Kisah Joey Pelupessy dan Dean James: Dari Teman Sekamar hingga Pahlawan Juara Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Joey Pelupessy dan Dean James menjadi kunci sukses Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand via adu penalti 4-2.
- Keduanya dinaturalisasi pada Maret 2025 dan langsung membangun chemistry sebagai teman sekamar, dengan cerita-cerita ringan yang memperkuat kekompakan tim.
- Gelar juara ini menjadi penebusan bagi Pelupessy yang sebelumnya gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026, sekaligus menandai kebangkitan sepak bola nasional.

Timnas Indonesia akhirnya mengakhiri dahaga gelar di kancah regional setelah menumbangkan Thailand melalui drama adu penalti 4-2 (2-2) pada laga final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026). Dua nama mencuat dalam kesuksesan ini: Joey Pelupessy dan Dean James, yang tak hanya bersinar di lapangan tetapi juga memiliki ikatan personal yang unik.
Pelupessy menjadi salah satu pemain dengan menit bermain terbanyak sepanjang turnamen. Bersama Kevin Diks dan Elkan Baggott, ia mencatatkan 390 menit dalam empat pertandingan. Sementara Dean James tampil heroik di partai puncak dengan mencetak satu gol di waktu normal dan satu gol penentu di babak adu penalti. Kontribusi keduanya menjadi fondasi kemenangan Garuda.
Kisah keduanya dimulai ketika mereka resmi dinaturalisasi dan mengucapkan sumpah sebagai Warga Negara Indonesia pada 10 Maret 2025 di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma, Italia. Saat itu, ada juga penjaga gawang Emil Audero yang mendapat paspor Indonesia. Namun, chemistry antara Pelupessy dan James langsung terbentuk begitu mereka bergabung dengan skuad.
Media Belanda Oost Sport mengulik lebih dalam tentang persahabatan mereka. Sekitar satu setengah tahun lalu, keduanya langsung merasa cocok. Pelupessy berbagi anekdot lucu saat mereka berbagi kamar hotel. "Saat menjalani laga internasional, kami berbagi kamar. Awalnya Dean perlu ke toilet tengah malam. Bukannya kembali ke tempat tidurnya, dia malah merangkak ke tempat tidurku. Saat aku tanya, dia kaget dan kami tertawa terbahak-bahak," ujarnya.
Dean James juga mengungkapkan kekagumannya pada kebiasaan Pelupessy. "Aku orang yang lebih tenang. Saat alarm berbunyi, aku biasanya tetap berbaring. Hampir setiap pagi, dia akan menyapa: 'Selamat pagi, juara.' Dia sudah rapi dengan gel rambut dan pakaian lengkap. Kami sering menertawakan itu. Dia bangun sangat bersemangat, sementara aku sebaliknya," tutur pemain Go Ahead Eagles tersebut. "Sepertinya aku belum pernah tertawa sebanyak ini selama jeda internasional. Dia sosok istimewa, mudah bergaul, dan aku senang berbagi kamar dengannya."
Bagi Pelupessy, gelar ini menjadi penebusan setelah kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026. "Kami bermain di final melawan Thailand di hadapan 70.000 penonton, dan masih ada 10.000 orang di luar stadion. Rasa sakit akibat kekalahan itu membekas lama. Biasanya saya tidak terlalu lama meratapi kekalahan, tapi yang satu ini butuh waktu. Namun, itu juga memberi keyakinan bahwa kami mampu memenangkan sesuatu," tandasnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran naturalisasi yang belakangan menjadi strategi PSSI. Kedatangan pemain seperti Pelupessy, James, dan Audero menambah kedalaman skuad, tetapi juga memunculkan diskusi tentang identitas dan pembinaan pemain lokal. Meski demikian, prestasi di ASEAN Cup 2026 setidaknya membuktikan bahwa integrasi pemain keturunan dapat berjalan efektif bila didukung chemistry yang baik.
Setelah perayaan, Pelupessy langsung bertolak ke Eropa untuk bergabung dengan Lommel SK yang akan berlaga di Liga Belgia pada Jumat mendatang. Sementara Dean James kembali ke Go Ahead Eagles. Ke depan, tantangan bagi Timnas Indonesia adalah menjaga konsistensi di level yang lebih tinggi, seperti Kualifikasi Piala Asia dan Piala Dunia 2030. Mampukah generasi ini mengulang sukses dan membawa sepak bola Indonesia ke panggung global?



