Canon Setop Perbaikan Lima Lensa Legendaris, Tertua dari 1996
Baca dalam 60 detik
- Canon Jepang menghentikan layanan reparasi untuk lima lensa EF dan satu lensa EF-S mulai akhir 2026.
- Lensa EF 135mm f/2L USM yang lahir 1996 menjadi yang tertua, bertahan tiga dekade melintasi era film, DSLR, dan mirrorless.
- Keputusan ini memicu pertanyaan soal usia pakai lensa dan mendorong fotografer beralih ke teknisi pihak ketiga atau sistem RF.

Canon Jepang mengumumkan penghentian layanan reparasi untuk lima lensa seri EF dan satu lensa EF-S, dengan batas akhir yang berbeda: tiga lensa berhenti didukung pada November 2026, sementara dua lainnya hanya sampai Oktober 2026. Keputusan ini menandai berakhirnya dukungan resmi bagi optik yang telah melayani fotografer selama puluhan tahun, termasuk model yang pertama kali diperkenalkan pada 1996.
Lensa yang paling menyita perhatian adalah EF 135mm f/2L USM. Diperkenalkan pada 1996, lensa ini hadir sebelum Canon merilis DSLR pertamanya, EOS D30, yang baru muncul pada 2000. Artinya, tim reparasi Canon telah menangani lensa era film ini selama sekitar 30 tahun, melewati transisi besar dari film ke DSLR, lalu ke mirrorless. Canon kini menawarkan RF 135mm f/1.8 IS USM untuk pengguna mirrorless, tetapi reputasi lensa lama tetap melekat di kalangan fotografer.
Selain EF 135mm f/2L USM, ada EF 70-200mm f/4L USM yang dirilis 1999. Lensa ini sempat diperbarui dua kali sebelum era RF, yakni dengan penambahan IS pada generasi kedua (2006) dan pembaruan ketiga melalui EF 70-200mm f/4L IS II USM (2018). Ada pula EF 300mm F4L IS USM (1997) yang tidak pernah mendapat penyegaran dan hingga kini tidak memiliki padanan prime 300mm di jajaran RF. Lensa EF 85mm f/1.2L II USM (2006) juga masuk daftar, meski versi RF-nya masih diproduksi. Terakhir, EF-S 15-85mm F3.5-5.6 IS USM, satu-satunya lensa crop sensor dalam daftar, akan kehilangan dukungan tahun ini.
Pertanyaan yang kemudian muncul: seberapa lama sebenarnya usia pakai sebuah lensa? Canon cenderung memberikan dukungan reparasi sekitar sepuluh tahun untuk bodi kamera digital, seperti terlihat pada daftar kamera 2016โ2017 yang akan berakhir dukungannya tahun ini. Namun lensa memiliki umur yang lebih panjang. Bahkan sejak era analog, lensa sering kali melampaui usia bodi kamera. Shutter kamera punya masa pakai terbatas, mirip dengan jarak tempuh mobil, sementara elemen optik relatif lebih awet. Perkembangan teknologi kamera, terutama kenaikan resolusi di atas 40MP, 60MP, bahkan 100MP untuk medium format, menuntut kaca yang lebih canggih agar gambar tetap tajam.
Meski demikian, lensa lawas tetap punya pasar. Tren foto retro yang sedang naik daun membuat banyak fotografer mengadaptasi lensa film ke kamera mirrorless modern. Hasilnya sering kali berupa gambar yang lebih lembut dengan flare khas. Namun lensa-lensa tua ini biasanya butuh pembersihan menyeluruh, dan Canon telah menyediakan layanan tersebut untuk 135mm selama tiga dekade. Kini, dengan berakhirnya dukungan resmi, teknisi pihak ketiga diperkirakan masih bisa membersihkan dan, jika suku cadang tersedia, memperbaiki optik tersebut.
"Lensa 135mm f/2 Canon itu legendaris, dan banyak fotografer meminta pembaruan selama bertahun-tahun di era DSLR," demikian catatan yang beredar di kalangan pengguna, menggambarkan betapa kuatnya ikatan emosional terhadap lensa ini.
Bagi pasar Indonesia, keputusan ini bisa memengaruhi fotografer profesional dan penghobi yang masih mengandalkan lensa EF. Dengan harga lensa RF yang relatif tinggi, opsi servis pihak ketiga menjadi jalan tengah, terutama untuk lensa seperti EF 70-200mm f/4L USM yang masih banyak dipakai di acara pernikahan, jurnalistik, dan dokumentasi. Namun ketersediaan suku cadang akan menjadi penentu. Sejumlah bengkel kamera di Jakarta dan Surabaya mungkin mulai menimbun stok part atau mencari sumber alternatif.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal berapa lama lensa bertahan, tetapi seberapa siap pengguna berpindah ekosistem. Canon jelas mendorong migrasi ke RF, tetapi tidak semua orang ingin atau mampu membeli lensa baru. Di sisi lain, muncul peluang bagi penyedia jasa reparasi independen untuk mengisi celah yang ditinggalkan Canon. Apakah ini awal dari era di mana lensa benar-benar menjadi barang sekali pakai, atau justru kebangkitan pasar sekunder dan servis pihak ketiga? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: dukungan resmi tidak lagi abadi.



