Lima Tablet Galaxy yang Mampu Gantikan Chromebook, Mana Paling Masuk Akal?
Baca dalam 60 detik
- Samsung Galaxy Tab S11 Ultra, S11, S10 Ultra, S10+, dan S10 FE+ menjadi kandidat pengganti Chromebook berkat dukungan DeX dan spesifikasi mumpuni.
- Harga premium dan kebutuhan aksesori tambahan membuat tablet ini tidak selalu lebih hemat dibanding laptop ChromeOS, tetapi performa dan fleksibilitasnya menawarkan nilai lebih.
- Pasar Indonesia yang didominasi Chromebook murah dan tablet mid-range menjadi ujian adopsi, terutama dengan hadirnya merek Tiongkok yang agresif.

Chromebook telah lama menjadi pilihan populer bagi pengguna yang membutuhkan perangkat komputasi ringan dan terjangkau, terutama untuk menjelajah web, mengolah dokumen, dan tugas sehari-hari. Namun, keterbatasan ChromeOS dalam menangani aplikasi berat dan multitasking kompleks membuat sebagian pengguna mencari alternatif. Samsung Galaxy Tab hadir sebagai kandidat kuat, menawarkan portabilitas tablet dengan kemampuan produktivitas mendekati laptop berkat fitur DeX dan dukungan aksesori.
Dari jajaran tablet Galaxy, lima model dinilai mampu menggantikan peran Chromebook. Galaxy Tab S11 Ultra menjadi yang terkuat dengan chip MediaTek Dimensity 9400+ dan RAM hingga 16GB, serta layar 14,6 inci Dynamic AMOLED 2X 120Hz. Performa ini melampaui Chromebook entry-level, tetapi harganya mencapai US$1.299, jauh lebih mahal dibanding Chromebook Plus yang dijual di bawah US$500. Pengguna juga harus membeli keyboard dan mouse secara terpisah, menambah total biaya kepemilikan.
Alternatif yang lebih ringkas adalah Galaxy Tab S11. Dengan chipset yang sama namun RAM 12GB dan layar 11 inci, tablet ini menawarkan keseimbangan antara performa dan portabilitas. Bobotnya 469 gram dan sudah termasuk S Pen. Harganya US$899, masih di atas Chromebook, tetapi fleksibilitasnya sebagai perangkat hibrida menjadi daya tarik tersendiri.
Bagi yang menginginkan layar besar dengan harga lebih bersahabat, Galaxy Tab S10 Ultra bisa menjadi pilihan. Meski menggunakan chip Dimensity 9300+ generasi sebelumnya, performanya masih mumpuni untuk multitasking. Harga barunya US$1.200, namun di pasar terbuka seperti Best Buy, model open-box dijual mulai US$951. Tablet ini juga dilengkapi S Pen dan port USB-C untuk monitor eksternal.
Galaxy Tab S10+ menawarkan layar 12,4 inci Dynamic AMOLED 120Hz dengan harga awal US$1.099,99. Meski terkesan mahal, diskon sering menurunkannya di bawah US$800. Performanya tidak jauh berbeda dari S11 berkat chip Dimensity 9300+ dan RAM 12GB. Namun, untuk harga normal, pengguna mungkin lebih memilih S11 yang lebih baru.
Model paling terjangkau adalah Galaxy Tab S10 FE+. Dengan harga US$699 (sering turun menjadi sekitar US$450), tablet ini mengusung chip Exynos 1580 dan RAM 8GB atau 12GB. Layar 13,1 inci cukup lega untuk membuka beberapa jendela aplikasi. Keterbatasannya terletak pada aplikasi berat, tetapi untuk kebutuhan cloud dan mobilitas, S10 FE+ menawarkan nilai terbaik di antara tablet premium Samsung.
Pemilihan tablet sebagai pengganti Chromebook tidak lepas dari pertimbangan ekosistem. Samsung DeX memungkinkan antarmuka mirip desktop, termasuk jendela mengambang dan koneksi ke monitor eksternal. Namun, kompatibilitas aplikasi tetap menjadi kendala, terutama untuk perangkat lunak yang hanya tersedia di Windows atau macOS. Pengguna yang mengandalkan aplikasi berbasis web dan Android masih bisa beradaptasi, tetapi profesional dengan kebutuhan spesifik mungkin perlu berpikir ulang.
"Tablet tidak bisa menggantikan laptop tradisional tanpa batasan, terutama dalam kompatibilitas aplikasi," demikian catatan yang muncul dalam analisis tersebut.
Di pasar Indonesia, Chromebook memiliki pangsa signifikan di segmen pendidikan dan perkantoran ringan. Tablet Samsung Galaxy dengan harga premium mungkin kurang menarik bagi konsumen yang sensitif harga, terlebih dengan hadirnya tablet merek Tiongkok seperti Xiaomi dan Realme yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga lebih murah. Namun, bagi profesional yang membutuhkan mobilitas tinggi dan sudah terikat ekosistem Samsung, tablet Galaxy bisa menjadi investasi yang sepadan.
Ke depan, persaingan antara tablet dan laptop murah akan semakin ketat. Samsung perlu memastikan dukungan perangkat lunak jangka panjang dan aksesori yang lebih terjangkau untuk menarik minat pengguna Chromebook. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia siap beralih ke tablet sebagai perangkat utama, atau Chromebook akan tetap menjadi primadona di segmen anggaran?



