Wamendagri Bima Arya: Karakter dan Jejaring Lebih Menentukan Karier daripada Transkrip Nilai
Baca dalam 60 detik
- Wamendagri Bima Arya menegaskan bahwa kemampuan membangun relasi dan karakter kuat menjadi faktor penentu kesuksesan, melampaui capaian akademik semata.
- Program Masadagri Batch III menerima 65 peserta dari 1.080 pendaftar, yang akan menjalani magang tiga bulan untuk memahami birokrasi dan memperluas jaringan.
- Kemendagri berharap peserta tidak hanya belajar, tetapi juga memberi masukan konstruktif dan memperkenalkan fungsi kementerian kepada publik.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menilai bahwa keberhasilan peserta program Mahasiswa Magang Kementerian Dalam Negeri (Masadagri) tidak ditentukan oleh kecerdasan intelektual semata, melainkan oleh kemampuan membangun relasi dan karakter yang kokoh. Pernyataan itu disampaikan dalam Sharing Session Masadagri Batch III di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Kemendagri, Jakarta, Kamis (8/10).
Dari sekitar 1.080 pendaftar, hanya 65 mahasiswa yang lolos seleksi untuk mengikuti program magang selama tiga bulan. Menurut Bima, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan tidak hanya untuk mempelajari seluk-beluk birokrasi, tetapi juga untuk memperluas pengalaman dan jaringan profesional. Ia menyoroti dua hal yang kerap luput dari perhatian generasi muda: pertemanan dan karakter.
"Itu bukan hanya kecerdasan, bukan hanya transkrip nilai, tapi dua hal yang sangat menentukan. Pertama adalah pertemanan, kedua adalah karakter," ujar Bima dalam keterangan tertulis.
Pandangan tersebut sejalan dengan temuan berbagai studi karier yang menunjukkan bahwa keterampilan sosial dan jaringan profesional sering menjadi pembeda antara lulusan dengan nilai akademik tinggi. Bima mendorong peserta untuk aktif berinteraksi dengan seluruh lapisan di Kemendagri, mulai dari direktur, kepala biro, analis kebijakan, hingga pimpinan. "Target kalian di sini adalah ketemu dengan sebanyak mungkin orang, membangun sebanyak mungkin jaringan dan networking di sini," katanya.
Bima juga menekankan pentingnya kemampuan berdialektika—mengamati, berdialog, dan memberikan masukan terhadap realitas yang ditemui. Menurutnya, proses tersebut memungkinkan peserta membandingkan teori yang dipelajari di kampus dengan praktik di lapangan. "Yang akan menjadi pemenang dalam kehidupan adalah orang-orang yang bisa berdialektika," tegasnya.
Kemendagri memiliki tanggung jawab besar dalam pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah, termasuk urusan otonomi daerah, keuangan daerah, serta politik dan pemerintahan umum. Melalui pengalaman langsung, peserta diharapkan memahami cara kerja birokrasi dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan publik. Bima juga mendorong peserta berani menyampaikan masukan apabila menemukan hal yang perlu diperbaiki selama program berlangsung.
Masukan, evaluasi, dan perspektif dari peserta dinilai dapat menjadi bahan evaluasi konstruktif bagi Kemendagri, sekaligus memperkaya pengalaman peserta. Di akhir sambutannya, Bima menyampaikan tiga target kementerian dari program ini: pertama, peserta memperoleh bekal dan pengalaman untuk masa depan; kedua, peserta menjadi duta yang mengenalkan fungsi dan pekerjaan Kemendagri kepada publik; ketiga, peserta memberikan masukan, evaluasi, dan perspektif yang konstruktif bagi kementerian.
"Dan nanti pasti selama tiga bulan ini ada program-program di mana kita bisa ngobrol dengan lebih santai," tandas Bima.
Ke depan, program Masadagri Batch III akan menjadi ujian bagi Kemendagri dalam mencetak talenta muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan advokasi. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi oleh kementerian lain sebagai jalur alternatif pengembangan sumber daya manusia aparatur. Pertanyaannya, apakah peserta akan mampu menerjemahkan pesan karakter dan jejaring menjadi kontribusi nyata bagi perbaikan layanan publik?



