Steve Oram Ungkap Rasa Tak Nyaman Saat Jelajahi Kumuh Bangkok demi Film Thriller 'Crushed'
Baca dalam 60 detik
- Steve Oram memerankan pendeta ekspatriat dalam film thriller 'Crushed' yang syuting di Bangkok.
- Aktor itu mengaku merasa seperti 'orang Barat kaya' yang mengintip saat mengunjungi permukiman kumuh di pinggiran kota.
- Film garapan sutradara Simon Rumley ini akan dirilis di platform digital Inggris pada 5 Oktober mendatang.

Aktor asal Inggris Steve Oram mengungkapkan pengalaman tak nyaman selama proses syuting film thriller terbarunya, Crushed, di Bangkok, Thailand. Dalam wawancara eksklusif dengan BANG Showbiz, Oram menuturkan bahwa ia menyempatkan diri mengunjungi kawasan permukiman kumuh di pinggiran kota untuk mendalami peran sebagai pendeta ekspatriat yang hidup di tengah komunitas rentan.
Dalam film tersebut, Oram memerankan Father Daniel, seorang vikaris asing yang tinggal di pinggiran Bangkok bersama istri Thailandnya, May (diperankan May Nattaporn Rawddon), dan putri mereka yang berusia 10 tahun, Olivia (Margaux Dietrich). Cerita bergulir setelah Olivia tanpa sengaja menonton video kekerasan terhadap hewan yang memperlihatkan seorang wanita berpakaian minim menginjak anak kucingโsebuah konten yang dikenal sebagai video "crush". Insiden itu memicu serangkaian peristiwa yang berujung pada penculikan Olivia.
Untuk menghayati peran, Oram memutuskan keluar dari gemerlap Bangkok dan kawasan wisata, lalu menyusuri gang-gang sempit permukiman kumuh. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai "penurunan ke wilayah tak dikenal", mirip dengan yang dialami karakter Father Daniel saat mencari putrinya. "Saya berjalan-jalan di Thailand. Pada suatu hari libur, saya menyusuri salah satu permukiman kumuh, hanya untuk melihat bagaimana keadaannya. Kondisinya cukup memprihatinkan, tetapi ada martabat di sana. Saya merasa seharusnya tidak berada di sana. Tempat itu menarik, tapi saya juga merasa takut," ujarnya.
Oram mengaku merasa seperti "pengintip" atau voyeur. "Saya merasa seperti orang Barat kaya dengan iPhone di saku dan segala macamnya. Jadi saya pergi, rasanya tidak pantas. Tapi menarik untuk disaksikan," tambahnya. Ia menekankan bahwa kemiskinan ekstrem di Thailand sering luput dari perhatian wisatawan yang hanya berkunjung ke resor atau pusat kota. "Jika Anda pergi ke permukiman kumuh, Anda melihat kemiskinan total dan orang-orang tanpa jaminan sosial. Ini memberi semacam kesan abad pertengahan," katanya.
Oram, yang sebelumnya dikenal lewat peran di The World's End, Doctor Who, dan A Dark Song, menyoroti bahwa film ini mengajak penonton merenungkan apa yang mungkin mereka lakukan dalam situasi serupa. "Karakter saya, Father Daniel, adalah pendeta ekspatriat dan pria Barat yang kini tinggal di Bangkok dengan istri dan anaknya. Dia hidup di komunitas kecil bersama para ekspatriat dan memimpin jemaah. Dia dan keluarganya mengalami neraka ketika putri mereka hilang," jelasnya.
Menurut Oram, perjalanan Father Daniel adalah "penurunan ke neraka" yang mempertanyakan iman, kemanusiaan, dan moralitas. "Dia pria baik, lembut, introver, dan biasa saja, lalu didorong hingga batas kemampuannya. Ini pertanyaan primal tentang menjadi manusia. Seberapa jauh kita telah berkembang? Apakah kita hanya mencari balas dendam atau mencoba mengambil jalan moral yang lebih tinggi? Saya pikir kita sebagai manusia membutuhkan penyelesaian," ujarnya.
Pengalaman Oram menyoroti kesenjangan antara citra wisata Thailand dan realitas sosial yang jarang tersentuh. Hal ini juga relevan bagi Indonesia, di mana ketimpangan kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan sering kali tersembunyi di balik gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan. Isu kemiskinan perkotaan dan akses terhadap jaminan sosial masih menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama ketika industri kreatif atau produksi film asing memanfaatkan lokasi lokal tanpa memberi dampak signifikan bagi warga sekitar.
Dengan dirilisnya Crushed di platform digital Inggris pada 5 Oktober, film ini berpotensi memicu diskusi tentang eksploitasi naratif atas penderitaan masyarakat marginal. Apakah kisah seperti ini akan menggugah kesadaran penonton, atau justru memperkuat jarak antara penonton Barat dan realitas dunia ketiga? Pertanyaan itu akan terjawab ketika film mulai disaksikan publik luas.



