Hayley Williams Kecam ICE dan Dukung Palestina di Panggung, Pemerintah Trump Murka
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Paramore itu melontarkan kritik pedas terhadap ICE dan menyerukan dukungan untuk Palestina saat konser di California.
- Departemen Keamanan Dalam Negeri AS merespons dengan pernyataan yang menyesalkan sikap Williams, memintanya menghargai pengorbanan aparat federal.
- Aksi panggung ini memperkuat tren politisasi konser musik di AS, yang berpotensi memengaruhi hubungan artis dengan penggemar dan penyelenggara.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) mengecam vokalis Paramore, Hayley Williams, setelah ia menyuarakan kritik tajam terhadap Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan menyerukan dukungan untuk Palestina dalam konsernya di California, Sabtu (3/10). Insiden ini mencuat sebagai benturan baru antara ekspresi artistik dan otoritas pemerintah di era pemerintahan Donald Trump.
Williams, yang tampil di North Island Credit Union Amphitheater, melontarkan kata makian terhadap ICE saat membawakan lagu "Ice In My OJ". Ia juga menyerukan "Free Palestine" di hadapan penonton. Juru bicara DHS, seperti dikutip Fox News Digital, menyatakan bahwa Amerika Serikat menghargai kerja aparat penegak hukum federal dan menyarankan Williams untuk berterima kasih, bukan meremehkan pengorbanan mereka. Pernyataan ini menandai respons resmi pertama dari pemerintah federal terhadap aksi panggung musisi tersebut.
Ini bukan kali pertama Williams bersikap politis. Ia sebelumnya mendukung Macklemore dan sejumlah artis yang mundur dari Loop Tour-nya Ed Sheeran setelah Macklemore menyampaikan pidato "Free Palestine" di New Jersey. Williams bahkan memasukkan lagu-lagu mereka ke dalam playlist pra-pertunjukannya di Forest Hills Stadium, New York, September lalu. Langkah ini menunjukkan solidaritas yang lebih luas di kalangan musisi terhadap isu kemanusiaan, sekaligus menggarisbawahi perpecahan di industri hiburan terkait sikap politik.
Williams juga secara terbuka menyindir Ed Sheeran yang memilih tidak bersikap politik. Melalui unggahan yang meniru gaya bicara Sheeran, ia menulis, "Saya adalah panutan (produk) dan penting bagi saya untuk tidak mengecewakan penggemar muda (investor dan pemegang saham) dengan bersikap politis. Pertunjukan saya lebih besar dari politikโini adalah komersialisme." Sindiran ini mempertegas kritik Williams terhadap sikap apolitis yang dianggapnya sebagai bentuk komodifikasi seni. Sheeran sendiri telah menyatakan merasa "ngeri" dengan situasi Israel-Palestina, namun enggan mengaitkannya dengan panggung.
"Kami menyarankan Ms. Williams untuk berterima kasih atas pelayanan mereka, bukan meremehkan pengorbanan mereka." โ Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS
Di Indonesia, aksi serupa jarang terjadi di panggung hiburan besar. Musisi Tanah Air umumnya menghindari pernyataan politik langsung karena sensitivitas sosial dan regulasi. Namun, fenomena global ini bisa menjadi preseden bagi artis Indonesia yang ingin menyuarakan isu internasional. Dengan meningkatnya konser musisi internasional di Jakarta dan kota besar lain, potensi gesekan antara ekspresi artis dan norma lokal patut dicermati. Penyelenggara konser di Indonesia mungkin perlu mengantisipasi kemungkinan kontroversi serupa, terutama jika melibatkan isu geopolitik yang sensitif.
Ke depan, apakah aksi panggung seperti ini akan menjadi standar baru bagi musisi global, atau justru memicu pembatasan lebih ketat dari penyelenggara dan otoritas? Bagi Williams, konser bukan sekadar ruang hiburan, melainkan platform politik. Pemerintah AS di bawah Trump tampaknya tidak akan tinggal diam, dan tekanan terhadap artis yang vokal diperkirakan meningkat. Sementara itu, penggemar di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan bagaimana batas antara seni dan aktivisme terus diuji.



