OpenAI Klaim Pendapatan Rp780 Triliun, Saham AI di Wall Street Justru Ambruk
Baca dalam 60 detik
- OpenAI melaporkan pendapatan tahunan sekitar US$50 miliar per akhir September, lebih rendah dari bocoran US$68 miliar yang beredar sebelumnya.
- Saham Nvidia, Oracle, dan CoreWeave tertekan karena investor meragukan valuasi US$852 miliar yang disematkan pada OpenAI.
- Perusahaan sedang menyiapkan IPO 2027 dan tengah menjajaki putaran pendanaan baru senilai US$30 miliar.

OpenAI mengungkapkan pendapatan tahunan sekitar US$50 miliar pada akhir September 2026, angka yang lebih rendah dari laporan sebelumnya sebesar US$68 miliar. Kabar ini langsung mengguncang pasar saham Amerika Serikat, dengan saham Nvidia, Oracle, dan CoreWeave kompak melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026).
Menurut sumber yang mengetahui presentasi investor tersebut, selisih US$18 miliar itu muncul karena angka US$68 miliar mencakup pendapatan bruto dari mitra-mitra OpenAI. Penyesuaian ini dilakukan agar investor dapat membandingkan kinerja OpenAI secara langsung dengan rival utamanya, Anthropic. Financial Times menjadi media pertama yang melaporkan angka US$50 miliar tersebut.
Dalam presentasi itu, OpenAI juga memamerkan pertumbuhan run rate total sebesar 77% pada kuartal ketiga, serta pertumbuhan 107% untuk lini bisnis enterprise di periode yang sama. Meski demikian, pasar tampaknya lebih fokus pada revisi angka pendapatan yang signifikan.
Reaksi pasar yang negatif mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam: apakah valuasi setinggi langit yang disandang OpenAI—US$852 miliar—sepadan dengan fundamental pendapatannya. Perusahaan tengah bersiap menuju apa yang diperkirakan akan menjadi IPO blockbuster. OpenAI telah mengajukan prospektus secara rahasia kepada regulator pada Juni lalu, dan para eksekutif memberi sinyal bahwa debut di bursa kemungkinan terjadi pada 2027.
Di tengah persiapan tersebut, OpenAI dikabarkan sedang menjajaki putaran pendanaan baru yang berpotensi mengumpulkan sekitar US$30 miliar. Namun, sumber menyebut angka itu masih bisa berubah karena belum ada term sheet final. Permintaan investor disebut menjadi pendorong utama diskusi awal ini. Sebelumnya, pada Maret 2026, OpenAI menutup putaran pendanaan bersejarah senilai US$122 miliar. CFO Sarah Friar pekan lalu menegaskan bahwa perusahaan masih "sangat memiliki modal yang cukup".
"Kami masih sangat memiliki modal yang cukup," ujar CFO OpenAI Sarah Friar kepada CNBC pekan lalu.
Bagi investor Indonesia, gejolak saham AI di Wall Street ini bisa menjadi cermin penting. Pasar modal domestik semakin terhubung dengan sentimen global, terutama melalui sektor teknologi dan komoditas yang terkait dengan rantai pasok AI, seperti semikonduktor dan pusat data. Penurunan saham Nvidia dan Oracle dapat memengaruhi ekspektasi terhadap perusahaan teknologi Tanah Air yang bergerak di bidang infrastruktur digital atau penyedia layanan cloud. Selain itu, rencana IPO OpenAI pada 2027 berpotensi menyerap likuiditas global yang besar, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi aliran modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah OpenAI mampu membuktikan bahwa pertumbuhan pendapatannya—terutama di segmen enterprise—cukup untuk menopang valuasi US$852 miliar. Jika IPO benar-benar terwujud, publik akan segera menilai secara transparan apakah raksasa AI ini layak disebut sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, atau justru gelembung yang siap meletus.



