Tradisi Jaring Lave di Sungai Severn Terancam Punah, Penangkapan Salmon Nol Sejak 2019
Baca dalam 60 detik
- Black Rock Lave Net Fishery di Monmouthshire, Wales, mencatat penurunan aktivitas hingga 80% sejak 2020 tanpa hasil tangkapan salmon selama enam tahun terakhir.
- Regulasi Natural Resources Wales dianggap memperparah tekanan terhadap metode tradisional yang telah berlangsung sejak abad ke-17.
- Kelangkaan generasi muda yang meneruskan keahlian mempercepat kepunahan praktik penangkapan ikan warisan leluhur ini.

Di perairan berlumpur Sungai Severn yang membelah Wales dan Inggris, sebuah metode penangkapan salmon berusia lebih dari empat abad kini berada di ambang kepunahan. Black Rock Lave Net Fishery, salah satu komunitas nelayan tradisional terakhir di kawasan Portskewett, Monmouthshire, melaporkan bahwa aktivitas mereka telah merosot 80% sejak 2020, dan tidak ada satu pun salmon yang berhasil ditangkap sejak 2019.
Martin Morgan, sekretaris perkumpulan yang didirikan kakek buyutnya lebih dari seabad lalu, mengungkapkan keprihatinan mendalam. Menurutnya, mereka tengah "mempertahankan perikanan kuno ini dan segala yang diwakilinya dengan ujung jari". Ia menilai bahwa regulasi yang diterapkan Natural Resources Wales (NRW) semakin menekan praktik yang sebenarnya berkelanjutan, dan dianggap salah sasaran.
Lave net sendiri merupakan perangkat penangkapan ikan yang unik: rangka kayu berbentuk huruf Y yang dapat dilipat, dengan jaring melengkung di antara dua lengan yang terbuat dari willow yang dipangkas. Nelayan menggunakan tongkat batu untuk meraba dasar saluran, lalu menurunkan jaring ke arus surut sambil merasakan getaran ikan yang terperangkap—mullet, flounder, atau salmon. Teknik ini telah menjadi bagian dari identitas budaya setempat sejak era kolonial awal.
"Kami tidak bisa melawan arus ini, kami hanya bisa bekerja sama," ujar Morgan, menggambarkan hubungan nelayan dengan pasang surut Bristol Channel yang memiliki rentang pasang tertinggi kedua di dunia.
Meski demikian, Morgan tidak menyalahkan sepenuhnya pada regulasi. Ia menekankan bahwa populasi salmon tidak akan pulih "sampai sungai-sungai kita menjadi tempat yang layak bagi ikan-ikan ini untuk berkembang biak". Pernyataan ini menyoroti akar masalah yang lebih dalam: degradasi habitat, pencemaran, dan perubahan iklim yang mengancam ekosistem perairan tawar.
Di sisi lain, NRW berargumen bahwa pembatasan diperlukan untuk melindungi stok salmon yang terus menurun. Namun, nelayan lave net merasa bahwa mereka bukan penyebab utama penurunan populasi, melainkan korban dari kebijakan yang tidak membedakan antara penangkapan skala besar dan praktik tradisional berskala kecil.
Ketika air surut, endapan lumpur di Severn kadang mengungkap putchers—kerucut anyaman dari hazel dan willow yang merupakan sisa-sisa metode penangkapan salmon masa lalu. Artefak ini menjadi pengingat bahwa tradisi ini pernah menjadi tulang punggung ekonomi lokal, sebelum akhirnya tergerus modernisasi dan perubahan lingkungan.
Kisah Black Rock Lave Net Fishery bukan sekadar tentang kehilangan mata pencaharian, tetapi juga tentang hilangnya pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun. Tanpa intervensi yang tepat, bukan tidak mungkin lave net hanya akan menjadi catatan sejarah di museum—sebuah akhir yang menyedihkan bagi warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.



