Idina Menzel: Karier di Frozen dan If/Then Selamatkan Hidupnya Saat Bercerai dari Taye Diggs
Baca dalam 60 detik
- Idina Menzel mengungkapkan bahwa proyek Frozen dan If/Then membantunya melewati masa sulit perceraian dengan Taye Diggs pada 2013.
- Kesuksesan profesional justru datang bersamaan dengan keretakan rumah tangga, menciptakan dinamika emosional yang rumit.
- Pengalaman ini menyoroti bagaimana seni dan pekerjaan dapat menjadi terapi di tengah krisis personal, sekaligus tantangan bagi pasangan yang bercerai.

Aktris panggung dan layar Idina Menzel mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam film animasi Frozen dan musikal Broadway If/Then menjadi penyelamat saat ia dan mantan suaminya, Taye Diggs, memutuskan berpisah pada 2013. Dalam panel retrospektif di New York Comic Con, Kamis (8/10), perempuan 55 tahun itu menceritakan bagaimana dua proyek besar tersebut membantunya melewati masa-masa sulit perceraian setelah 10 tahun menikah.
Menzel, yang memiliki seorang putra bernama Walker (17), dari pernikahannya dengan Diggs, menyebut periode itu sebagai "sangat berat". Namun, ia merasa bersyukur karena pekerjaannya memberikan ruang untuk menemukan kembali identitasnya. "Kisah dalam pertunjukan itu [If/Then] sangat tentang seorang perempuan yang membuat pilihan berbeda dalam hidupnya dan menemukan jati dirinya," ujarnya. "Lalu Frozen muncul tepat saat Taye dan saya berpisah... Semuanya sangat rumit."
Menurut Menzel, kedua proyek tersebut "menyelamatkannya" karena mengisi hatinya dengan kegembiraan, cinta, dan pengampunan. Ia juga senang bisa menunjukkan film animasi itu kepada putranya. "Saya bisa menunjukkan karya yang luar biasa ini kepada anak saya," tambahnya. Pada saat yang sama, lagu Let It Go yang dinyanyikannya dalam Frozen menjadi fenomena global, yang ironisnya membuat sang mantan suami merasa terusik. Menzel bercanda, "Kasihan dia. Lagu itu ada di mana-mana. Di mal, dia pasti mendengarnya terus."
Dalam wawancara di podcast Dinner's on Me, Menzel juga membahas tantangan pernikahan antarras yang dijalaninya dengan Diggs. Ia mengaku bahwa tekanan dari komunitas dan ekspektasi publik turut memperumit hubungan mereka. "Hal yang lebih berpengaruh adalah aspek antarras. Di dunia teater, itu bukan masalah, tapi begitu keluar dari kungkungan itu, Taye harus menghadapi realitas sebagai pria kulit hitam yang menikah dengan perempuan Yahudi kulit putih," jelasnya. Menzel merasa beban itu juga ia rasakan, terutama ketika mereka menghadiri acara bersama dan sering diminta berfoto terpisah.
Meski demikian, Menzel menegaskan bahwa keduanya selalu saling mendukung. Ia mengaku senang atas kesuksesan Diggs dan tidak pernah merasa bayang-bayangnya menutupi karier sang aktor. "Dia selalu mendukung dan mungkin merasa lega ketika saya mendapat perhatian dari Wicked, sehingga dia tidak merasa menghalangi saya," tuturnya. Menzel meraih peran Elphaba dalam Wicked pada 2003, yang melambungkan namanya di Broadway.
Kisah Menzel ini menyoroti bagaimana dunia seni pertunjukan dapat menjadi pelarian sekaligus kekuatan di tengah krisis pribadi. Bagi banyak pekerja kreatif, proyek yang sedang digarap sering kali menjadi jangkar emosional ketika kehidupan pribadi goyah. Namun, di sisi lain, kesuksesan yang datang bersamaan dengan perpisahan juga bisa memperuncing ketegangan, terutama jika mantan pasangan sama-sama berkecimpung di industri yang sama.
Ke depan, terbuka pertanyaan tentang bagaimana industri hiburan mendukung kesehatan mental para pelakunya, terutama ketika mereka harus tetap tampil profesional di tengah badai kehidupan. Apakah akan ada lebih banyak ruang untuk berbicara terbuka tentang tekanan semacam ini, atau justru sebaliknya, tuntutan untuk selalu tampil sempurna akan semakin besar?



