MIT Uji Drone Otonom: Hindari Semua Rintangan Bergerak di 12 Penerbangan Nyata
Baca dalam 60 detik
- Sistem navigasi SANDO buatan MIT berhasil menghindari seluruh obstruksi dinamis dalam 12 uji terbang, tanpa bergantung pada peta statis.
- Pendekatan ini menawarkan jaminan keselamatan formal dengan memperhitungkan kecepatan maksimum objek bergerak, bukan sekadar prediksi posisi.
- Meski belum siap komersial, teknologi ini membuka jalan bagi operasi drone di zona bencana, pencarian korban, dan logistik perkotaan yang penuh ketidakpastian.

Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengklaim telah menciptakan terobosan dalam navigasi drone otonom. Dalam 12 uji terbang di dunia nyata, sistem yang mereka kembangkan mampu menghindari setiap rintangan bergerak yang menghadang, sebuah capaian yang jarang terjadi dalam pengujian di lapangan.
Sistem bernama SANDO (Safe AutoNomous trajectory planning for Dynamic unknOwn environments) ini dirancang untuk situasi ketika drone harus mengambil keputusan secara langsung selama penerbangan. Berbeda dengan navigasi konvensional yang mengandalkan peta pra-muat, SANDO terus memperbarui jalur terbangnya seiring bertambahnya informasi tentang lingkungan sekitar.
Menurut para peneliti, SANDO memberikan jaminan formal bahwa drone akan terhindar dari tabrakan dalam kondisi yang telah ditentukan. Jaminan ini menjadi pembeda utama dari sistem lain yang hanya mengandalkan prediksi probabilistik. Dalam simulasi, SANDO bahkan mencapai tujuan lebih cepat dibanding beberapa sistem pembanding sambil tetap menghindari tabrakan.
Pendekatan SANDO tidak berusaha memprediksi secara persis ke mana rintangan akan bergerak. Sebaliknya, sistem ini memanfaatkan kecepatan maksimum yang mungkin dicapai objek untuk memperkirakan posisinya dari waktu ke waktu, lalu membangun koridor keselamatan di sekitar kemungkinan pergerakan tersebut. Koridor ini dapat digambarkan sebagai jalur tiga dimensi yang dilindungi dan berubah seiring pergerakan drone.
Selain itu, perencana jalur menggunakan peta panas (heat map) untuk menjauhkan drone dari area dengan konsentrasi rintangan tinggi. Ini memungkinkan drone memperhitungkan lebih dari sekadar keberadaan objek saat ini, tetapi juga kemungkinan objek berpindah ke jalur yang sebelumnya kosong sebelum drone tiba.
โKami ingin memberikan jaminan keselamatan yang dapat diverifikasi, bukan sekadar klaim bahwa sistem kami aman,โ ujar seorang peneliti MIT, seperti dikutip dari makalah yang direvisi pada September 2024.
Meski demikian, jaminan keselamatan SANDO bergantung pada asumsi tentang kecepatan, ukuran, dan kesalahan sensor. Keberhasilan 12 penerbangan tidak serta-merta berarti drone otonom bebas dari risiko kecelakaan di lingkungan lain. Para peneliti menegaskan bahwa SANDO bukan sistem pengiriman komersial dan belum siap untuk segala kondisi.
Kendati begitu, teknologi ini menunjukkan cara drone dapat terus merencanakan ulang rutenya di sekitar objek bergerak sambil mempertahankan batasan keselamatan yang terdefinisi. Bagi pesawat yang beroperasi di area dengan peta usang atau tidak tersedia, seperti misi pencarian dan penyelamatan, pendekatan ini berpotensi relevan.
Langkah selanjutnya bagi tim MIT adalah meningkatkan efisiensi komputasi SANDO dan menjajaki kombinasi dengan sistem pembelajaran mesin. Mereka berharap dapat memperluas kemampuan drone untuk beradaptasi dengan lingkungan yang lebih kompleks.
Di sisi lain, industri pengiriman drone komersial terus bergerak menuju operasi skala besar. Amazon pada Agustus 2024 mengumumkan rencana memperluas layanan Prime Air ke sekitar 500 kota dan kota kecil di Amerika Serikat pada akhir 2026, naik dari 11 lokasi saat itu. Regulator juga tengah mempertimbangkan aturan penerbangan di luar garis pandang operator. FAA sedang menyiapkan regulasi yang memungkinkan operator bersertifikat melakukan lebih banyak penerbangan tanpa waiver individual. Namun, pada September 2024, 15 negara bagian dan Harris County, Texas, menggugat FAA di pengadilan federal terkait tinjauan lingkungan atas perubahan yang diusulkan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa adopsi drone otonom tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kerangka regulasi dan penerimaan publik. SANDO menawarkan satu blok bangunan penting: kemampuan menghindari rintangan dinamis dengan jaminan keselamatan. Namun, pertanyaan besar masih ada: seberapa cepat regulator dan masyarakat siap menerima drone yang terbang sendiri di ruang udara bersama? Dan bagaimana teknologi ini akan beradaptasi dengan kondisi lalu lintas udara yang jauh lebih padat daripada 12 uji terbang di laboratorium?



