Rosalía Bantu Bono Tulis Lirik Spanyol di Lagu U2, Sebut Kolaborasi dengan Legenda Sebuah Kehormatan
Baca dalam 60 detik
- Rosalía mengungkap perannya membantu Bono menyempurnakan lirik berbahasa Spanyol pada lagu U2 berjudul The Mirror Maker (Rosalía).
- Bono mengaku gugup menghubungi Rosalía melalui perantara Penélope Cruz karena takut dianggap penguntit.
- Album Carnaval de Luz yang memuat lagu tersebut juga menyertakan rekaman terakhir Dolly Parton berjudul Torn.

Penyanyi asal Katalonia, Rosalía, mengungkapkan keterlibatannya dalam proyek terbaru U2. Ia membantu vokalis Bono memperbaiki lirik berbahasa Spanyol pada lagu The Mirror Maker (Rosalía), yang akan masuk ke album Carnaval de Luz. Pengakuan ini disampaikannya saat menjadi bintang tamu di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon pekan ini.
Rosalía mengaku tidak mengenal Bono secara pribadi sebelum proyek itu. Menurutnya, Bono mengiriminya pesan teks dan menceritakan soal lagu baru tersebut. “Saya tidak mengenalnya, tapi dia mengirim pesan dan bilang punya proyek baru serta lagu berjudul The Mirror Maker,” ujarnya. Ia pun tertawa karena Bono sempat mengarang beberapa kata dalam bahasa Spanyol. “Saya bilang, tidak apa-apa, silakan ciptakan bahasamu sendiri,” tambahnya.
Meski demikian, Rosalía menyebut kesempatan itu sebagai kehormatan besar. Ia merasa bangga bisa bekerja sama dengan musisi senior yang telah lama dikaguminya. Kolaborasi lintas generasi dan budaya ini menunjukkan bagaimana batas bahasa dalam musik justru bisa menjadi ruang kreatif, bukan hambatan.
Di balik kolaborasi itu, Bono menyimpan kekhawatiran tersendiri. Dalam wawancara dengan Rolling Stone UK, ia mengaku enggan menghubungi Rosalía karena takut terlihat seperti penguntit. “Saya menelepon Penélope, ‘Apa yang harus kulakukan?’ Dia bilang, ‘Telepon saja.’ Saya merasa seperti penguntit,” kenangnya. Penélope Cruz kemudian menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya.
“Dia sangat mendukung dan membuat saya banyak tertawa. Saya rasa saya tidak bisa menemuinya sekarang. Saya sedang mengumpulkan keberanian untuk mengirimkan hasil mixing akhir,” ujar Bono.
Bono juga menyoroti sosok Rosalía sebagai artis yang berani melampaui batas. Ia menyebut penyanyi Patti Smith sebagai inspirasinya dahulu, dan kini Rosalía berada di barisan yang sama. “Ada banyak, tapi tidak cukup. Rosalía jelas salah satunya,” tegasnya. Bono menilai Rosalía memiliki keberanian dan humor yang merendah, serta mampu menyentuh dimensi metafisik dalam karyanya.
Album Carnaval de Luz sendiri dinanti penggemar U2 di seluruh dunia. Selain lagu yang melibatkan Rosalía, album ini memuat Torn, rekaman terakhir dari mendiang Dolly Parton. Kehadiran dua nama besar dari generasi berbeda menandai ambisi U2 untuk tetap relevan di industri musik yang terus berubah.
Bagi industri musik global, kolaborasi semacam ini memperlihatkan strategi kawin silang budaya yang makin lazim. U2, band rock asal Irlandia, menggandeng bintang pop Latin yang mewakili gelombang musik berbahasa Spanyol. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya penetrasi musik Latin di pasar internasional, termasuk di Indonesia. Penggemar musik Tanah Air kini makin akrab dengan lagu-lagu berbahasa Spanyol, dan kolaborasi seperti ini berpotensi memperluas basis pendengar di Asia Tenggara.
Namun, apakah kolaborasi lintas generasi dan bahasa ini akan menghasilkan karya yang diterima luas, atau justru tenggelam dalam ekspektasi tinggi? Yang jelas, Rosalía dan Bono telah menunjukkan bahwa proses kreatif bisa lahir dari keberanian untuk saling menghubungi, bahkan ketika rasa gugup menghantui. Publik menanti apakah The Mirror Maker (Rosalía) akan menjadi jembatan baru antara dua dunia musik yang berbeda.



