Perang Diskon Kamera di Prime Day: Nikon Z8 Anjlok Rp16 Juta, DJI dan Insta360 Ikut Banting Harga
Baca dalam 60 detik
- Nikon Z8 dan Z6II mencatat harga terendah sepanjang sejarah pemantauan Amazon, memicu gelombang diskon di segmen kamera profesional.
- DJI dan Insta360 merespons dengan memangkas harga gimbal, action cam, hingga drone hingga di bawah rekor sebelumnya.
- Bagi kreator Indonesia, momentum ini bisa jadi peluang upgrade peralatan, tetapi perlu memperhitungkan biaya impor dan garansi.

Amazon Prime Big Deal Days yang berlangsung hingga Kamis (8/10) dini hari waktu AS memicu perang diskon di segmen kamera dan perangkat kreator. Nikon Z8, yang diposisikan sebagai kamera full-frame hybrid untuk foto dan video profesional, kini dijual US$3.296,95 atau sekitar Rp51,6 juta—turun US$1.003 dari harga resmi dan US$100 lebih murah dari rekor terendah sebelumnya yang tercatat pada Januari 2025. Angka ini menjadi yang terendah sejak pemantauan harga dimulai pada 2023.
Langkah Nikon tidak berdiri sendiri. DJI dan sejumlah merek lain memangkas harga sehari sebelum acara resmi dimulai, menciptakan tekanan kompetitif yang jarang terjadi di pasar perangkat pencitraan. DJI RS 4 Mini Combo, gimbal yang kompatibel dengan kamera Canon, Sony, Nikon, dan Fujifilm, dilepas US$309—turun US$150 dari harga normal dan US$10 di bawah titik terendah Juni lalu. Sementara DJI RS 4 versi penuh dijual US$369, atau US$30 lebih murah dari rekor sebelumnya.
Yang menarik, beberapa produk bahkan belum pernah dijual langsung oleh Amazon sebelumnya, sehingga tidak ada riwayat harga pembanding. Ini menandakan bahwa sebagian penawaran berasal dari pihak ketiga atau bundel eksklusif yang baru masuk katalog. Misalnya, DJI Flip Fly More Combo dengan RC 2 dijual US$588,05, sekitar US$30,95 di bawah harga terendah Maret, dan DJI Neo Fly More Combo di US$232,75—keduanya hanya untuk anggota Prime.
Di segmen drone dan action camera, diskon juga agresif. DJI Mini 3 Fly More Combo dijual US$512,05, terendah sejak 2022. GoPro LIT Hero turun menjadi US$179,99, US$49 lebih murah dari harga Maret. Sementara DJI Osmo Action 5 Pro Adventure Combo dibanderol US$364, sedikit di bawah rekor Maret 2025. Insta360 X5 8K 360 Action Camera dan DJI Osmo 360 Adventure Combo masing-masing dijual US$464,99 dan US$454,99, keduanya untuk anggota Prime.
Untuk mikrofon, Shure MV7i mencatat penurunan terbesar: US$269, atau US$62 di bawah harga Juni. DJI Mic Mini two-transmitter kit juga turun ke US$75,05, di bawah harga terendah sebelumnya. Sementara itu, Panasonic LUMIX S9 dijual US$1.329,99, hanya US$3 di bawah rekor terendahnya. Lensa Sony FE 35mm f/1.4 GM diskon US$200 menjadi US$1.298, meski pernah dijual US$1.164,95 pada November 2024—artinya tidak semua diskon benar-benar memecahkan rekor.
"Bagi fotografer profesional yang melayani klien foto produk dan video pendek, satu bodi yang mampu melakukan keduanya berarti satu sistem baterai dan satu set lensa," ujar seorang fotografer profesional yang telah menggeluti dunia kamera selama puluhan tahun, seperti dikutip dari pengalamannya.
Bagi kreator Indonesia, gelombang diskon ini menawarkan peluang upgrade peralatan, tetapi ada beberapa catatan. Pertama, sebagian besar penawaran hanya untuk anggota Prime, yang memerlukan langganan dan alamat pengiriman di AS. Kedua, biaya impor, pajak, dan garansi internasional bisa menggerus penghematan. Ketiga, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memengaruhi harga akhir. Meski demikian, bagi yang memiliki akses ke pasar AS atau jasa titip terpercaya, selisih harga bisa mencapai 20–30% dibandingkan harga ritel dalam negeri.
Perang diskon ini juga mencerminkan tekanan lebih besar di industri perangkat kreator. Produsen seperti Nikon, DJI, dan Insta360 berlomba menawarkan nilai lebih untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah jenuhnya permintaan pasca-pandemi. Peluncuran model baru yang lebih canggih—seperti Nikon Z6III yang menggantikan Z6II—membuat stok model lama harus segera dikosongkan, sering kali dengan potongan harga agresif.
Ke depan, pertanyaannya apakah diskon sebesar ini akan berlanjut di ajang belanja berikutnya, atau justru menjadi sinyal bahwa produsen sedang berjuang menghadapi perlambatan permintaan global. Bagi konsumen, momen seperti ini adalah kesempatan emas—asal jeli menghitung total biaya kepemilikan, bukan hanya harga di layar.



