Sheryl Crow Akui Album Barunya Boncos: "Saya Kehilangan Uang Banyak"
Baca dalam 60 detik
- Sheryl Crow merilis album ke-13, Pick You Up, dengan biaya produksi yang tidak akan kembali modal.
- Ia mengaku sempat tertekan bersaing dengan penyanyi pop muda di radio pada usia 40 tahun.
- Diagnosis kanker payudara menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap karier dan harga diri.

Sheryl Crow, penyanyi senior Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa album terbarunya, Pick You Up, tidak mendatangkan keuntungan finansial. Bahkan, ia harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai produksi dan tidak berharap mendapatkan pengembalian. Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara dengan The Sun, seperti dikutip Bang Premier, Selasa (14/1/2026).
Peraih Grammy berusia 64 tahun itu menjelaskan bahwa industri musik telah berubah drastis. "Saya berada di titik di mana ini bukan lagi sumber penghasilan. Justru mahal. Saya membayar banyak orang, dan saya tidak akan pernah melihat uangnya kembali. Dengan album ini, saya kehilangan uang yang sangat banyak," ujarnya. Meski demikian, Crow menegaskan bahwa motivasinya kini bukan lagi soal uang, melainkan warisan karya yang bisa dinikmati generasi mendatang.
Dalam refleksinya, Crow menyoroti pentingnya karya yang abadi. Ia menyebut nama Dolly Parton dan Burt Bacharach sebagai contoh penulis lagu yang karyanya tetap hidup melampaui usia. "Saya memikirkan ibu saya yang tidak lagi mengingat banyak hal. Tapi ketika saya memutar Moon River atau Walk On By, dia masih bisa menyanyikan setiap kata. Koneksi indah itu tidak bisa diremehkan," tuturnya.
Perjalanan karier Crow tidak lepas dari tekanan industri. Ia mengaku mulai merasa terbebani pada album ketiganya, The Globe Sessions (1998). "Bagaimana saya bersaing dengan kesuksesan album sebelumnya? Apa yang sedang terjadi di radio? Semua hal itu masuk ke kepala Anda dan Anda mencoba menulis lagu sesuai pasar. Pada album keempat (C'mon, C'mon), saya benar-benar kesulitan. Saya menginjak usia 40 dan semua yang ada di radio adalah Britney Spears atau Christina Aguilera, anak-anak berusia 18 tahun," kenangnya.
Titik balik terjadi ketika ia didiagnosis kanker payudara. "Banyak hal yang menyelamatkan saya. Salah satunya adalah kanker itu sendiri, karena membantu saya mundur dan berkata, 'Oke, ada proses alami dalam kesuksesan. Suatu hari, Anda akan keluar dari demografi.' Dengan kanker, Anda juga mengevaluasi ulang peran pekerjaan dan harga diri Anda," ujarnya. Setelah jeda, Crow kembali bermusik dengan pola pikir baru: "Saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Apakah saya masih ingin diputar di radio terus-menerus? Ya. Apakah itu akan terjadi? Kemungkinan besar tidak. Tapi bukan berarti Anda harus berhenti. Secara ego, itu harus dilepaskan."
Kisah Crow mencerminkan realitas pahit industri musik global, terutama bagi musisi senior. Di Indonesia, fenomena serupa juga dialami banyak legenda musik yang karyanya kalah bersaing dengan tren populer. Namun, semangat Crow untuk terus berkarya tanpa pamrih finansial bisa menjadi inspirasi bahwa musik bukan sekadar komoditas, melainkan warisan budaya. Pertanyaannya, akankah industri musik Tanah Air memberi ruang lebih besar bagi musisi senior untuk terus berekspresi tanpa tekanan komersial?



