Butter Bangkit: Dari Meja Fashion Week hingga Lemari Pembeku, Mengapa Dunia Kembali Jatuh Cinta pada Mentega
Baca dalam 60 detik
- Toko khusus mentega pertama di Paris, Le Butter, dibuka saat gelombang panas menerjang dan kini justru kebanjiran antrean pembeli.
- Konsumsi mentega di Eropa Barat melonjak seiring menguatnya gerakan anti-ultraprocessed food, meski peringatan soal lemak jenuh belum berubah.
- Fenomena ini memicu pertanyaan soal keberlanjutan pasokan susu dan bagaimana negara tropis seperti Indonesia menyikapi tren pangan global.

Sebuah toko di Paris yang hanya menjual mentega dibuka pada puncak musim panas ketika suhu kota itu menembus 41 derajat Celsius. Erwan Leo, pemilik Le Butter, mengaku sempat khawatir lemari pendinginnya tak akan kuat dan tak ada orang yang datang. Dua bulan kemudian, antrean pembeli memaksa pria 34 tahun itu memasang bangku tunggu serta pembatas antrean di depan tokonya di arondisemen ke-8, kawasan "segitiga emas" dekat Menara Eiffel.
Le Butter bukan sekadar toko. Di dalamnya ada 50 jenis mentega dalam dua lemari pendingin bersuhu 3 derajat Celsius, dinding bergaris permen, keranjang belanja mungil, hingga pernak-pernik bermerek seperti pisau, topi, dan tas kanvas. Wisatawan dari Brasil dan Korea mengantre di depan lemari kaca untuk mencicipi mentega bawang putih liar, raspberry, dan cokelat di atas sendok kayu. "Saya menyebut Le Butter sebagai toko es krim untuk mentega," kata Leo sambil tertawa.
Fenomena ini bukan cerita tunggal. Di La Grande Épicerie de Paris, "dinding mentega" menampilkan 150 varian, dengan Le Beurre Bordier dan Beillevaire sebagai dua merek terpopuler. Di London, Pembroke Club di Belgravia bahkan memasang iklan di majalah Country Life untuk posisi sommelier mentega yang mampu "mengkurasi koleksi mentega dan melatih staf menggunakan troli mentega perak". Sementara di Reddit, utas panjang membahas cara terbaik membawa mentega lewat pesawat: dibekukan, vakum, lalu dimasukkan kantong ziplock.
Mentega juga merambah ranah seni dan gaya hidup. Laila Gohar, seniman makanan asal Amerika-Mesir, memperlakukan mentega seperti marmer dan pernah memahatnya menjadi fragmen patung David karya Michelangelo. Seniman makanan Imogen Kwok membangun kerucut setinggi 30 sentimeter dari mentega kocok dan herbal liar. Di Paris Fashion Week, meja-meja acara dipenuhi mentega dengan potongan roti besar, sementara influencer terlihat menggigit stik mentega utuh atau menyantap kurma medjool berisi irisan mentega.
Di balik estetika itu, ada pergeseran ekonomi konsumsi. Dalam lanskap "little treat economy", mengeluarkan 8 euro untuk mentega bertabur fleur de sel terasa lebih terjangkau dibanding sebotol wine layak. Leo menyebut tren terbaru adalah menyajikan mentega seperti keju setelah makan malam, di atas papan dengan kerupuk. "Ini juga lebih murah," ujarnya.
Kebangkitan mentega tidak lepas dari pergeseran persepsi kesehatan. Setelah kampanye anti-lemak jenuh, konsumsi mentega di Inggris merosot ke rekor terendah pada akhir 1990-an. Kini, menurut dietisien Tracy Parker dari British Heart Foundation, nasihat kesehatan jantung sebenarnya tidak berubah. "Jika kolesterol Anda tinggi, atau pola makan Anda sudah berat lemak jenuh, sebaiknya pertimbangkan ulang porsinya," katanya. Namun, Parker menilai mentega dalam jumlah moderat masih dapat diterima, terutama karena dianggap sebagai pangan alami ketimbang margarin yang diproses pabrik.
"Orang melihat mentega sebagai makanan alami dan karenanya lebih baik daripada, katakanlah, margarin." — Tracy Parker, dietisien British Heart Foundation
Parker menduga kebangkitan ini terkait erat dengan gerakan anti-ultraprocessed food (UPF). UPF dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung, sementara mentega dipandang sebagai produk pra-industri yang dekat dengan pertanian. Di Prancis, banyak orang masih percaya pada "French Paradox" — keyakinan bahwa mereka bisa mengonsumsi mentega dan keju tanpa risiko penyakit jantung setinggi negara lain, meski penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian kedua di sana.
Di kalangan chef, mentega diperlakukan dengan serius. Seb Myers dari restoran Planque di London timur menyimpan Beillevaire demi-sel di lemari keju selama sepekan untuk memperlambat pematangan, dan menghabiskan 10 kg mentega per minggu hanya untuk memasak. "Jika seseorang menyajikan mentega sedingin es, Anda tahu pengalaman makan Anda tidak akan menyenangkan," katanya. Pravin Nayar dari Castle Farm di Somerset menyajikan mentega buatan sendiri pada suhu ruang dengan taburan garam. "Bagi saya, roti hanyalah sendok untuk mentega," ujarnya.
Namun, tren ini juga menuai kritik. Myers menyoroti pemborosan dalam food styling yang menumpuk mentega hanya demi foto. Sementara itu, jurnalis Afrika Selatan Safia Patel mengaku sebagai "penimbun mentega" yang menyimpan mentega ornamental di freezer, termasuk setengah bungkus Kerrygold dari 2019. "Saya menyimpannya sebagian sebagai asuransi, sebagian karena menenangkan — mengingatkan saya pada masa yang berbeda," katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan cermin menarik. Sebagai negara tropis dengan konsumsi mentega per kapita yang jauh lebih rendah, Indonesia lebih akrab dengan margarin dan minyak kelapa sawit. Namun, gelombang global yang mengangkat pangan alami dan menolak UPF bisa memengaruhi preferensi kelas menengah urban, terutama di kafe dan toko roti artisan. Pertanyaannya, apakah produsen lokal mampu menangkap peluang ini dengan produk bernilai tambah, atau justru kembali bergantung pada impor mentega Eropa dan Selandia Baru?
Yang jelas, mentega telah keluar dari bayang-bayang reputasi buruknya. Dari lemari pembeku kolektor hingga meja fashion week, mentega kini bukan sekadar bahan dapur, melainkan simbol gaya hidup. Apakah gelombang ini akan bertahan saat harga pangan dan kesadaran kesehatan kembali menekan, ataukah ia akan menguap seperti mentega di atas wajan panas?



