Joe Manganiello Buka-bukaan Soal Perjuangan Kesehatannya dan Keretakan Pernikahan dengan Sofia Vergara
Baca dalam 60 detik
- Joe Manganiello mengungkap dalam memoarnya bahwa penyakit autoimun yang dideritanya selama tujuh tahun membuat pernikahannya dengan Sofia Vergara kehilangan keintiman, bahkan ia mengaku harus memohon kasih sayang.
- Aktor berusia 49 tahun itu mengaku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya pada 2019, namun seekor anjing chihuahua yang sakit menyelamatkannya dan mengubah perannya dari pasien menjadi perawat.
- Setelah dinyatakan bebas gejala dan berhenti dari obat-obatan, Manganiello kini bertunangan dengan Caitlin O'Connor dan membuka peluang untuk memiliki anak, sesuatu yang dulu ia anggap mustahil karena penyakitnya.

Aktor Hollywood Joe Manganiello mengungkap sisi kelam kehidupannya dalam memoar terbaru berjudul Bloodlines. Ia mengklaim bahwa selama bergulat dengan penyakit autoimun yang melemahkan, mantan istrinya, Sofia Vergara, menolak memeluknya bahkan setelah ia memohon kasih sayang. Pengakuan ini mencuat ke publik melalui wawancara dengan majalah People, memperlihatkan bahwa di balik gemerlap Hollywood, rumah tangga mereka dilanda krisis yang jarang terungkap.
Manganiello mulai mengalami serangkaian masalah kesehatan tak lama setelah menikah dengan bintang Modern Family itu pada 2015. Gejala yang muncul mencakup nyeri perut hebat hingga ia tak bisa berjalan karena tukak di saluran cerna, demam, ruam melepuh, sakit kepala, dan kelelahan ekstrem. Kondisi tersebut terus memburuk selama tujuh tahun berikutnya, dan menurutnya, memengaruhi hubungan pernikahannya yang ia gambarkan "kehilangan seluruh emosi" dalam memoarnya.
Dalam buku itu, Manganiello menulis bahwa Vergara menolak memeluknya dan bahkan mengejeknya karena anjing chihuahua peliharaannya yang sakit-sakitan. Anjing tersebut ia adopsi pada 2019 saat ia tengah mempertimbangkan bunuh diri. "Saya harus menyingkirkan pistol saya karena saya terus memikirkannya, lalu anjing itu datang. Saya berubah dari pasien menjadi perawat," ujarnya kepada People, seperti dikutip.
Perbedaan narasi soal perpisahan mereka pun mencuat. Vergara sebelumnya menyatakan bahwa pernikahan kandas karena Manganiello ingin memiliki anak sementara ia tidak mau menjadi ibu di usia tua. Namun, aktor Magic Mike itu membantahnya. Ia menegaskan bahwa ia yang mengubur impian memiliki anak karena penyakitnya, terlebih setelah upaya bayi tabung gagal dan opsi donor telur dipertimbangkan. Ia khawatir jika ia mati, Vergara akan merawat anak yang "bukan darah dagingnya sendiri".
Manganiello mengaku salah satu alasan menulis memoar ini adalah untuk meluruskan berbagai klaim palsu yang beredar di publik. "Ada hal-hal yang dikatakan dan dicetak tentang saya yang tidak benar," katanya. Ia menegaskan bahwa kisahnya nyata dan ia memiliki bekas luka untuk membuktikannya. Menurutnya, kondisi autoimun sering kali menjadi "tempat sampah" bagi penyakit yang tidak dipahami dokter, dan pasien dipaksa menjalani berbagai obat yang melelahkan.
Setelah mencoba berbagai pengobatan medis dan alternatif, ia percaya bahwa seorang dukun di Santa Monica yang mengatakan bahwa trauma generasi adalah penyebabnya telah membantunya pulih. Kini ia bebas gejala dan tidak lagi mengonsumsi obat. "Rantai penderitaan leluhur saya telah benar-benar terputus. Tidak ada sedikit pun rasa takut dalam diri saya untuk melangkah maju," ujarnya.
"Selama tujuh tahun saya mengira saya akan mati minggu depan. Dunia telah terbuka kembali untuk saya."
— Joe Manganiello
Manganiello kini bertunangan dengan Caitlin O'Connor, 37 tahun, dan keduanya sedang mempertimbangkan kemungkinan memiliki anak. Ia menyebut O'Connor datang di saat yang tepat dan memberinya arah baru. "Jika itu memang ditakdirkan untuk saya," tambahnya.
Kisah Manganiello menyoroti sisi lain dari kehidupan selebritas: tekanan kesehatan mental dan fisik yang dapat menghancurkan hubungan personal. Di Indonesia, diskusi tentang kesehatan mental dan dampaknya pada keluarga masih sering dianggap tabu, padahal data Riskesdas 2018 menunjukkan lebih dari 6% penduduk mengalami depresi. Kasus Manganiello bisa menjadi cermin bahwa dukungan emosional dari pasangan sangat krusial dalam proses penyembuhan, dan bahwa mencari bantuan profesional—baik medis maupun psikologis—adalah langkah yang sah.
Ke depan, publik akan menantikan apakah buku Bloodlines memicu respons dari Vergara atau justru membuka dialog lebih luas tentang kesehatan autoimun dan trauma generasional. Yang jelas, Manganiello telah memilih untuk berbicara, dan ia siap menghadapi konsekuensinya.



