Kim Kardashian: Tak Peduli Tak Nyaman di Red Carpet, Nyaman di Rumah Jadi Inspirasi Skims
Baca dalam 60 detik
- Kim Kardashian mengaku rela menanggung ketidaknyamanan saat tampil di karpet merah, tetapi memilih pakaian super nyaman di rumah.
- Kebiasaan tersebut mendorongnya meluncurkan Skims pada 2019, merek shapewear yang mengutamakan kenyamanan dan inklusivitas ukuran.
- Pembukaan toko perdana Skims di London menandai langkah ekspansi global, sekaligus memperkuat posisinya di industri mode.

Kim Kardashian mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan rasa tidak nyaman dari busana yang dikenakannya di acara karpet merah. Bintang reality show The Kardashians itu menegaskan prioritasnya berubah total begitu berada di rumah, di mana kenyamanan menjadi segalanya.
Pernyataan ini disampaikan Kim dalam wawancara dengan Sunday Times Style. Ia mengakui bahwa penampilannya di publik sering kali mengorbankan kenyamanan, seperti gaun ketat berwarna perak yang ia kenakan di peragaan Dolce & Gabbana 2022 atau korset rancangan Margiela by John Galliano di Met Gala 2024. Namun, di balik kemewahan tersebut, ia memilih pakaian yang jauh lebih santai saat tidak sedang menjadi sorotan.
"Saya suka kenyamanan saat di rumah. Saat keluar, saya tidak peduli sesakit apa pun rasanya. Saudara-saudara saya dulu bilang, 'Dia itu要么 pakai piyama要么 pakai gaun,'" ujar Kim, seperti dikutip dari Sunday Times Style.
Kecintaan pada kenyamanan inilah yang menjadi salah satu pemicu lahirnya merek pakaian dalam Skims pada 2019. Kim mengisahkan bahwa ide awalnya sederhana: ia selalu menyukai shapewear, tetapi pilihan warnanya saat itu hanya dua—hitam atau nude terang. Ia bahkan sampai harus mewarnai sendiri shapewear-nya dengan kantong teh di wastafel agar sesuai dengan warna kulitnya. Dari situ, ia berpikir bahwa menghadirkan lusinan warna netral akan menjadi terobosan.
"Saya ini perempuan yang mengutamakan kenyamanan. Tapi kalau bicara shapewear, bentuknya mungil dan butuh waktu lama untuk memakainya. Saya ingin lebih nyaman dan mudah, tapi tetap terlihat ramping," tambahnya.
Kim juga menekankan bahwa Skims dirancang untuk semua bentuk tubuh. "Skims untuk setiap tubuh. Saya tidak di sini untuk menghakimi apa yang membuat orang merasa percaya diri. Saya di sini untuk membangun dan membuat mereka merasa hebat," tegasnya. Ia pun bangga karena produknya tersedia dalam berbagai ukuran.
Perempuan berusia 45 tahun itu dikenal sangat terlibat dalam bisnisnya. Ia mengaku selalu hadir dalam rapat fitting dan senang menjadi model uji coba. Keterlibatan langsung ini dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan Skims di pasar yang kompetitif.
Pembukaan toko perdana Skims di London disambut gembira oleh Kim. Ia mengenang kunjungannya ke kota tersebut saat berusia delapan tahun untuk menonton Phantom of the Opera bersama ibunya. Baginya, London adalah tempat yang indah, besar, dan kreatif, dengan gaya jalanan yang unik dan individual. "Itu membuat saya sangat senang bisa menjadi bagian dari dunia mode di sana," ujarnya.
Kisah Kim Kardashian ini bukan sekadar tentang selebritas dan gaya. Fenomena ini menyoroti pergeseran besar dalam industri mode global: konsumen semakin menghargai kenyamanan tanpa mengorbankan penampilan. Merek-merek yang mampu menggabungkan fungsi, inklusivitas, dan estetika berpotensi meraih pangsa pasar yang signifikan. Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat dengan munculnya merek lokal yang mengusung pakaian nyaman dan ramah berbagai bentuk tubuh. Peluang ini bisa menjadi pelajaran bagi pelaku usaha mode dalam negeri untuk lebih peka terhadap kebutuhan konsumen yang mendambakan produk inklusif.
Ke depan, langkah Skims membuka toko fisik di London akan menjadi ujian apakah model bisnis yang berakar pada kenyamanan ini mampu bersaing di pasar ritel global yang penuh tantangan. Akankah merek-merek Indonesia terinspirasi untuk mengadopsi pendekatan serupa dan menembus pasar internasional?



