Ben Elton Incar Musikal Jukebox Oasis, Mampukah Ulangi Sukses Mamma Mia!?
Baca dalam 60 detik
- Penulis We Will Rock You, Ben Elton, dikabarkan tengah menjajaki proyek musikal jukebox yang mengangkat lagu-lagu Oasis dan telah menghubungi Noel Gallagher.
- Jika terwujud, Oasis akan menyusul deretan musisi legendaris seperti ABBA, Queen, Tina Turner, dan Michael Jackson yang karyanya sukses diadaptasi ke panggung teater.
- Keberhasilan musikal jukebox sangat bergantung pada kekuatan narasi dan relevansi budaya, bukan sekadar katalog hits, sehingga respons pasar masih menjadi tanda tanya.

Penulis skenario dan dramawan asal Inggris, Ben Elton, dilaporkan sedang menjajaki pembuatan musikal jukebox yang seluruhnya menggunakan lagu-lagu Oasis. Langkah ini mencuat setelah Elton disebut-sebut telah mendekati Noel Gallagher, gitaris dan otak di balik banyak komposisi band asal Manchester tersebut, untuk membahas kemungkinan kolaborasi tersebut.
Elton bukan nama baru di genre ini. Ia merupakan penulis di balik We Will Rock You, musikal berbasis lagu Queen yang sukses besar di panggung West End dan berbagai negara. Pengalamannya itu membuat proyek Oasis berpotensi memiliki fondasi kreatif yang kuat, terutama karena Elton dikenal mampu merangkai narasi yang menyatu dengan lagu-lagu ikonik.
Jika terealisasi, Oasis akan bergabung dengan deretan panjang musisi yang musiknya telah diubah menjadi pertunjukan teater. Sebut saja ABBA lewat Mamma Mia!, Queen melalui We Will Rock You, Tina Turner dalam Tina, hingga Michael Jackson dengan MJ The Musical. Fenomena musikal jukebox memang telah menjadi salah satu mesin ekonomi utama industri teater global, terutama di Broadway dan West End.
Namun, tidak semua musikal jukebox menuai kesuksesan. Beberapa di antaranya gagal menarik penonton karena dianggap hanya menempelkan lagu-lagu hits tanpa cerita yang kuat. Keberhasilan Mamma Mia!, misalnya, tidak hanya ditopang oleh lagu-lagu ABBA yang sudah melegenda, tetapi juga oleh alur cerita yang ringan, menghibur, dan mudah diterima berbagai kalangan. Sementara itu, Jersey Boys berhasil karena mengangkat kisah nyata di balik grup Four Seasons, memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan di musikal jukebox.
"Elton dikenal sebagai penulis yang mampu menyatukan musik dan narasi dengan cerdas. Namun, tantangan terbesar adalah menciptakan cerita yang tidak sekadar menjadi jembatan antar lagu," ujar seorang pengamat teater London yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Oasis, warisan musik mereka sangat kaya: dari anthem seperti Wonderwall, Don't Look Back in Anger, hingga Champagne Supernova. Lagu-lagu ini memiliki basis penggemar lintas generasi, terutama di Inggris dan Eropa. Namun, daya tarik global Oasis mungkin tidak seuniversal ABBA atau Queen, yang memiliki penggemar fanatik di Asia dan Amerika. Ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi para produser yang ingin menggarap pasar internasional.
Di Indonesia, fenomena musikal jukebox juga mulai mendapat tempat. Beberapa tahun terakhir, pertunjukan teater musikal dengan lagu-lagu populer Indonesia mulai bermunculan, meski skala dan infrastrukturnya belum sebesar di negara-negara Barat. Kehadiran musikal Oasis, jika benar-benar dipentaskan, bisa menjadi katalis bagi penonton Indonesia untuk lebih mengenal format pertunjukan ini, sekaligus membuka peluang bagi musisi lokal untuk menggarap konsep serupa.
Yang jelas, proyek ini masih dalam tahap penjajakan. Elton dan Gallagher belum memberikan pernyataan resmi. Jika terwujud, musikal Oasis akan menjadi ujian apakah formula jukebox masih relevan di tengah perubahan selera penonton pascapandemi, yang cenderung mencari pengalaman teater yang lebih imersif dan tematik. Akankah Oasis menjadi Mamma Mia! berikutnya, atau justru tenggelam dalam daftar panjang musikal yang gagal? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: industri teater terus menanti gebrakan baru dari musik yang telah menjadi bagian dari sejarah.



