Jonathan Groff: Berdandan sebagai Perempuan di Panggung Shakespeare Memberi Kebebasan Total
Baca dalam 60 detik
- Jonathan Groff memerankan Rosalind dalam produksi Shakespeare yang seluruh pemainnya pria, mengaku merasakan pembebasan saat mengenakan gaun.
- Pengalaman itu membangkitkan memori masa kecil dan menghadapi rasa malu karena identitas seksualnya.
- Peran ini menegaskan kembali keberanian aktor menantang batas gender di panggung teater klasik.

Aktor Jonathan Groff mengungkapkan bahwa memerankan tokoh perempuan dalam produksi Shakespeare yang seluruh pemainnya pria telah memberinya kebebasan luar biasa. Dalam wawancara dengan The Independent, pria 41 tahun itu mengaku bahwa mengenakan gaun di atas panggung telah membangkitkan kembali kenangan masa kecilnya.
Groff saat ini membintangi produksi Royal Shakespeare Company berjudul As You Like It sebagai Rosalind, heroine yang menyamar sebagai penggembala pria bernama Ganymede. Baginya, peran ini bukan sekadar tuntutan artistik, melainkan juga perjalanan personal yang menantang konstruksi gender yang selama ini melekat.
“Ada sesuatu yang membebaskan saat saya mengenakan gaun. Menjadi pria yang memerankan perempuan mengembalikan saya pada kebebasan masa muda ketika saya berusia enam tahun, saat saya memakai gaun dan berpura-pura menjadi perempuan,” ujar Groff. Ia menambahkan bahwa sebagai anak-anak ia sering melakukannya, namun tidak lagi saat dewasa. “Saya tidak tahu mengapa. Kembali ke pedesaan dan mengenakan gaun terasa sangat membebaskan.”
Lebih dari itu, Groff mengaku ada aspek karakter Rosalind yang sangat ia pahami, terutama kecenderungan menyenangkan orang lain. Ia mengaitkannya dengan pengalaman pribadinya tumbuh sebagai gay. “Dalam psikoanalisis saya sendiri, rasa malu yang saya rasakan saat tumbuh sebagai gay, dan berusaha membuat semua orang di sekitar saya bahagia, untuk menutupi fakta bahwa saya gay,” jelasnya.
Insiden lucu pernah terjadi pada November tahun lalu saat Groff berbicara tentang penampilan para pemeran Just In Time di Broadway dalam parade Thanksgiving Macy's. Dalam acara Jenna and Friends, co-host Andy Cohen bertanya apakah ia memiliki mantel yang cukup untuk melawan cuaca dingin. Groff menjawab, “Saya akan menantang dingin dengan kostum. Saya memutuskan untuk tidak memakai pakaian dalam.” Ia segera mengklarifikasi bahwa yang dimaksud adalah “pakaian dalam tambahan”. Andy pun berseloroh, “Tidak, kamu butuh celana dalam panjang! Jadi dia akan bebas di parade Thanksgiving.”
Di luar peran panggungnya dalam Hamilton, Just In Time, Merrily We Roll Along, dan Little Shop of Horrors, Groff juga dikenal lewat serial TV Glee, Looking, dan Mindhunter. Di layar lebar, ia tampil dalam The Matrix Resurrections dan Knock at the Cabin, serta mengisi suara Kristoff dan Sven dalam waralaba Frozen.
Kiprah Groff di panggung teater klasik dengan pendekatan lintas gender ini memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan terus menjadi ruang eksplorasi identitas. Di Indonesia, teater tradisional seperti ludruk dan ketoprak telah lama membalik peran gender, dengan pemain pria memerankan perempuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara maskulinitas dan feminitas di atas panggung bukanlah hal baru, melainkan bagian dari sejarah panjang pertunjukan.
Ke depan, peran-peran semacam ini berpotensi mendorong diskusi lebih luas tentang representasi gender di industri hiburan, baik di panggung Broadway maupun di layar lebar. Apakah keberanian Groff akan menginspirasi lebih banyak aktor pria untuk mengeksplorasi peran lintas gender tanpa stigma? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkahnya telah membuka pintu.



