Istana Kuno Ethiopia Berusia 2.800 Tahun Diduga 'Pencakar Langit' Pertama di Dunia, Simulasi Ungkap 19 Lantai
Baca dalam 60 detik
- Tim arkeolog dan insinyur sipil Jerman merekonstruksi Istana Grat Be'al Gibri di Tigray, Ethiopia, yang dibangun sekitar 800 SM dan diperkirakan mampu mencapai 19 lantai.
- Simulasi 3D menunjukkan struktur berukuran 60x60 meter itu menggunakan teknik timber-laced masonry, mirip konstruksi batu berbingkai kayu yang juga ditemukan di Arab selatan.
- Temuan ini memperkuat posisi situs Yeha dalam daftar sementara UNESCO, sekaligus memicu perdebatan tentang seberapa maju rekayasa bangunan Afrika kuno.

Reruntuhan batu di Tigray, Ethiopia utara, kembali menjadi sorotan setelah tim arkeolog dan teknik sipil dari Jerman menyimpulkan bahwa Istana Grat Be'al Gibri—yang dibangun sekitar 800 tahun sebelum Masehi—berpotensi menjulang hingga 19 lantai. Jika benar, bangunan berusia 2.800 tahun itu bisa jadi struktur bertingkat tertinggi yang pernah diketahui dari dunia kuno, jauh sebelum gedung-gedung tinggi modern muncul.
Grat Be'al Gibri saat ini hanya menyisakan anak tangga berbatu dan sejumlah pilar yang rusak akibat kebakaran. Namun, luas dasarnya yang mencapai 60 x 60 meter menjadikannya istana terbesar yang diketahui di Afrika Timur pada masanya. Pilar-pilar pintu masuk diperkirakan setinggi 10 meter, dan sisa tangga mengindikasikan setidaknya tiga tingkat. Berapa tinggi aslinya sulit dipastikan karena sebagian besar material telah hilang.
Untuk menjawab teka-teki itu, peneliti memasukkan pengukuran reruntuhan ke dalam model rekonstruksi virtual 3D. Mereka menguji kapasitas daya dukung struktur dengan berbagai asumsi jenis kayu dan material, karena komposisi asli tidak diketahui pasti. Hasil yang dipublikasikan di jurnal Heritage menunjukkan skenario terbaik memungkinkan bangunan mencapai 19 lantai, sedangkan skenario terburuk masih mampu menopang 16 lantai sebelum roboh.
Yang menarik, para perancang Yeha tidak sekadar menumpuk batu. Mereka menyisipkan balok kayu secara mendatar di dalam susunan batu kasar, berfungsi seperti kerangka penguat. Teknik ini identik dengan timber-laced masonry yang juga ditemukan di Arab selatan dan Afrika timur pada periode yang sama. Pendekatan ini memungkinkan dinding menahan beban lebih besar dan mengurangi risiko retak akibat gempa atau pergeseran tanah.
"Kami tidak bisa memastikan apakah para arsitek Yeha benar-benar membangun hingga ketinggian maksimum yang mampu ditopang struktur," kata tim peneliti dalam laporan mereka, seraya menekankan bahwa angka 19 lantai adalah batas teoretis, bukan catatan sejarah.
Klaim tentang bangunan bertingkat tinggi di Afrika kuno sebenarnya bukan hal baru. Sumber-sumber Arab kuno menyebut adanya gedung hingga 20 lantai di Afrika Timur, sementara relief Arab Selatan menggambarkan kompleks istana dengan sedikitnya sembilan tingkat. Temuan Grat Be'al Gibri memberi landasan empiris pada cerita-cerita yang sebelumnya dianggap mitos atau hiperbola.
Ethiopia sendiri dikenal sebagai salah satu peradaban tertua yang terus berlanjut, dan merupakan negara merdeka tertua di Afrika. Situs Yeha, tempat istana ini berada, telah masuk daftar sementara UNESCO sebagai kandidat Warisan Dunia. Penelitian terbaru ini memperkuat argumen untuk memasukkan Yeha ke dalam daftar resmi, sekaligus membuka diskusi tentang seberapa maju rekayasa struktur di kawasan tersebut ribuan tahun lalu.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan sebagai pembanding bagi warisan arsitektur Nusantara seperti candi Borobudur dan Prambanan yang juga menggunakan teknik interlocking tanpa perekat modern. Namun, perbedaan material dan iklim membuat perbandingan langsung sulit dilakukan. Yang jelas, studi ini menegaskan bahwa inovasi konstruksi bertingkat bukan monopoli peradaban Mediterania atau Mesopotamia.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Grat Be'al Gibri pernah menjulang, melainkan seberapa jauh pengetahuan teknik bangunan Afrika kuno telah hilang atau terabaikan dalam catatan sejarah. Apakah temuan ini akan memicu ekskavasi lebih besar di Tigray, atau justru tenggelam oleh ketidakstabilan politik setempat?



