Rekor Hotspot Sumsel Tembus 3.762 Titik, Udara Palembang di Ambang Krisis Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Sumatera Selatan mencatat 3.762 titik panas dalam sehari, tertinggi sepanjang 2026, dengan OKI sebagai penyumbang terbesar.
- Konsentrasi PM2.5 di Palembang melonjak hingga 781 µg/m³, memaksa warga waspada dan membatasi aktivitas luar ruangan.
- Akumulasi hotspot awal Oktober yang mencapai 15.775 titik menandakan potensi karhutla masih tinggi dan perlu intervensi darurat.

Jumlah titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan melonjak ke rekor tertinggi harian sepanjang 2026, mencapai 3.762 titik pada 6 Oktober. Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 2.197 titik, disusul Musi Banyuasin (860), Banyuasin (294), dan Muara Enim (190). Lonjakan ini memicu kekhawatiran serius karena sebagian besar titik terdeteksi di lahan gambut—ekosistem yang rentan dan sulit dipadamkan.
Kepala Bidang Penanggulangan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa rekor sebelumnya hanya 3.059 titik pada 1 Oktober. "Kemarin total hotspot 3.762 titik, tertinggi sepanjang tahun ini," ujarnya, Rabu (7/10). Ia menambahkan, dari angka tersebut, 2.805 titik berada di lahan gambut dan 957 di lahan mineral. Dominasi gambut menjadi alarm karena api di bawah permukaan dapat bertahan lama dan menghasilkan asap tebal dalam waktu panjang.
Dampak langsung terasa pada kualitas udara Palembang. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, melaporkan bahwa konsentrasi partikulat halus (PM2.5) menembus level bahaya sejak dini hari. Di Stasiun Talang Betutu, angka tertinggi mencapai 781 µg/m³ pada pukul 02.00 WIB, jauh di atas ambang batas aman. "Status berbahaya meningkat sejak pukul 00.00 WIB, dan terus naik," jelasnya. Hingga pukul 07.00 WIB, PM2.5 masih tercatat 388,4 µg/m³. Sementara di Stasiun Musi 2, puncaknya 564,2 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.
Asap pekat tidak hanya mengganggu jarak pandang tetapi juga memicu keluhan kesehatan seperti mata perih dan sesak napas. Warga Palembang diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama kelompok rentan: anak-anak, lansia, dan individu dengan kondisi pernapasan sensitif. "Gunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus, dan hindari aktivitas fisik berat di luar," pesan Wandayantolis. Ia memastikan arah asap masih berasal dari titik-titik karhutla di OKI dan sekitarnya.
"Tingginya hotspot menunjukkan potensi karhutla di Sumsel masih sangat besar. Ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi ancaman kesehatan publik yang nyata." — Sudirman, BPBD Sumsel
Akumulasi hotspot sepanjang 1–6 Oktober mencapai 15.775 titik, hampir setengah dari total September yang sebanyak 32.789 titik. Artinya, dalam enam hari pertama Oktober, intensitas karhutla sudah mendekati separuh beban sebulan sebelumnya. Pola ini mengindikasikan bahwa musim kemarau tahun ini lebih ekstrem, diperparah oleh fenomena El Nino yang memperpanjang periode kering. Lahan gambut yang terbakar melepaskan karbon dalam jumlah besar, menjadikan Sumsel salah satu penyumbang emisi nasional sekaligus memperburuk krisis iklim.
Dari perspektif kebijakan, lonjakan hotspot yang berulang setiap tahun menuntut evaluasi menyeluruh terhadap strategi pencegahan karhutla. Penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar masih lemah, sementara upaya restorasi gambut belum menunjukkan hasil signifikan. Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat sistem deteksi dini, mempercepat respons pemadaman, serta melibatkan masyarakat dalam pengelolaan lahan tanpa api. Tanpa langkah konkret, siklus bencana asap akan terus berulang dan mengancam kesehatan jutaan warga.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah karhutla akan meluas, melainkan seberapa cepat intervensi dilakukan sebelum kualitas udara di Palembang dan sekitarnya mencapai titik tidak layak huni. Jika rekor hotspot terus dipecahkan, krisis asap tahun ini berpotensi menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir—sebuah ujian bagi komitmen Indonesia dalam mengendalikan bencana lingkungan.



