Trump Tolak Kesepakatan dengan Iran, AS Siapkan Serangan Besar-besaran
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak lagi berminat pada kesepakatan dengan Iran, seiring persiapan operasi militer skala besar yang dilaporkan akan menargetkan infrastruktur energi dan nuklir.
- Harga minyak mentah tetap tinggi meski ekspor Timur Tengah hampir pulih ke level prakonflik, menurut Kpler, karena normalisasi tidak lagi menunggu kesepakatan diplomatik.
- Ketegangan ini berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menekan perekonomian negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, yang harus mewaspadai lonjakan harga BBM dan inflasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan tidak lagi menginginkan kesepakatan dengan Iran, sinyal terbaru yang memperuncing ketegangan di Timur Tengah. Pernyataan itu muncul setelah laporan bahwa militer AS tengah bersiap untuk kemungkinan serangan besar-besaran terhadap sasaran energi, infrastruktur, dan nuklir Iran dalam beberapa pekan mendatang.
Berbicara di sebuah rapat umum kampanye bersama kandidat Partai Republik di San Antonio, Texas, Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran bukanlah hal yang ia inginkan. Ia menambahkan bahwa utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, telah bekerja keras dalam negosiasi dan "melakukannya dengan sangat baik." Namun, pernyataan Trump menandai perubahan sikap yang signifikan dari sebelumnya yang masih membuka peluang diplomasi.
Laporan dari NBC News, yang mengutip pejabat AS dan sumber yang mengetahui diskusi tersebut, menyebut bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya telah membahas kemungkinan melanjutkan operasi militer skala besar dalam beberapa pekan ke depan. Sementara itu, Axios melaporkan bahwa operasi tersebut dapat mencakup "pengeboman besar-besaran" terhadap target-target strategis Iran. Eskalasi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi hasil pemilihan sela (midterm) yang akan datang.
Di sisi lain, Iran membantah klaim Washington bahwa tidak ada pihak yang jelas memimpin Iran selama pembicaraan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuding AS justru menunjukkan "posisi yang kontradiktif dan pesan yang campur aduk." Pernyataan ini menambah kerumitan upaya diplomasi yang sudah rapuh.
Meskipun ketegangan militer meningkat, data dari Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak dari Timur Tengah telah pulih ke level mendekati prakonflik. Matt Wright, analis pengiriman utama di Kpler, menilai bahwa normalisasi tidak lagi perlu menunggu kesepakatan. "Normalisasi tidak lagi harus menunggu kesepakatan," ujarnya, seraya memperkirakan "normalisasi yang lebih lambat dan tidak merata" jika konflik berlanjut, dengan lalu lintas kapal yang pulih melalui adaptasi operasional alih-alih menunggu pemicu diplomatik.
"Saya pikir kesepakatan itu bukan sesuatu yang benar-benar ingin saya lakukan, tetapi mereka bersedia menawarkan apa pun untuk menghentikannya," kata Trump.
Bagi Indonesia, ketegangan di Timur Tengah memiliki implikasi langsung terhadap perekonomian domestik. Sebagai negara importir minyak, Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak mentah dapat mendorong kenaikan harga BBM bersubsidi dan non-subsidi, yang pada gilirannya meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak ini dengan memperkuat bantalan fiskal dan diversifikasi sumber energi.
Selain itu, eskalasi militer dapat mengganggu jalur pelayaran internasional, terutama Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi kapal tanker minyak. Gangguan pasokan global akan memukul negara-negara Asia, termasuk Indonesia, yang bergantung pada impor energi. Situasi ini juga dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Ke depan, apakah ketegangan ini akan berujung pada konflik terbuka atau justru mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan? Sementara itu, pasar energi global terus mencermati perkembangan, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan harga minyak yang lebih tinggi.



