Pencurian 30.000 Botol Anggur Antinori: Kerugian Rp88 Miliar dan Alarm bagi Industri Wine Italia
Baca dalam 60 detik
- Sindikat bersenjata teknis membobol gudang Marchesi Antinori di Cortona dan menggasak 30.000 botol senilai €5 juta, menjadikannya perampokan anggur terbesar dalam sejarah Italia.
- Pelaku mematikan sistem alarm dan kamera sebelum memakai forklift perusahaan untuk memuat dua truk, menunjukkan pengetahuan internal yang mendalam.
- Kasus ini membuka celah asuransi dan keamanan rantai pasok wine global, dengan potensi peredaran botol curian ke pasar gelap kolektor.

Sebuah sindikat terorganisir membobol gudang penyimpanan Marchesi Antinori di Cortona, Tuscany, dan membawa kabur 30.000 botol anggur senilai €5 juta (sekitar Rp88 miliar). Peristiwa ini disebut sebagai pencurian anggur terbesar yang pernah tercatat di Italia, mencuatkan pertanyaan serius tentang kerentanan rantai pasok produk mewah.
Aksi itu terjadi pada Sabtu pekan lalu, namun baru terungkap Senin pagi ketika karyawan tiba untuk bekerja. Sekurangnya tujuh pelaku bertopeng menonaktifkan alarm dan kamera pengawas sebelum menggunakan forklift milik perusahaan untuk memuat dua truk besar. Mereka membawa botol-botol dari vintage 2023, termasuk label ikonik seperti Solaia, Guado al Tasso, dan Tignanello—anggur merah yang dikenal sebagai salah satu pionir tanpa campuran anggur putih di Tuscany. Harga per botol berkisar €120 hingga €400, dengan sebagian dalam ukuran magnum.
Renzo Cotarella, CEO Marchesi Antinori, mengungkapkan kepada Corriere della Sera bahwa sindikat tersebut sangat terlatih. "Pencurian dengan skala dan nilai seperti ini belum pernah terjadi di Italia," ujarnya. Ia menaruh harapan besar pada penyelidik untuk melacak anggur curian, termasuk 3.000 botol Barolo Ginestra. "Dua truk penuh barang tidak mungkin hilang begitu saja. Jalanan Tuscany penuh kamera. Mungkin dengan sedikit keberuntungan, setidaknya sebagian botol bisa ditemukan," tambahnya.
Cotarella menduga kelompok yang sama mungkin terlibat dalam serangkaian pencurian di kilang anggur Italia beberapa bulan terakhir, termasuk insiden di Alba, Piedmont, pertengahan September. Namun, ia tak pernah membayangkan perampokan sebesar ini menimpa perusahaannya. Polis asuransi yang dimiliki tidak mencakup pencurian anggur dengan nilai fantastis. "Kami selalu mempertimbangkan kemungkinan beberapa krat hilang saat pengiriman, tapi bukan dua truk masuk ke gudang dan membawa kabur sebanyak itu," jelasnya.
"Kami telah memperingatkan pelanggan untuk waspada terhadap tawaran anggur kami di luar saluran resmi." — Renzo Cotarella, CEO Marchesi Antinori
Marchesi Antinori, yang berdiri sejak 1385, adalah salah satu produsen anggur tertua dan paling dihormati di dunia. Insiden ini tidak hanya memukul finansial, tetapi juga reputasi dan kepercayaan konsumen global. Para pengamat industri menilai perampokan besar biasanya direncanakan matang oleh pihak yang memahami seluk-beluk wine, dengan target pasar kolektor, bar, atau restoran. Namun, lonjakan pasokan mendadak di pasar gelap berisiko memicu kecurigaan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Meski bukan produsen wine utama, Indonesia memiliki pasar anggur premium yang tumbuh, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Kejadian ini menggarisbawahi perlunya penguatan keamanan logistik untuk produk bernilai tinggi, termasuk pengawasan ketat terhadap barang impor ilegal. Otoritas Bea Cukai dan pelaku industri wine dalam negeri patut mencermati potensi masuknya botol curian ke pasar Asia, yang bisa merusak integritas rantai pasok resmi.
Penyelidikan masih berlangsung. Polisi Italia tengah menelusuri rekaman kamera lalu lintas dan memeriksa kemungkinan keterlibatan orang dalam. Sementara itu, Antinori memperketat protokol keamanan dan mengimbau kolektor untuk hanya membeli dari distributor resmi. Pertanyaan besarnya: akankah sindikat ini tertangkap sebelum anggur-anggur langka itu dijual di pasar gelap internasional, dan seberapa besar celah asuransi yang harus ditutup industri wine global?



