ahmad, Ariel Noah, Atep, dan Valentino Simanjuntak, serta para penonton, membuatnya semakin menikmati peran baru itu. Ia bahkan mengaku cocok dengan format siaran yang santai dan cair. Namun, di sisi lain, ia tetap menegaskan keyakinannya terhadap pelatih baru Persib, Igor Tolic, untuk melanjutkan prestasi tim pada musim mendatang. Dua hal ini menunjukkan bahwa Umuh sedang menempati posisi ganda: figur manajerial yang serius sekaligus wajah publik yang semakin akrab dengan dunia hiburan digital.
Fenomena ini menarik dicermati dalam konteks industri sepak bola Indonesia. Kolaborasi antara tokoh klub dan kanal hiburan seperti RANS Entertainment menandakan batas antara sepak bola, hiburan, dan bisnis konten semakin tipis. Kehadiran Umuh di ruang siaran digital bukan hanya soal popularitas pribadi, tetapi juga bagian dari strategi memperluas jangkauan pasar Persib dan Liga 1 ke audiens yang lebih muda. Pertanyaannya, apakah model kolaborasi semacam ini akan menjadi tren tetap atau sekadar eksperimen sesaat? Jika terus berlanjut, klub-klub lain mungkin akan berlomba menghadirkan figur sentral mereka di platform digital untuk meraih perhatian yang sama.



